Self-Disruption Perpustakaan Perguruan Tinggi
Selasa, 2 Januari 2018 | 17:31 WIB

Oleh Ridwan Sanjaya

“Pengelola perpustakaan dituntut melakukan self-disruption untuk dapat mempertahankan posisinya sebagai paru-paru pengetahuan di perguruan tinggi”

DALAM beberapa tahun terakhir ini istilah Disruptive Innovation menjadi semakin populer sejak kemunculan transportasi online, penginapan online, tiket online, dan bisnis-bisnis online sejenisnya. Meskipun istilah ini sudah mulai dikenalkan pada tahun 1995 dalam Harvard Business Review (Bower & Christensen, 1995) dan dipublikasikan dalam buku The Innovatorís Dilemma dua tahun kemudian (Christensen, 1997), pembahasan mengenai teori ini secara meluas baru muncul akhir-akhir ini.

Dalam bukunya, Christensen menekankan bahwa produk dalam kelompok disruptive innovation umumnya lebih murah, lebih sederhana, lebih kecil ukurannya, dan seringkali lebih nyaman untuk digunakan. Produk tersebut awalnya menyasar pada kelompok kecil pengguna, namun akhirnya dapat menggantikan produk yang dikembangkan oleh pemimpin pasar setelah mengalami berbagai peningkatan kualitas dan penyesuaian kebutuhan.

Namun Christensen menekankan bahwa peningkatan performa secara berkelanjutan yang umumnya dilakukan oleh pemimpin pasar pada suatu produk, bukanlah disruptive innovation melainkan sustaining innovation. Sebagai incumbent, inovasi yang bertahap seringkali tidak cukup lagi untuk menghadapi perubahan radikal yang terjadi saat ini. Dibutuhkan kemauan untuk self-disruption agar sebuah organisasi dapat bertahan.

Contoh dalam dunia pendidikan, perpustakaan di perguruan tinggi seringkali menghadapi kenyataan pahit bahwa jumlah mahasiswa dan dosen yang berkunjung ke perpustakaan semakin lama semakin menurun. Bahkan di beberapa perguruan tinggi, beberapa pustakawan beralih divisi karena kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di perpustakaan tidak lagi setinggi yang dulu.

Kebutuhan Globalisasi

Alasan perkembangan teknologi seringkali membuat perpustakaan merasa dituntut untuk mengembangkan pustakanya tidak hanya hardcopytetapi juga softcopy dalam bentuk e-journal, e-book, dan berbagai elektronik pustaka lainnya. Selain variasi format pustaka, ruang lingkup penerbit juga diperluas untuk memenuhi kebutuhan globalisasi.

Bahkan sejumlah komputer ditambahkan agar pemustaka dapat dengan mudah mencari pustaka digital di perpustakaan. Padahal inovasi bertahap untuk memenuhi kebutuhan pemustaka tersebut tidak lagi cukup karena mahasiswa dan dosen dapat dengan mudah menemukan kebutuhannya di internet melalui gadget (gawai) canggihnya masing-masing.

Pengelola perpustakaan dituntut melakukan selfdisruption untuk dapat mempertahankan posisinya sebagai paru-paru pengetahuan di perguruan tinggi. Dari proses penelusuran, ditemukan bahwa SDM perpustakaan ternyata merupakan aset yang luar biasa dalam positioning organisasi di masa depan.

Jika sebelumnya aset yang menjadi andalan dalam ”bisnis” perpustakaan adalah pustaka-pustaka yang dimiliki atau dilanggan dalam berbagai format, maka kini pustakawan harus dijadikan aset andalan dalam memberikan pencerahan untuk penelusuran sumbersumber ilmiah yang bertebaran di internet, teknik menghindari plagiasi, dan penulisan rujukan ilmiah dalam skripsi, thesis, maupun publikasi ilmiah mahasiswa dan dosen.

Penggunaan software anti-plagiasi dan software pengelolaan referensi menjadi ”senjata” bagi pustakawan dalam memberikan edukasi kepada mahasiswa dan dosen. Untuk itu diperlukan perbaruan perangkat lunak secara berkala dan penguasaan pengetahuan akan teknologi informasi agar SDM perpustakaan dapat berperan sebagai dirigen dalam orkestra pencarian pengetahuan di perguruan tinggi.

Proses self-disruption di dalam perpustakaan menuntut SDM di dalamnya untuk belajar kembali dan menggali lebih jauh lagi kemampuannya yang dihubungkan dengan teknologi informasi saat ini. Proses belajar yang mungkin berat bagi pustakawan dari generasi X atau bahkan generasi sebelumnya, yang tergolong dalam digital immigrant.

Namun perjuangan berat ini senilai dan layak dalam usaha mengembalikan posisi perpustakaan menjadi paru-paru pengetahuan di dalam perguruan tinggi. Jika tidak, maka organisasi ini hanya akan menunggu untuk tergantikan oleh mekanisme digital yang telah tersedia di internet.

Proses mendisrupsi diri sendiri bagi setiap organisasi menjadi proses yang seharusnya terus dilakukan agar dapat memberikan solusi out of the box dari penurunan kinerja ataupun alarm akan ancaman yang datang dari bisnis masa depan, akibat perubahan teknologi dengan kecepatan tinggi.

Menghindari kenyataan bahwa dunia sedang menghadapi era disruptif hanya akan menurunkan kewaspadaan kita dalam menghasilkan solusi.

–Ridwan Sanjaya,guru besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata

Sumber : Wacana Nasional Suara Merdeka, e-paper Suaramerdeka

Kategori: , ,