Koyakkanlah Hatimu dan Jangan Pakaianmu
Kamis, 15 Februari 2018 | 10:21 WIB

“Manusia itu kan berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah, maka pertobatan secara  simbolik diungkapkan dengan pengolesan abu. Itu suatu simbol dalam sejarah Gereja Katolik sesuai kitab suci” ungkap Romo Budi usai memimpin Misa Rabu Abu yang diselenggarakan oleh UPT Reksa Pastoral Campus Ministry Unika Soegijpranata pada hari Rabu siang (14/2), di Kapel Santo Ignatius Unika.

Romo Aloysius Budi Purnomo Pr selaku Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata, dalam homilinya mengajak umat untuk menyiapkan diri dalam menyambut  masa Prapaskah 2018, yang ditandai dengan penerimaan abu dalam Misa Rabu Abu. “Pertobatan itu tidak diukur dengan hal hal yang bersifat lahiriah saja, tetapi kita juga diajak mengolah batiniah kita seperti yang disampaikan oleh nabi Yoel yaitu “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu!” (Yl. 2:13). Demikianlah intisari seruan nabi Yoel yang kembali digemakan Gereja. Jika dalam bahasa Jawa ada yang mengatakan “ Ajining raga gumantung saka busana, ajining diri gumantung saka lathi ”.  Ajining raga gumantung saka busana, mengandung makna bahwa berharganya seseorang itu dinilai dari penampilan atau busana yang ia pakai. Ajining diri gumantung saka lathi, mengandung makna bahwa seseorang dapat dihargai itu berdasarkan ucapannya atau lidahnya. Dengan kata lain, pengoyakan hati itulah yang mendorong kita menerima olesan abu sebagai lambang pengoyakan hati dan pertobatan sejati, yang dilakukan dengan tulus lahir dan batin.”

Romo Budi juga menjelaskan wujud pertobatan menurut gereja dengan puasa dan pantang serta tatacaranya menurut gereja Katolik,” Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas. Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.”

“Yang utama adalah semangat tobatnya dan wujud dari pertobatan itu dengan berpuasa dan berpantang serta melakukan tindakan nyata dengan aksi puasa semisal contoh jika kita di hari biasa per hari merokok menghabiskan 5 bungkus maka pada saat hari pantang merokoklah 1 bungkus saja. Sisa uang yang untuk beli 4 bungkus bisa dimasukkan ke dalam kotak persembahan Aksi Puasa dan Pembangunan (APP) yang selanjutnya akan disampaikan ke Keuskupan untuk digunakan melakukan karya-karya karitatif, terutama untuk membantu mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difable” sambung Romo Budi.

Sementara itu, Albertus Raynaldo salah satu mahasiswa jurusan Manajemen angkatan 2017 yang juga hadir dalam misa tersebut mengungkapkan,” Melalui terselenggaranya Misa Rabu Abu ini yang pasti saya merasa disadarkan untuk kembali ke masa pertobatan sekaligus mengajak saya dan kita semua untuk mengenang sengsara Tuhan Yesus. Dia yang rela wafat di kayu salib untuk menebus dosa dosa kita” ucap Raynaldo dalam sesi wawancara usai misa. (Hol)

Kategori: ,