Lukisan 2 Tokoh Pluralis Tampil dalam Pameran “Perdamaian Palestina”
Senin, 26 Maret 2018 | 9:50 WIB

Uskup Agung Monsinyur Robertus Rubiyatmoko bersama Pastor Aloys Budi Purnomo saat melihat salah satu lukisan berbahan dasar serbuk kopi yang dipajang di Pastoran Unika.

Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (HAK-KAS) membuka pameran perdana 100 lukisan bertajuk Perdamaian Palestina di Gedung Pastoran, Unika Soegijapranata, Jalan Pawiyatan Luhur, Semarang, Rabu (21/3).

Acara yang digelar dalam rentang lima hari itu menampilkan berbagai jenis lukisan karya 48 seniman dari berbagai penjuru Jawa Tengah. Ajang pameran tersebut diawali dengan iring-iringan ratusan orang yang membawa beberapa lukisan yang hendak dipamerkan.

Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono bersama Uskup Agung Semarang, Monsinyur Robertus Rubiyatmoko terlihat hadir di tengah kerumunan peserta pameran.

“Dengan perhelatan pameran ini, kami ingin mencoba menciptakan suasana gereja yang inklusif, senantiasa beriman dan bermartabat bersama para pelukis yang datang dari berbagai daerah,” ujar Uskup Agung Semarang, Monsinyur Robertus Rubiyatmoko.

Menurutnya pameran ini cuku penting untuk menunjukan kepada dunia bahwa gereja Katolik mendukung penuh kemerdekaan Palestina sekaligus mengecam tindakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Kita mempunyai sikap sangat menyayangkan semua hal tersebut terjadi. Seharusnya ada jalan keluar yang baik agar nantinya bisa mewujudkan kebenaran, menciptakan keharmonisan ditengah masyarakat. Tentunya ke depan diharapkan dapat membawa kedamaian bagi semua umat lintas lintas agama,” tuturnya.

Sedangkan, menurut Kepala Reksa Pastoral Unika Soegijapranata, Romo Aloys Budi Purnomo, adanya pameran 100 lukisan ini mampu mewartakan perdamaian bagi seluruh dunia. Tak lupa, ia menyebut umat Katolik ikut berdoa demi terwujudnya kemerdekaan bagi negara Palestina.

“Karena suasana yang memanas sejak Desember setelah Trump mengakui sepihak Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Maka nama Yerusalem yang semula berarti Kota Damai, justru ternoda menjadi Yerudzalim atau Kota Dzalim. Makanya, kita serukan kepada dunia untuk mewujudkan perdamaian,” kata pria yang juga menjadi Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang itu.

Lebih jauh lagi, ia menerangkan acara pameran lukisan juga dimeriahkan atraksi  tarian daerah. Ada Tari Soreng dari Ungaran, Tari Sadran serta Tari Sufi.

Dua buah lukisan sesepuh NU KH Mustofa Bisri dan mendiang KH Abdurahman Wahid yang ikut mejeng dalam pameran 100 lukisan di Pastoran Unika.

Dua buah lukisan sesepuh NU KH Mustofa Bisri dan mendiang KH Abdurahman Wahid yang ikut mejeng dalam pameran 100 lukisan di Pastoran Unika. (foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto)

“Di sini juga dipamerkan sebuah lukisan bergambar wajah Gus Mus (KH Mustofa Bisri) dan dua lukisan potret Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) sebagai tokoh pembawa kerukunan dan perdamaian dunia. Kita menghormati keduanya sebagai tokoh yang begitu menghayati Islam sebagai rahmatan lil alamin,” bebernya.

Lukisan Gus Mus dan Gus Dur merupakan karya pelukis asal Purwokerto, Joko Susilo. Sebuah lukisan bergambar Presiden Jokowi ikut dipajang di lantai dasar Pastoran.

Ia berpendapat Jokowi merupakan presiden yang sangat gigih menolak keputusan Amerika Serikat yang membela Israel. Pernyataan Jokowi yang begitu keras di KTT OKI menjadi penanda bahwa Indonesia merupakan simbol kerukunan umat beragama di dunia.

“Damai untuk Palestina, rukun untuk kita,” kata Romo Budi.

https://metrojateng.com

Kategori: