Digital Economy dan Pusaran Disrupsi
Selasa, 24 April 2018 | 10:32 WIB

Digital Economy dan Pusaran Disrupsi

Oleh : MG Westri Kekalih Susilowati *)

Tata ekonomi telah bergeser menuju pada tata ekonomi baru yang disebut dengan digital economy, yaitu tata ekonomi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, sehingga disebut juga dengan knowledge economy. Digital Economy telah menjadi terminologi yang sangat populer. Namun demikian, apa sebenarnya yang menjadi perbedaan mendasar antara tata ekonomi lama dengan perekonomian baru (digital economy )? Jawabannya adalah “Teknologi”

Perbedaan antara tata ekonomi lama dengan digital economy dapat diilustrasikan sebagai berikut: Komputer yang dalam tata ekonomi lama hanya berfungsi sebagai semacam alat hitung atau alat untuk mengelola informasi sekarang berkembang menjadi alat komunikasi yang sangat canggih atau menjadi multimedia yang interaktif selanjutnya memunculkan information highway seperti internet. Melalui media tersebut tiga kegiatan pokok yaitu computing, communication dan content berada dalam satu sistem yaitu multimedia. Kondisi ini mendorong adanya revolusi khususnya revolusi informasi yang mengarahkan perekonomian pada suatu jaringan intelegensi dan selanjutnya mendorong lahirnya perekonomian baru, politik baru, dan masyarakat baru. Dunia bisnis, pemerintahan dan individu berubah mengalami perubahan perilaku yang luar biasa.

Keberhasilan dalam tata ekonomi baru menuntut proses bisnis baru, usaha/bisnis baru, industri baru dan pelanggan baru. Business process reenginering saja tidak cukup untuk bersaing dalam tata ekonomi baru karena dunia, perekonomian dan semua aturan berubah. Don Tapscott (1997)  memaparkan 12 ciri mendasar yang membedakan tata ekonomi lama dengan tata ekonomi baru yaitu, perekonomian baru adalah knowlegde economy, digital economy”, informasi bergeser dari analog menjadi digital, moleculear economy (didasarkan pada individu), perekonomian baru adalah suatu jaringan untuk meningkatkan kemakmuran, antara produsen dan konsumen tidak memerlukan perantara (semua dapat dilakukan melaui jaringan digital), sektor yang dominan adalah sektor media baru (industri yang mempertemukan komputasi, komunikasi dan content). Perekonomian didasarkan pada inovasi, tidak ada gap antara konsumen dengan produsen, kesiapan merupakan kunci keberhasilan dalam bisnis, perekonomian global, serta adanya potensi timbulnya trauma dan konflik. Penggunaan teknologi informasi adalah untuk peningkatan produktifitas dan efektifitas organisasi. Persoalannya adalah apakah teknologi yang baru menjanjikan hal tersebut. Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa perekonomian menjadi digital economy.

Digital economy dengan kemajuan teknologi yang cepat mengarahkan kehidupan pada era baru yaitu era disrupsi. Dalam era disrupsi, cara kita berinteraksi dan berbagai kegiatan ekonomi (produksi, distribusi dan konsumsi) serta bagaimana seseorang bekerja, terus-menerus diubah oleh teknologi baru.

Ekonomi digital dan internet telah mengubah cara kita mengkonsumsi, cara kita bekerja, bahkan mengubah kebutuhan pasar tenaga kerja. Menurut OECD, terdapat 65 persen anak-anak saat ini akan memiliki pekerjaan yang saat ini belum terdefinisikan, seperti halnya macam-macam pekerjaan saat ini yang sepuluh tahun yang lalu belum terbayangkan seperti gojek dengan go food, go life, go clean dan lain sebagainya. Artinya, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk memasuki pasar tenaga kerja akan sangat berbeda dari yang disediakan oleh model pendidikan saat ini. Oleh karena itu, pendekatan baru dalam hal pendidikan dan pelatihan dan kompetensi perlu dikembangkan untuk menjadi lebih fleksibel, sehingga memungkinkan terintegrasinya siswa dalam lingkungan yang “sangat” teknologi.

Dalam era disruptif, belajar merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari, dimana baik perusahaan maupun individu atau siapapun tanpa disadari merasa harus ikut ambil bagian dalam proses ini agar menjadi lebih efektif. Dalam perekonomian digital yang didasarkan pada bekerjanya ilmu pengetahuan dan inovasi, ada titik temu antara bekerja dan belajar. Ketika anda bekerja berarti anda belajar. Maka tidak mustahil jika suatu saat nanti proses belajar bergeser menjauh dari pendidikan formal dan universitas.

Dalam ekonomi baru, pendapat bahwa bekerja untuk hidup dan konsep mengenai karir berkurang. Selain itu tak ada sesuatupun yang tidak menyatu dengan teknologi dapat meningkatkan kualitas hidup. Namun perlu dicatat bahwa digital economy adalah suatu era jaringan intelegensi dan informasi dengan teknologi yang serba canggih. Dalam era tersebut banyak kegiatan yang terpisah baik oleh jarak dan waktu dapat dikendalikan dalam dengan satu tekonogi yaitu jaringan internet (internetworked). Namun demikian dibalik semua fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan tersebut tetap harus diperhatikan adanya tanggung jawab baru dengan tuntutan baru yang mungkin lebih berat dari sebelumnya. Hanya mereka yang siap akan mampu bertahan di dalam era tersebut.

Oleh karena itu, pada era disruptif, pemerintah sebagai agen pembangunan bersama dengan semua unsur atau para  pemangku kepentingan, perlu bekerjasama untuk menyusun strategi dan memfasilitasi transisi, terutama terkait dengan masalah sumber daya manusia. Bagaimana pemerintah dengan para pemangku kepentingan menyiapkan sumber daya manusia untuk bersahabat dengan pertumbuhan berbasis pengetahuan, dan inovatif menjadi hal yang sangat penting. Mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu berdaptasi adalah hal yang mutlak. Tetap optimis dalam era disruptif, dengan catatan mau dan mampu beradaptasi sebab you may lose your job but not your work. (*)

——————-
*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata

https://radarsemarang.com

Kategori: ,