Pentas Seni untuk Perdamaian Palestina
Selasa, 20 Maret 2018 | 12:38 WIB

Pamerkan 100 Lukisan dari 48 Perupa

Romo Aloys Budi Purnomo Pr bersama Ketua Panitia Pameran, MA Sutikno (kiri) dan pelukis, Basuki (kanan) menjelaskan konsep pentas seni bertajuk ‘’Perdamaian Palestina Kerukunan Kita’’di kompleks Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata, Gg Kampung Asri, Jl Pawiyatan Luhur IV-1, Bendan Duwur, Senin (19/3)

Romo Aloys Budi Purnomo Pr bersama Ketua Panitia Pameran, MA Sutikno (kiri) dan pelukis, Basuki (kanan) menjelaskan konsep pentas seni bertajuk ‘’Perdamaian Palestina Kerukunan Kita’’di kompleks Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata, Gg Kampung Asri, Jl Pawiyatan Luhur IV-1, Bendan Duwur, Senin (19/3)

GAJAHMUNGKUR– Pentas seni bertajuk ”Perdamaian Palestina Kerukunan Kita” akan digelar di kompleks Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata, Gg Kampung Asri, Jl Pawiyatan Luhur IV-1, Bendan Duwur, selama lima hari, Rabu-Minggu (21-25/3).

Romo Aloys Budi Purnomo Pr sebagai penanggung jawab acara akan tampil dan memajang karya lukisannya. ”Sementara ada 100 lukisan dari 48 perupa. Masih ada karya yang baru kami terima,” kata Romo Budi, Senin (19/3).

Lukisan datang dari perupa di berbagai daerah, seperti Semarang, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Magelang, Yogyakarta, Ungaran, Ambarawa, Surakarta, Boyolali, Probolinggo, dan lainnya. Para perupa setelah mendapat informasi, membuat karya sesuai tema. Mereka berkoordinasi dengan Sanggar Seni Tosan Aji Gedongsongo Ungaran dan Omah Seni Mbah Semar Ambawara. Lukisannya beragam, mulai dari cat minyak, akrilik, hingga kopi. Sebanyak 30 sketser dari Komunitas arsiSKETur Semarang turut menyemarakkan. Mereka akan membuat instalasi berjudul ”Membangun Perdamaian dan Kerukunan”. ”Lukisan akan dipajang di lantai satu dan dua. Kami akan bangun teratak di depan gedung untuk berkegiatan, di lantai dua bagian luar ruangan ada panggung untuk pentas. Tempat ini memang sempit, tidak layak untuk pameran lukisan. Tetapi dari tempat sempit ini, ada perdamaian dan kerukunan,” ungkapnya. Selama lima hari, digelar pentas seni yang diikuti bermacam komunitas, di antaranya pembacaan puisi, tari sufi, Drumband Smart Marching St Theresia Mardi Rahayu Ungaran, diskusi, pentas Teater Tahu FHK Unika Soegijapranata, dan kesenian Nadrak. ”Semarak seni dan budaya dalam bingkai multikultur. Kesenian Nadrak itu, seni tradisional yang nyaris punah dari Kabupaten Semarang bercorak Islami. Adapula samrohan PMII Gus Dur dari UIN Walisongo. Pameran Lukisan akan menjadi lebih hidup dengan warna-warni seni budaya yang beragam,” bebernya.

Dikeroyok

Salah satu lukisan Romo Budi yang ditampilkan berjudul ”Golgota Pindah Bethlehem”. Lukisan tersebut adalah hasil perenungan Romo Budi. ”Perenungannya lama, membuatnya beberapa jam saja. Saya gambarkan Palestina dikeroyok, hendak disikat, Merah Putih menjadi penopangnya,” ucapnya.

Ketua Panitia Pameran, MA Sutikno mengatakan, acara dilangsungkan untuk menyikapi perdamaian dunia. Pelukis dan pematung yang juga bergiat di Paguyuban Tosan Aji Gedongsongo ini berharap, ide tidak berhenti di acara tersebut.

Dia menjelaskan, acara itu didukung Donny Danardono sebagai kurator, Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya MSIEC, Buya Syafii Maarif, Kapolda Jateng Irjen Condro Kirono MM, Ketua DPRD Jateng HY Rukma Setiabudi, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko. ”Kolektor dan Sunan Seni Rupa Indonesia, Oei Hong Djien yang juga pemilik Museum OHD Magelang dijadwalkan memberikan sambutan pada pembukaan,” katanya.

►Suara Merdeka 20 Maret 2017, http://www.suaramerdeka.com

Kategori: ,