Ekspresikan Karya Jelang Inovasi Disruptif Di Unika
Kamis, 22 Februari 2018 | 11:31 WIB

Setelah mendapatkan materi inovasi disruptif dari dua orang narasumber pada rabu siang (21/2), maka pada Rabu malam untuk menutup kegiatan Refleksi Karya tahun 2018 pada hari pertama, beberapa perwakilan dosen dan tenaga kependidikan menampilkan Ekpresi Karya yang dikemas dalam bentuk drama singkat yang menceritakan disruptif. Disruptif tersebut digambarkan melalui drama yang mengisahkan perjalanan perjuangan Unika sejak memiliki gedung di jalan Pandanaran, lalu berpindah di jalan Peterongan dan menetap hingga saat ini di jalan Pawiyatan Luhur, Bendan Duwur.

Dalam drama tersebut menampilkan bagaimana salah satu dosen berangkat menuju kampus Unika yang berada di Jalan Pandanaran menggunakan sepeda demi mendidik calon generasi masa depan Indonesia. Dosen tersebut terlihat tersenyum penuh sukacita ketika berangkat menuju kampus dan saat mengajar kuliah di kelas meskipun saat itu mahasiswanya masih belum sebanyak sekarang. Keadaan tersebut bertahan hingga saat Unika berpindah gedung di Jalan Peterongan Semarang dan selanjutnya beberapa tahun kemudian berpindah ke Bendan Duwur.

Dalam drama tersebut juga dikisahkan bagaimana metode pembelajaran Unika dari waktu ke waktu. Dari pembelajaran yang masih satu arah hingga perkuliahan melalui kecanggihan teknologi seperti saat ini.

Christian Moniaga, ST., M.Ars. yang menjadi dalang dan narator dalam drama tersebut menyampaikan bahwa drama tersebut menggambarkan perjuangan Unika sejak pertama kali berdiri hingga saat ini serta siap menyongsong perubahan zaman.

“Drama malam ini tujuannya untuk merefleksikan apa yang telah dicapai oleh dosen dan tenaga kependidikan Unika selama ini sejak mulai dari gedung perkuliahan di jalan Pandanaran, lalu berpindah ke Jalan Peterongan, hingga menetap di jalan Pawiyatan Luhur Bendan Duwur dan yang selanjutnya akan memiliki gedung kuliah baru di BSB (Bukit Semarang Baru). Drama tersebut juga menyampaikan pesan disruptif dalam perkuliahan yang menggunakan kecanggihan teknologi seperti smartphone atau laptop. Itulah tantangan yang harus kita jawab dan pesan yang ingin disampaikan berkaitan dengan disruptif” ujar Christian.

Acara Ekspresi Karya ini semakin meriah ketika drama tersebut juga diselingi dengan beberapa lagu yang berjudul: di radio, rindu, samba ngonthel, hip hip hura, kisah kasih di sekolah, cukup sudah, buka semangat baru, iki weke sopo, kolam susu dan bojo galak. Saat adanya nyanyian lagu tersebut suasana semakin meriah karena semua dosen dan tenaga kependidikan yang berjumlah sekitar 400 orang ikut bernyanyi sambil berjoget yang mencerminkan keguyuban dan keakraban.

Seusai drama tersebut, acara dilanjutkan dengan perkenalan dosen dan tenaga kependidikan yang baru saja bergabung di kampus Unika. (Hol)

Kategori: ,