Misteri Paskah dan Kuasa Kematian Rohani
Jumat, 30 Maret 2018 | 8:17 WIB

TRB 29_03_2018 Misteri Paskah dan Kuasa Kematian Rohani

Oleh: Ignatius Dadut Setiadi
Anggota The Soegijapranata Institute
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata Semarang

Tema Paskah tahun 2018 yang telah ditetapkan oleh Persatuan Gereja Indonesia (PGI) adalah "Kuasa Kebangkitan Kristus Menjadikan Kita Hamba Kebenaran (Roma 6:18)".

Tema ini mengajak kita, khususnya umat Kristen, untuk bangkit dari berbagai keterpurukan untuk menjadi pelopor kebenaran dan peradaban kasih.

Paskah yang dilambangkan dengan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan jawaban dan tindakan nyata dari Allah kepada umat yang beriman. Kematian di salib adalah bentuk kecintaan Allah kepada manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna. Permenungan tentang kematian, semestinya membuat kita semua sebagai umat yang beriman semakin menyadari kebergantungan kita kepada Tuhan dan belas kasih-Nya.

Kematian merupakan sebuah misteri, yang setiap manusia akan mengalami dan tidak ada manusia yang tahu kapan akan mengalami kematian. Kematian juga dapat diartikan mati secara rohani karena dosa yang diperbuat oleh manusia.

Bila dikaitkan dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia dewasa ini, nyata bahwa sebagian masyarakat kita tengah mengalami kematian rohani. Hal ini bisa kita lihat bersama dengan banyaknya kasus-kasus, yang seakan-akan masyarakat sudah terbelenggu dengan kematian rohani karena dosa.

Beberapa kejadian yang menyita perhatian adalah megakorupsi E-KTP yang telah meramaikan pemberitaan di media cetak, elektronik, maupun media sosial. Karena megakorupsi ini yang menurut berita yang kita dengar merugikan keuangan negara Rp 5,6 triliun yang melibatkan para eksekutif, legislatif, dan pemimpin partai serta sudah menetapkan lebih dari dua tersangka dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mendengarkan 280 saksi. Kalau kita renungkan bersama ada hal yang paling mendasar yaitu bahwa kematian rohani karena dosa sudah menguasai hati dan budi mereka yang diduga terlibat dalam megakorupsi E-KTP tersebut.

Kebangkitan kasih
Kebangkitan adalah puncak dari penjelmaan. Kebangkitan mengukuhkan keilahian Kristus Yesus dan semua hal yang Dia lakukan. Kebangkitan memenuhi semua pelaksanaan janji Allah kepada kita umat-Nya. Kebangkitan juga menganugerahi kita rahmat keselamatan terhadap maut.

Dalam kematian dan kebangkitan Yesus mengandung arti betapa besarnya cinta kasih Allah kepada umat manusia yang sekaligus dibebaskan dari belenggu dosa. Kebangkitan yang membebaskan dari kuasa kematian mengandung arti bahwa dalam kebangkitan ada karya Allah yang transenden, tempat ketiga pribadi bertindak bersama sesuai dengan cara-Nya masing-masing.

Bapa memanifestasikan kekuasaan-Nya, Sang Putra menerima kembali kehidupan yang Dia persembahkan dengan mulia dan bebas yang mempersatukan kembali jiwa dan badan, serta Roh Kudus memuliakan-Nya.

Dalam kebangkitan dari kematian, Allah mempunyai sebuah rencana yaitu menanggung dan membebaskan segala dosa yang diperbuat manusia. Hal ini merupakan kasih dan puncak kecintaan Allah kepada manusia.

Kekuatan cinta kasih merupakan landasan yang sangat penting dalam kehidupan manusia agar terbebaskan dari dosa. Kasus-kasus seperti korupsi, pembunuhan, fitnah, pemerkosaan, dan perbuatan lain yang mengakibatkan kerugian bagi sesama haruslah dihadapi dan diusahakan dengan membangkitkan kembali cinta dan kasih dalam diri manusia. Untuk apa? Tidak lain agar mereka saling menyadari bahwa rakyat atau sesama manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, yang mestinya saling menjaga dan menghargai dalam kehidupan.

Jika tiap individu memaknai kebangkitan kasih niscaya kehidupan manusia akan mampu saling melindungi dan menghormati dengan nurani yang telah diliputi dan dipenuhi oleh Cinta Kasih. Oleh sebab itu, kenyatan hidup yang akan datang (eskatologis), sangat erat kaitannya dengan hidup sekarang. Bahkan, kehidupan sekarang sangat menentukan untuk hidup yang akan datang.

Kehidupan sekarang merupakan awal dari kehidupan yang akan datang. Hanya di dunia ini ada kesempatan untuk bertobat dan kembali ke jalan Tuhan sedangkan setelah kematian tidak ada kesempatan lagi. Memilih untuk bertobat berarti memilih untuk hidup di tanah air surgawi dalam kebahagiaan kekal, sedangkan memilih untuk tidak bertobat berarti memilih neraka. Artinya, berpisah dari Allah, yang tidak lain hidup dalam penyiksaan api yang kekal.

Misteri Paskah
Misteri Paskah yang meliputi sengsara, wafat, kebangkitan, dan permuliaan Allah yang menjelma menjadi manusia merupakan pusat iman Kristen. Sebab, rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dan dunia telah terlaksana untuk selamanya melalui wafat-Nya. Kebangkitan Kristus Yesus merupakan mahkota kebenaran iman kita kepada Allah dan bersama salib menjadi bagian inti dari misteri Paskah.

Semoga dengan sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus, kita semua dibebaskan dari kuasa kematian rohani yang diakibatkan dosa yang kita perbuat terhadap Allah dan sesama. Selamat Paskah.

(Tribun Jateng, 29 Maret 2018, http://jateng.tribunnews.com)

Kategori: , ,