Seni untuk Perdamaian, Mengapa Tidak?
Senin, 26 Maret 2018 | 9:35 WIB

SM 24_03_2018 Seni untuk Perdamaian, mengapa tidak

Bisakah seni digunakan untuk menumbuhkan perdamaian? Pameran seni rupa bertajuk “Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita” di Pastoran Unika Soegijapranata (21/3) bisa menjawab pertanyaan itu. Lewat 100 lukisan, para perupa mencoba meyakinkan publik betapa hidup dalam kerukunan lebih baik ketimbang dicederai oleh pertengkaran. Lukisan-lukisan itu, dalam pemahaman Uskup Agung Semarang MGR Robertus Rubiyatmoko, juga menggambarkan srawung dan hidup bersama adalah tuntutan yang tidak bisa ditawar.

Mungkin sebagian besar dari kita menganggap kesenian hanyalah hiburan yang tak akan mampu menggerakkan orang untuk menciptakan perdamaian. Pendapat semacam itu jelas keliru. Kesenian, lebih-lebih yang memang dikonsepkan untuk membangkitkan gairah untuk hidup dalam kerukunan dan perdamaian, tentu tak lagi sekadar sebagai tontonan. Kesenian semacam itu telah berubah dari pertunjukan menjadi tontonan sekaligus tuntunan. Seni, dengan demikian, berpotensi mengubah moral.

Mungkin sebagian dari kita juga menganggap coret-coret di kertas tak akan mungkin mengetuk hati siapa pun untuk bertindak lebih rukun. Betul. Itu jika seni dikonsepkan untuk seni. Akan tetapi jika seni coret-coret itu sengaja dipresentasikan sebagai seni untuk masyarakat, bisa dipastikan akan memiliki nilai guna tinggi. Bahkan seni coret-coret di dinding-dinding jembatan atau mural akan sangat berguna jika memang dikonsepkan sebagai seni pembangkit jiwa.

Pemilik Museum OHD, Oei Hong Djien, malah menyatakan kesenian mempermudah berkomunikasi dengan Yang Mahakuasa. Pendapat ini semakin membuktikan kesenian memang menebarkan kasih sayang kepada sesama dan Tuhan. Tidak mungkin berkomunikasi dengan Tuhan menggunakan kata-kata kasar bukan? Tidak mungkin berkomunikasi dengan Tuhan dengan menunjukkan perilaku penistaan kepada orang lain bukan? Jadi, seni itu memang sejuk dan mendamaikan.

Lewat lukisan-lukisan yang digelar, antara lain bagaimana menghindari perang, perupa juga mencoba merawat perdamaian. Simbol-simbol semacam burung merpati dimunculkan agar penonton memiliki hasrat yang sama untuk menciptakan perdamaian. Nilai-nilai keadilan dan semangat antikekerasan juga menjadi warna utama pameran sehingga penonton tergerak untuk tak mudah menyulut pertengkaran kepada sesama. Jadi bisa disimpulkan, seni rupa memang sangat mungkin didayagunakan untuk mempromosikan keindahan perdamaian.

Hanya, karena upaya mencerai-berai masyarakat juga kerap terjadi, ada baiknya pameran-pameran seni rupa yang mengusung suara-suara perdamaian dilaksanakan dengan intensitas yang tinggi pula. Jangan sampai pameran-pameran yang indah dan menimbulkan semangat untuk srawung dan rukun ini gampang terhapus oleh tindakan-tindakan masyarakat yang lebih menyukai pertengkaran atau perselisihan. Kita agaknya memang harus lebih sering menyentuh hati publik dengan seni perdamaian.

►Suara Merdeka 24 Maret 2018, Wacana hal. 4, http://www.suaramerdeka.com

Kategori: ,