CIPTAKAN PROGRAM PREDIKSI SAHAM
Rabu, 25 April 2018 | 13:15 WIB

“Kalau saya itu masuknya mahasiswa kupu – kupu (kuliah – pulang). Saya orang yang lebih suka langsung pulang setelah selesai kelas, karena kan kadang masih ada tugas atau yang lainnya. Tapi juga gak melulu, kalau yang seperti itu kita sebut anak – anak nerd, yang kerjaannya belajar. Nggak, siapa bilang belajar, kalau di rumah itu saya main, kalau sore pun pasti dolan. Jadi saya memang bukan aktif di dalam kampus, tapi lebih di luar kampus. Saya belajar hanya kalau akan ada ujian,” Jelas Doohan ketika ditanya perihal stigma “kupu – kupu” atau “kura – kura” yang kerap disematkan pada diri para mahasiswa berprestasi. Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Ikom) Prodi Teknik Informatika angkatan 2014 ini termasuk dalam salah satu wisudawan terbaik pada periode pertama tahun ini.

Pria kelahiran Semarang, 21 Juni 1995 ini memang sudah menyukai kegiatan bermain komputer sejak kecil. “Dari dulu aku sudah suka main komputer, dan sesusah apapun kesulitan yang aku hadapi saat main komputer, aku tetap bisa menikmatinya, jadinya ya aku masuk ke Ikom”, tukasnya. Doohan yang merupakan alumni SMA Sint Louis Semarang telah berhasil lulus dengan IPK 3.96.

Pada proyek akhirnya berjudul “COMPARISON OF STOCK PRICE PREDICTION ACCURACY WITH VARIATION NUMBER OF HIDDEN LAYER CELL IN BACKPROPAGATION ALGORITHM”,  Doohan membuat sebuah program yang bertujuan untuk menciptakan kecerdasan buatan (AI) yang mampu memprediksi pergerakan saham dengan menggunakan data dari waktu – waktu yang sudah lewat (lampau). “Awalnya karena dulu pas aku coba – coba main saham selalu habis dan kalah terus, karena benar – benar belum tahu apa – apa. Selain itu, aku juga tertarik pada BOT (Build Operate and Transfer) yang sering dibeli oleh orang – orang yang biasa main saham untuk dipakai sebagai alat prediksi pergerakan saham yang ternyata tidak semuanya bisa memprediksi dengan tepat atau kurang efektif. Nah karena rasa penasaranku ini akhirnya aku kepikiran untuk membuat proyek ini”, terang Doohan. Pada intinya proyek ini lebih berfungsi untuk menguji apakah si AI ini benar – benar bisa memperbaiki hasilnya atau tidak, dan orientasinya bukan pada hasil akhir, tetapi lebih pada memberikan prediksi dan opsi yang paling tepat. Kerja keras Doohan pun terbayar lunas, AI yang ia ciptakan berhasil menembus keakuratan prediksi sebesar 95 %.

Setelah berbincang mengenai proyek akhir dan kecintaannya pada komputer, kami bergeser topik menuju pengalaman pribadinya selama menempuh pendidikan di Unika. 3.5 tahun adalah waktu yang singkat apabila dilihat dari kacamata pendidikan tinggi, namun 3.5 tahun tentu memiliki sisi lain yang selalu tersimpan di benak Doohan.  “Salah satu pengalaman menarik yang tidak bisa aku lupakan ada di kegiatan KKU kemarin. Kenyataan di lapangan dan yang ada di bayanganku benar – benar berbeda jauh, dan hal itu sempat membuat aku down. Aku baru tahu kalau ternyata di KKU kita akan dipertemukan dengan teman – teman yang berasal dari berbagai fakultas dan harus berdinamika bersama untuk mendampingi sebuah tempat usaha. Kemarin kami berkesempatan untuk mendampingi sebuah usaha mikro yang berlokasi di pelabuhan. Lokasi yang menurutku jauh dan kami harus bolak – balik selama 14 kali. Tetapi dari semua proses itu semua, ada beberapa pelajaran yang aku ambil. Pertama, ternyata kehidupanku gak seburuk yang aku pikirkan, kita terlalu sering melihat ke atas dan sering lupa bahwa masih banyak saudara – saudara lain yang hidupnya kurang seberuntung kita tapi masih bisa bersyukur. Sedangkan kita yang masih punya orang tua, masih bisa kuliah masih belum bisa bersyukur,” tutup Doohan.

Saat ini Doohan sudah menjadi pengajar di Kolose Loyola Semarang. Salah satu pengalaman yang membuatnya ingin menjadi pengajar adalah ketika ia sempat menjadi asisten dosen. Waktu itu ia menyadari satu hal, bahwa ternyata menjadi pengajar itu lebih sulit ketimbang belajar mandiri. (SAK)

Kategori: ,