Prodi Arsitektur Bahas Green Design Dalam Seminarnya
Jumat, 16 Maret 2018 | 14:54 WIB

Program Studi Arsitektur – Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata bekerjasama dengan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Jawa Tengah menyelenggarakan Seminar Green Design yang diadakan pada hari Kamis (15/3) bertempat di Ruang Teater, Gedung Thomas Aquinas lantai 3 Unika Soegijapranata.

Dalam seminar yang merupakan rangkaian acara dari BOS EE (Best Of Studio External Examination) ini, menghadirkan 3 narasumber yang berasal dari kalangan akademisi, praktisi, dan alumni antara lain Paulus Mintarga sebagai Pemilik Studio Rempah Rumah Karya; Dr. Arif Kusumawanto, MT sebagai dosen arsitektur Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta; dan Kristoporus Pamelaka sebagai alumni Arsitektur Unika Soegijapranata sekaligus arsitek Studio Akanoma.

Seminar yang dihadiri oleh sekitar 250 peserta tersebut diadakan tiap tahun di bulan Maret untuk dipilih 3 karya terbaik mahasiswa dari tugas mata kuliah Perancangan Arsitektur. Setelah seminar, diadakan External Examination yang mendatangkan praktisi dari luar Unika Soegijapranata untuk memberikan penilaian bagi karya mahasiswa yang telah lulus dari tugas akhir.

“Tujuan diadakannya External Examination agar karya mahasiswa tersebut tidak hanya diakui di lingkup internal Unika tapi juga pakar dari luar Unika Soegijapranata. Dari adanya External Examination, kami juga mengharapkan ada feedback dari pihak luar” tutur Maria Damiana Nestri Kiswari, ST, MSc selaku Ketua Program Studi Arsitektur Unika.

“Mengenai Green Architecture, kami melihat ada hal yang mendesak untuk segera melihat kesana karena jumlah manusia yang banyak yang dibarengi dengan permasalahan degradasi lingkungan. Di sini, peran arsitek sebagai penata lingkungan sangat perlu untuk melihat tentang Green Design. Green Design sudah bukan lagi trend akan tetapi sudah wajib diterapkan. Hal ini tampak dari mulai adanya sertifikasi mengenai Green Design, pelatihan, bahkan Green Design saat ini telah masuk dalam kebijakan-kebijakan,” lanjut Damiana Nestri.

Peraturan Walikota

Dalam paparannya, Sugiarto,IAI sebagai Ketua Umum IAI-Jawa Tengah mengungkapkan, “Green Architecture sejatinya saat ini tengah digalakkan dalam semua lini arsitektur dunia. Berbicara mengenai Kota Semarang, saat ini kami IAI Jawa Tengah sedang mengawal Peraturan Walikota tentang Green Architecture di Kota Semarang. Kebetulan kami juga mendapat dukungan dari Bank Dunia sehingga beberapa waktu yang lalu telah diadakan penandantangan MoU antara Pemerintah Kota Semarang, Pemprov Jawa Tengah, dan IFC (International Finance Corporation) Bank Dunia untuk Peraturan Walikota Green Architecture di Kota Semarang. Sebelumnya IFC juga telah mengawal Green Architecture di 2 kota antara lain Jakarta dan Bandung. Mulai tahun ini, di Kota Semarang sudah mulai diadakan peraturan yang menyangkut visi Green Architecture bagi bangunan baru. Apabila diimplementasikan, manfaat Green Architecture yang paling terasa adalah hemat energi.”

Sedangkan Dr. Arif Kusumawanto, MT yang mewakili akademisi dalam memotret implementasi Green Architecture menegaskan bahwa dalam pembangunan gedung baru penerapan standar Bangunan Gedung Hijau (Green Architecture) sudah harus dilakukan. Ia pun mengambil salah satu contohnya di Yogyakarta, telah terdapat peraturan daerah yang mengatur Green Architecture. Di Yogyakarta, untuk mendapatkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) sudah harus lolos sesuai aturan Green Architecture.

Dalam penjelasannya, seluruh penelitian saat ini Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada tengah diarahkan pada smart and green. Dimana, Arif bersama para praktisi Teknik UGM mencoba mengusung penelitian tentang bagaimana pembangunan yang berkelanjutan dengan misi merusak alam seminimal mungkin tapi memberi kesejahteraan yang sebanyak mungkin dapat tercapai, karena Arif pun menyadari tidak ada pembangunan yang tidak merusak lingkungan, namun apabila bisa diminiminalkan resiko kerusakan lingkungannya maka akan memberi dampak pada keberlanjutan alam sekitarnya. (Cal)

Kategori: ,