Karena Ini, Wasiman Dianggap Aneh Rekan-Rekannya di Unika Soegijapranata Semarang
Senin, 30 April 2018 | 7:37 WIB

Karena Ini, Wasiman Dianggap Aneh Rekan-Rekannya di Unika Soegijapranata Semarang

ADA pemandangan unik serta mungkin jarang dijumpai, dalam pelaksanaan Wisuda Periode I Tahun 2018 Unika Soegijapranata Semarang, ada seorang lulusan mengenakan pakaian ala bhante (bhikkhu).

Dia bernama Wasiman, lulusan Program Studi (Prodi) S1 Psikologi Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang.

Dan diamini para panitia, lulusan tersebut dalam kesehariannya memang seorang rohaniawan Buddha di Vihara Tanah Putih Kota Semarang.

Dan dalam upacara wisuda tersebut, dia adalah satu dari sekitar 532 lulusan yang diwisuda. Dia dinyatakan lulus pada 18 Oktober 2017, ber IPK 3,41. Adapun judul skripsinya adalah Fenomena Stres dan Koping Stres pada Narapidana Perempuan Kasus Narkoba di Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Semarang.

Di sela prosesi wisuda yang dilaksanakan di Ruang Auditorium Lantai III Gedung Albertus, Unika Soegijapranata Kampus Jalan Pawiyatan Luhur IV Nomor 1 Bendan Dhuwur Kota Semarang itu, dia pun berkisah kepada Tribunjateng.com, Sabtu (28/4/2018).

Pria kelahiran Semarang 28 Agustus 1982 itu, tidak menampik jika ada sebagian orang (masyarakat) terheran-heran. Itupun dialaminya di kala awal masuk menjadi mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang.

“Tidak sedikit di antara rekan-rekan satu angkatan mengganggap saya aneh. Khususnya dari sisi penampilan. Namun bukan lantas saya marah atau bagaimana. Itu tidak saya persoalkan,” jelasnya.

Wasiman secara berlahan pun mencoba untuk memberikan pemahaman. Bahkan dari seringnya berkumpul, berdiskusi, maupun bertegur sapa, akhirnya lambat laun bisa berakrab diri.

“Sebagai awalan saat saya masuk ke sini –Unika Soegijapranata—memang ada kendala dan itu adalah hal wajar. Saya pahami itu. Bahkan secara pribadi ketika itu, saya belum terlalu yakin,” ucapnya.

Warga Getasan Kabupaten Semarang itu menilai, meskipun Unika Soegijapranata adalah kampus yang didirikan tokoh katolik, ternyata tak memandang hal itu semua, baik soal agama, suku, maupun ras.

“Tidak salah saya memilih kampus ini untuk menimba ilmu. Unika Soegijapranata ternyata sangat terbuka tidak memandang di luar itu semua. Dan dari keterbukaan itulah yang membuat saya semakin percaya diri,” tandasnya.

Menurutnya, dasar awal dia memilih Unika karena didasarkan berbagai informasi. Kualitas pembelajaran dinilai bagus, terutama dalam hal psikologi yang memang telah dicita-citakannya.

Wasiman, seorang bhante atau bhikku Vihara Tanah Putih Kota Semarang mengikuti prosesi Wisuda Periode I Tahun 2018 Unika Soegijapranata Semarang, Sabtu (2/4/2018).

“Dari informasi itulah, saya memutuskan serta memantapkan diri untuk melanjutkan studi di kampus ini. Dan ada banyak manfaat yang saya peroleh dan teryakinkan jika saya tidak salah pilih kampus. Ilmu kemanusiaan telah saya peroleh,” bebernya.

Ilmu itu, terang alumni SMA PGRI Salatiga, memang dibutuhkannya karena dirinya ke depan sebagai pelengkap aktivitas kesehariannya sebagai pelayan, khususnya di Vihara Tanah Putih Jalan Dr Wahidin Nomor 6 Candisari Kota Semarang.

“Saya butuh ilmu tersebut dan akan saya terapkan dalam berbagai aktivitas keseharian. Dari ilmu psikologi yang telah saya peroleh, akan semakin mempermudah saya dalam menghadapi berbagai karakter orang,” ucap Wasiman.

Bahkan, tambahnya, dia pun sedang merencanakan diri untuk kembali memperdalam, memperkaya ilmu psikologi itu. Dia ingin kembali melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

“Seperti kalau hanya lulus sarjana itu nanggung. Saya ingin lanjut ke program magister dan tentunya di sini –Unika Soegijapranata Semarang—lagi. Bagi saya, Unika sudah menjadi rumah kedua saya,” tukasnya.

Rektor Unika Soegijapranata Semarang Prof Dr Ridwan Sanjaya secara umum bahkan senantiasa disampaikannya, kampus yang dipimpinnya saat ini adalah kampus terbuka.

“Nilai toleransi menjadi hal utama dan dibuktikan dalam penerapan sehari-hari. Kami ingin senantiasa pula membuktikan itu, jika persatuan dan kesatuan adalah nomor satu. Di sini lengkap, kami miliki dari sabang sampai merauke,” bebernya.

Dan menurutnya, semua itu sudah cukup jelas tergambarkan pada lambang Unika Soegijapranata. Sebuah perguruan tinggi yang menjunjung nilai-nilai Pancasila. Itu terlambangkan pada bidang dasar berbentuk lima puncak logo Unika Soegijapranata Semarang.

Samudera biru

Terkait Wisuda Periode I Tahun 2018, Prof Ridwan pun kembali menegaskan tentang disruptive innovation, industri 4.0. Baginya itu adalah bagian tantangan. Di dunia pendidikan tinggi selalu diingatkan adanya perubahan radikal yang dapat sewaktu-waktu mengubah peta persaingan di berbagai bidang.

“Yang juga berdampak pada eksistensi lulusan perguruan tinggi. Hal itu sesuai dengan konsep Samudera Biru (Blue Ocean). Dimana penciptaan pasar baru akan membuat persaingan menjadi tidak relevan dengan saat ini,” katanya.

TRB 29_4_2018 Awalnya dianggap aneh rekan seangkatan

http://jateng.tribunnews.com, http://jateng.tribunnews.com, Tribun Jateng 29 April 2018 hal 1

Kategori: ,