Era Disruptif, Perguruan Tinggi Harus Punya Keunggulan Tersendiri
Rabu, 21 Februari 2018 | 18:29 WIB

Menghadapi era disruptif sebaiknya bisnis model perguruan tinggi di Indonesia mulai diperjelas. Antara perguruan tinggi satu dengan yang lainnya tidak harus sama. “Jadi jangan seperti sekarang ini, semua mengarah pada pengembangan world class university. Yang world class cukup satu atau dua saja, ITB, UGM atau UI,” kata Prof Dr Rhenald Kasali kepada KRJOGJA.com sebelum tampil sebagai pembidara dalam refleksi karya Unika Soegijapranata di hotel Lor In, Rabu (21/2/2018). Guru besar bidang ilmu manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu kawatir jika semua perguruan tinggi diarahkan ke world class akan terjebak dengan perkembangan yang dihadapi di era disruptif. Karena dunia sedang berubah dan kita hanya menyerap sebagian. Padahal cara mengajar sedang terjadi evolusi. “Kami kawatir semua terjebak,” ujar Prof Rhenald Kasali didampingi rektor Unika Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC. Jadi semua tidak harus menjadi world class, mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan. Padahal kita membutuhkan universitas yang membangun humanisme (peradaban) untuk menjawab terjadi perpecahan, keributan, pengangguran. Pengangguran bukan apa-apa, mereka memang harus belajar kembali untuk memasuki lapangan kerja. Selain tu juga harus ada perguruan tinggi yang menyiapkan tenaga kerja. “Kita melihat kejadian infrastruktur kecelakaan pada proyek kontruksi kemarin, sebagai bukti perlu ahli teknik. Ahli teknik kita dulu banyak diserap perbankan,” tutur Rhenald Kasali. Selain itu juga Indonesia juga memerlukan ahli bioteknologi, ahli kehutanan, sosial ingenering untuk mendampingi masyarakat di sekitar jalan tol agar tidak ketinggalan. Menurutnya, perguruan tinggi kita terperangkap dengan masa lalu. Lihat saja nama fakultas, jurusan, mata kuliah dari 30 tahun yang lalu yang bergerak hanya satu dua persen. Tidak banyak mata kuliah baru atau jurusan baru. Sementara kalau dibuka silabus mengerikan lagi. Buku buku teks yang dipakai paling cepat 2012. Yang 2017 belum dipakai, meski sudah ada yang ketinggalan zaman. Sementara tuntutan kebutuhan masyarakat berbeda dengan apa yang diproduksi universitas. Rektor Unika Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC mengaku telah menyiapkan untuk menghadapi era disruptif termasuk dalam proses pembelajaran. Disamping menyangkut pelayanan yang lebih mudah, cepat dan murah. http://krjogja.com

Kategori: