Apa Saja Yang Menarik Sewaktu Kuliah Di Korea Selatan?
Kamis, 1 Maret 2018 | 12:08 WIB

Salah satu mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unika Soegijapranata, Ryo Sandega baru saja menyelesaikan kegiatan pertukaran mahasiswa yang diadakan oleh ACUCA (Association of Christian Universities) bertempat di Handong Global University, Korea Selatan dari bulan Agustus hingga Desember 2017. Disamping itu Ryo juga satu-satunya perwakilan Indonesia yang mengikuti program pertukaran mahasiswa di periode tersebut.

Selama 4 bulan menjalani pertukaran mahasiswa, Ryo mengaku kegiatan utama yang dilakukan adalah menjalani kuliah seperti biasanya di Indonesia dimana mata kuliah yang telah ia daftarkan di Unika ditransfer ke mata kuliah yang ia ikuti selama di Korea Selatan.

Selain mengikuti perkuliahan, Ryo juga aktif bermain dalam klub sepakbola asrama kampus, Car Michael United. Menurut Ryo, mahasiswa mancanegara yang mengikuti program pertukaran mahasiswa di Handong Global University berasal lebih dari 17 negara. “Banyak mahasiswa yang mengikuti kegiatan pertukaran mahasiswa ini, kalau dari wilayah ASEAN sendiri selain Indonesia juga diikuti oleh mahasiswa dari Malaysia, Thailand, Laos, dan Kamboja.¬† Sedangkan jumlah mahasiswa dari Eropa juga tidak kalah banyak dan berasal dari Belanda, Denmark, Italia, serta Perancis. Tentunya, bahasa yang saya gunakan untuk berkomunikasi adalah Bahasa Inggris akan tetapi saya akui meskipun saya yang setiap hari mempelajari Bahasa Inggris agak sulit untuk mengerti apa yang dikatakan oleh masing-masing orang,” jelas Ryo.

“Selama di Korea Selatan, saya bersama dengan seluruh mahasiswa program pertukaran mahasiswa lainnya, banyak mengikuti kegiatan kuliah di Global Leadership School dan ¬†diperkenalkan dengan budaya Korea secara langsung melalui praktek-praktek yang kami lakukan. Selain itu kami juga mengikuti kegiatan kuliah, yang dipisahkan menjadi beberapa kelompok dimana masing-masing kelompok memiliki pemimpin dan satu dosen dari Handong Global University sebagai supervisor. Kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing tim salah satunya adalah rapat rutin tiap hari Rabu guna merencanakan kegiatan yang akan dilakukan” tutur Ryo.

Ada pengalaman menarik yang dialami oleh Ryo saat disana yaitu Ia pertama kalinya merasakan gempa 5,5 SR. Saat itu pusat gempa hanya berjarak 10 menit dari Handong Global University dengan berjalan kaki. Alhasil setelah gempa, Ryo bersama seluruh mahasiswa internasional lainnya diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Selama menjalani pertukaran mahasiswa di Korea Selatan, menurut Ryo jika dibandingkan dengan mahasiswa Korea, mahasiswa Indonesia jauh lebih santai sedangkan di Korea Selatan jauh lebih serius. Selain itu, mereka juga sangat disiplin terhadap waktu. “Saat saya menjalani pertukaran mahasiswa, saya melihat mahasiswa Korea sangat serius menyimak apa yang disampaikan oleh dosen bahkan tidak ada kegiatan bercanda di kelas. Meskipun ada, candaan harus dipancing oleh dosen terlebih dahulu. Apabila dosen tidak melemparkan candaan, maka mereka juga tidak akan tertawa. Selain itu, nilai-nilai kedisiplinan juga sangat dijunjung tinggi di Korea Selatan, tidak hanya di kuliah tapi juga di masyarakat. Misalnya saja, saat itu saya sedang lewat di halte bis, di halte bis tersebut tercantum bis tiba tiap jam 15.00. Saat jam menunjukkan jam 15.00, bis sudah berada tepat di depan halte. Saat itu, saya juga melihat salah satu mahasiswa Handong Global University lari dari belakang untuk mengejar bis yang telah tiba. Saat jam 15.05 bis berjalan meninggalkan halte tersebut dan supir bis pun juga melihat anak tersebut lari mengejar bis. Namun, supir bis tidak mengindahkan usaha anak tersebut dan tetap melaju meninggalkan halte. Bagi mereka menunggu 1 orang yang terlambat maka juga menyebabkan penumpang lain jadi terlambat” tutup Ryo. (Cal)

Kategori: ,