Prima Kembangkan Game Edukasi Yang Bergenre Mini Adventure
Kamis, 8 Februari 2018 | 7:43 WIB

Yedija Prima Putra, mahasiswa Program Studi (Prodi) Game Technology yang satu ini telah membuat sebuah game yang dijalankan melalui sensor ultrasonik dan sensor inframerah sebagai pengembangan dari perangkat mobile, komputer desktop, Virtual Reality (VR), dan Augmented Reality (AR). Dengan bantuan Teknologi Sensor Kinect yang menggunakan sensor inframerah, Prima, biasa ia dipanggil, mencoba mengembangkan game edukasi yang bergenre mini adventure. Seperti diketahui, Teknologi Sensor Kinect biasa digunakan dalam konsol game yang tengah dikembangkan oleh Microsoft yaitu Xbox.

Game yang tengah dikembangkan oleh Prima memiliki konsep edukasi yang bersegmen pada anak-anak dimana pemain dalam game ini akan menjawab pertanyaan berupa sistem operasi perhitungan (perkalian, pembagian, penambahan, dan pengurangan) dengan bergerak menuju 2 arah (kiri dan kanan) untuk menggerakkan kursor guna mendapatkan awan yang berisi angka jawaban pertanyaan tersebut. Apabila nilai angka yang diperoleh dari awan masih kurang, maka pemain dapat bergerak mendapatkan awan lainnya hingga jawaban terpenuhi. Namun, apabila angka yang diperoleh dari awan mengalami kelebihan dari jawaban seharusnya, maka akan mengurangi nyawa si pemain.

“Sejatinya, inspirasi saya dalam pengembangan game ini sendiri berawal dari Progdi Game Technology yang telah memiliki teknologi sensor Kinect. Saya pun juga melihat game yang berbasis teknologi sensor hingga saat ini masih digandrungi anak muda sehingga saya memutuskan untuk mengembangkan game ini. Khusus untuk game yang tengah saya kembangkan, saya mengusung misi agar belajar matematika terasa lebih menyenangkan dan di sisi lain, dapat melatih kemampuan motorik anak-anak sembari menyelesaikan soal” jelas Prima.

Menurut Prima, cara bermain menggunakan Teknologi Kinect cukup mudah dimana alat Kinect tersebut diletakkan di depan layar, sang pemain pun berdiri pada jarak sekitar 2 m dari posisi Kinect berada.

“Kinect dapat mendeteksi posisi pemain berada menggunakan sensor inframerah dimana Kinect akan memancarkan sinar inframerah ke segala titik kemudian dikumpulkan dalam satu titik dan diolah menjadi bentuk 3 dimensi. Setelah berbentuk 3 dimensi, Kinect akan membedakan mana yang manusia dan bukan. Pada penelitian sebelumnya yang menggunakan sensor inframerah dengan proximity censor, sinar inframerah dipancarkan ke satu titik untuk mendeteksi gerakan sehingga peserta akan bergerak maju dan mundur untuk menjalankan kursor Selain mengembangkan game tersebut dengan tujuan edukasi, saya juga membandingkan penggunaan sensor inframerah dengan bantuan alat Kinect dan sensor ultrasonik untuk skripsi saya. Pada sensor ultrasonik, dipantulkan gelombang suara yang mendeteksi jarak pemain pada satu titik sehingga pemain akan bergerak maju dan mundur. Dalam skripsi yang saya buat, saya mencoba membandingkan keduanya berdasar beberapa parameter seperti jarak optimal, derajat horizontal (lebar persebaran titik yang dapat dideteksi), derajat vertikal, kemiringan benda, dan transparansi benda. Salah satu hasilnya, untuk sensor ultrasonik tidak dapat bekerja dalam posisi miring. Saya berharap perbandingan tersebut menghasilkan rekomendasi pemanfaatan sensor dalam pengembangan game edukasi di konsol,” terang Prima. (Cal)

Kategori: ,