Revolusi Digital Ancam Perguruan Tinggi Indonesia
Selasa, 13 Maret 2018 | 22:44 WIB

Rhenald Kasali - Revolusi Digital Ancam Perguruan Tinggi Indonesia

SOLO, KOMPAS — Revolusi digital telah terjadi sekaligus juga berevolusi. Perubahannya sangat cepat dan terjadi terus-menerus. Kondisi ini apabila tidak diantisipasi akan mengancam perguruan-perguruan tinggi di Indonesia yang tidak mau segera beradaptasi dan berinovasi.

”Banyak yang masih bingung tidak tahu harus bagaimana?” kata Rhenald Kasali dalam Acara Refleksi Karya Universitas Katolik Soegijapranata Semarang yang diselenggarakan di Hotel Lor In Solo, Jawa Tengah, Rabu (21/2).

Lokakarya itu mengambil tema ”Inovasi Disrupsi dalam Transformasi Inspiratif”. Pembicara lain adalah Ayu Kartika, Manajer SDM Kompas. Diskusi dipandu Rektor Unika Soegijapranata Semarang 2009-2017 Budi Widianarko.

Bermunculannya layanan pendidikan berstandar internasional yang mudah diakses di internet dan bersifat gratis akan mendisrupsi banyak perguruan tinggi di Indonesia.

Layanan pendidikan di dunia maya itu disampaikan para profesor berkelas dunia dan disajikan dengan metode yang menarik. Sementara itu, banyak pengajar di Indonesia masih mengajar dengan metode lama dan tidak menarik.

“Banyak pengajar masih mengajar dengan metode lama.”

Nama program studi di kampus-kampus pun masih sama seperti  pada era lima, bahkan 10 tahun lalu. Padahal, sudah banyak perubahan yang terjadi di dunia ini.

Banyak perguruan tinggi juga hanya menekankan pengajaran pada aspek kognisi. Padahal, yang diperlukan pada era ini juga kepiawaian dan kecepatan pengambilan keputusan, nyali, dan juga intuisi.

“Celakanya di perguruan tinggi kita hanya mengajarkan pengetahuan.”

Pengorganisasian kampus pun sudah banyak berubah. Kampus-kampus kelas dunia sudah memiliki dua rektor. Satu rektor untuk pengembangan akademik dan internal. Satu rektor lagi untuk pencarian dana agar kampus berkembang mandiri.

”Kita ini bisa kehilangan pekerjaan,” kata Renald mengingatkan pada sekitar 300 sivitas akademika Unika yang hadir akibat tidak bisa bersaing dengan universitas kelas dunia.

Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tahun 2017, ada 4.529 perguruan tinggi di Indonesia. Namun, komposisi dan mutunya belum sesuai kondisi dan kebutuhan untuk mendongkrak daya saing bangsa.

Perangkap

Diskusi dipandu Rektor Unika Soegijapranata Semarang 2009-2017 Budi Widianarko.

Mengantisipasi kondisi ini, Unika Soegijapranata mekakukan sejumlah antisipasi. Menurut Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Semarang (2017-2021) Ridwan Sanjaya, antisipasi itu sudah mulai dilakukan sejak 2016 pada masa rektor sebelumnya dan terus diupayakan hingga saat ini.

Program-program studi baru pun, menurut Wakil Rektor Benny D Setianto, sudah diadakan untuk menjawab kebutuhan zaman. Contoh, adanya program S-1 Game Technology, E commerce, Mobile Computing di Fakultas Ilmu Komputer; atau program S-1 Digital Performing Arts di Fakultas Bahasa dan Seni.

Namun, Rhenald juga mengingatkan adanya enam perangkap yang biasanya membuat kita gagal dalam melakukan perubahan.

Enam perangkap itu adalah:

•The complacency trap (kepuasan)
The competency trap (kompetensi)
The cannibalization trap (kanibalisasi)
The sunk cost trap (pembiayaan)
The blame trape (menyalahkan)
The confirmation trap (pembenaran)

Menghadapi kondisi saat ini, semua harus mau berubah dan tidak kaku, tapi lentur menghadapi situasi. ”Kaku itu berarti sudah mati,” tegasnya.

“Kaku berarti sudah mati.”

Untuk mengatasi kondisi saat ini, juga perlu kerja sama antara generasi tua dan muda. Orang tua itu kaya masa lalu, tapi miskin masa depan. Sementara anak muda miskin masa lalu, tapi kaya masa depan.

Menurut Budi Widianarko, tantangan besar dari perguruan tinggi adalah populasi sivitas akademika yang sebagian besar dihuni oleh usia di atas 50 tahun. ”Hanya 10 persen yang di bawah 35 tahun,” ujar Budi setelah meminta semua peserta yang masih muda untuk tunjuk jari.

Romo Aloysius Budi Purnomo Pr mengharapkan meskipun terjadi perubahan teknologi sedemikian cepat, itu semua juga harus didedikasikan untuk kasih dan kemanusiaan, bukan kepentingan ekonomi semata dan ini menjadi pekerjaan rumah bersama. ”Kita harus kembali ke situ,” ujarnya.

Moto Unika Soegijapranata adalah Talenta pro patria et humanitate (Talenta terbaik dipersembahkan untuk Tanah Air dan kemanusiaan).

Rhenald pun sepandangan. ”Teknologi tidak menggantikan cinta, kata Rhenald.

[https://kompas.id]


Free akses portal berita berbayar Kompas.id kepada komuitas akademika Unika Soegijapranata melalui akses WIFI kampus.
Daftar sekarang dan dapatkan bebas akses seumur hidup ke menu bebas akses.

Klik Daftar

Kompas.id

Kategori: