Membangun Budaya Disruptif Dalam Kampus
Kamis, 22 Februari 2018 | 7:16 WIB

Perkembangan zaman yang semakin pesat di era disruptif telah menyentuh pula di bidang pendidikan tinggi. Unika Soegijapranata sebagai salah satu lembaga perguruan tinggi juga ikut bergerak untuk merubah tatanan yang dimilikinya supaya bisa mengikuti perkembangan zaman dan teknologi dewasa ini.

Dalam rangka tersebut maka pada hari Rabu (21/2) bertempat di Hotel Lor In Solo,  Unika Soegijapranata menyelenggarakan acara Refleksi Karya 2018 bertemakan ““Inovasi Disruptif dalam Transformasi Inspriratif”.

Rektor Unika Soegijapranata, Prof. Dr. F. Ridwan Sanjaya MS. IEC menyampaikan bahwa tema refleksi karya tahun ini lebih menitikberatkan pada perubahan cara pandang perguruan tinggi khususnya di Unika agar tetap bisa survive dan dapat mengikuti perubahan zaman serta tetap mengedepankan spirit Talenta Pro Patria Et Humanitate yang menjadi tagline dan jati diri Unika Soegijapranata sebagai Perguruan Tinggi.

“Dari dua pembicara yang kita hadirkan dalam acara Refleksi Karya ini yaitu Prof. Dr. Rhenald Kasali dan tim harian Kompas, diharapkan kita bisa mendapatkan ilustrasi maupun gambaran untuk dapat bertindak dengan benar dalam melakukan inovasi perubahan agar pelayanan kepada mahasiswa, alumni dan mitra Unika bisa lebih mudah, lebih tepat, lebih murah bahkan lebih sederhana. Hal tersebut perlu dilakukan supaya dapat menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi berbagai pihak, karena sejak beberapa tahun ini Unika telah mempersiapkan diri untuk menyongsong perubahan karena perubahan adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari” ujar Prof. Ridwan dalam sambutannya.

Prof. Dr. Rhenald Kasali yang merupakan guru besar bidang ilmu manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan dan penulis buku Disruption dalam paparannya menyampaikan bahwa “Era disruption dilakukan secara bersama-sama secara independen oleh banyak aktor, persis dengan zaman revolusi industri pada akhir abad 18. Saat Itu terjadi kegamangan karena ternyata yang mereka lakukan  berevolusi terus atau revolusi yang berevolusi yang apabila revolusi selesai dan mencapai keseimbangan maka akan tenang, tetapi revolusi yang kita hadapi sekarang adalah dengan menghancurkan terlebih dahulu yang lama dan kemudian tumbuh hal-hal baru yang diselesaikan oleh para aktor. Jadi ada yang bikin konten, ada yang bikin konteks, ada yang membuat bisnis modelnya dan ada yang membuat turunannya, ada yang membuat produk serta ada yang mengambil manfaatnya,” paparnya.

“Disamping itu dalam berkompetisi saat ini, kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak kelihatan atau abstrak. Dan karena pengembangan yang dilakukan ini diluar industri yang standar maka hal tersebut dianggap mengganggu pemain lama, jadi semua pemain lama tidak happy, nah akibatnya mereka berlomba untuk mendekati regulator untuk membuat peraturan yang menghadang pemain baru, sehingga kebaharuan itu sulit kecuali para regulator itu memahami apa yang sebenarnya terjadi. Satu contoh yang bisa dilihat adalah kebijakan fintech di Indonesia. Dalam kaitannya dengan perguruan tinggi, saat ini kita ada yang masih terjebak pada masa lalu. Dan apabila kita simak dari dulu hingga sekarang, nama fakultas, nama jurusan dan nama mata kuliah cenderung tidak berubah kalaupun berubah hanya sekitar 1 sampai 2 % saja. Demikian juga buku-buku yang dipakai masih menggunakan buku-buku yang sudah tidak update lagi. Kemudian perguruan tinggi jangan hanya diarahkan pada riset saja melainkan juga diarahkan untuk mencetak tenaga ahli di bidangnya masing-masing untuk memenuhi kebutuhan industri, pendidikan atau masyarakat dan budaya. Maka saran saya mengenai disruption di perguruan tinggi yang pertama, model perguruan tinggi harus jelas, kedua kita harus memiliki perguruan tinggi yang membangun humanisme atau peradaban untuk menyambut disruption ini,”tegas Rhenald.

Kolaborasi Dunia Kampus dengan Industri

Di era disruption apa yang disampaikan oleh prof. Rhenald Kasali bisa dipakai yaitu mengganti cara-cara lama menjadi cara baru. Lebih jauh diungkapkan dalam paparan tim kompas,”Beruntung perguruan tinggi bisa menyiapkan disruptif sebelumnya, karena selain industri media, berbagai jenis industri juga terkena imbas disruptif diantaranya adalah industri perhotelan, mal, perbankan dan beberapa industri lainnya.”

“Namun ditengah deru perubahan yang melanda, ada hal positif yang dialami oleh industri media karena dengan adanya fake news maka masyarakat mulai membutuhkan berita yang dilakukan oleh jurnalistik media resmi,” ungkap Suta Dharmaputra dari tim kompas yang menyampaikan paparannya di sesi refleksi karya unika 2018.

Dengan demikian ada kesempatan dari kalangan kampus untuk berkolaborasi dengan industri media supaya bisa survive,  dan hal terbaru dilakukan kompas yaitu www.kompas.id yang merupakan paket lengkap atau sebuah situs berlangganan digital kompas.

Kompas sendiri dengan Mottonya ‘Kompas Amanat Hati Nurani Rakyat’ dalam transformasinya ada beberapa kendala yang dihadapi yaitu idealisme,struktur, kultur dan infrastruktur untuk menuju inovasi,  jadi seolah-olah ada pertarungan antara pola lama dan pola baru, tapi yang sebenarnya adalah perbaikan pada kelemahan pola yang lama sehingga bisa berubah  menjadi kelebihan yang baru, seperti prestasi yang berhasil di raih oleh kompas dengan penghargaan adinegoro saat meliput tentang Papua,”tambahnya.

Menurut Organizational Project Development Kompas Gramedia Ayu Kartika, perubahan dalam organisasi tidak terbatas stepping tapi bisa juga melompat.”Tantangan yang dihadapi oleh kompas dalam disrupsi yaitu bisnis, value dan industri yang harus menjaga implementasi nilai-nilai founding father kompas.”

“Visi dan komitmen pemimpin adalah faktor yang paling berpengaruh dalam disrupsi. selain juga kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM)nya. Dan empat pilar manajemen yang harus dimiliki untuk menghadapi tantangan adalah organisasi yang efektif, sistem pengelolaan SDM yang handal, SDM yang kompeten sekaligus multitasking dan budaya yang unggul. Karena yang menjadi karakteristik organisasi di era digital yaitu bergerak cepat, organisasi pembelajaran, mudah beradaptasi dan jenjang karir dinamis.

Acara Refleksi Karya yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh sekitar 400 orang karyawan Unika mulai dari Rektor, para Wakil Rektor, para Dosen hingga tenaga kependidikan. (Hol)

Kategori: ,