Mahasiswa FBS Unika Jadi Camp Leader Volunteer di Bali
Selasa, 6 Maret 2018 | 15:38 WIB

Crisopus Dominggus Zefha Kainama, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unika Soegijapranata baru saja kembali dari Pulau Dewata setelah didaulat menjadi Camp Leader untuk memimpin volunteer dari mancanegara oleh Dejavato Foundation (organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan budaya).

Cris, biasa ia dipanggil menjalani kegiatan volunteering di SMPN 5 Melaya, Kabupaten Jembrana selama 10 hari yaitu mulai tanggal 5 Februari – 15 Februari 2018, dan memimpin rombongan 7 orang volunteer yang terdiri dari 2 orang Korea Selatan, 1 orang Taiwan, 1 orang Belgia, 1 orang Polandia, 1 orang Prancis, 1 orang Swiss.

Sebagai seorang Camp Leader, Cris bertugas untuk mengatur segala aktivitas yang dilakukan oleh para anggota volunteernya sekaligus juga menjembatani keinginan dan ide anggotanya dengan pihak SMPN 5 Melaya.

Volunteer Mengajar Bahasa Inggris

Cris pun mengungkapkan kegiatan volunteer yang dilakukan di SMPN 5 Melaya berfokus di bidang pendidikan lebih tepatnya para volunteer dari mancanegara tersebut mengajar Bahasa Inggris kepada para siswa di semua kelas baik kelas 7, 8, dan 9.

“Awalnya, saya mencoba menganalisis sejauh mana kemampuan para siswa dalam berbahasa Inggris dan dari hasil analisis saya, para siswa kurang bisa dalam berbahasa Inggris. Banyak dari mereka yang sangat lemah dalam pronouncation (pengucapan) dan vocabulary (kosakata). Saya selanjutnya menginstruksikan kepada para volunteer untuk memberikan pelatihan kepada para siswa terutama di kedua hal tersebut. Kemudian kami mencoba menyampaikan pengajaran melalui media berupa game-game yang kami buat guna menghibur para siswa sembari belajar,” jelas Cris.

Cris juga menjelaskan perihal para volunteer yang ia bawa berasal dari volunteer organisasi non pemerintah lainnya yang juga bergerak di bidang-bidang sosial, salah satunya EVS (European Voluntary Service). Selain itu, Dejavato juga menjadi anggota ICYE (International Cultural Youth Exchange) Federation dan menjadi salah satu Coordinating Committee for International Voluntary Service (CCIVS) of UNESCO sehingga sangat sering melayani volunteer mancanegara.

“Setelah beberapa hari mengajar, Kepala Sekolah SMPN 5 Melaya mencoba berbincang dengan salah satu anggota volunteer saya yang berasal dari Swiss. Menurut volunteer  saya, ia sangat tertarik dengan budaya Indonesia terutama nilai tata krama atau unggah-ungguh karena anak-anak muda di negaranya sudah tidak ada tata krama  terhadap orang lain misalnya saja orang-orang Indonesia terbiasa menyapa kembali orang yang melemparkan sapaan,” ucap Cris. (Cal)

Kategori: ,