Perlu Pendekatan Psiko-Ekologis
Senin, 8 Januari 2018 | 11:44 WIB

Rencana pembangunan gedung lima lantai di bawah Lapangan Simpanglima yang terkoneksi dengan tempat-tempat di sekitarnya diapresiasi.

Namun, saat perencanaan dan pembangunannya, perlu ada pendekatan psiko-ekologis. Dosen Psikologi Sosial dari Unika Soegijapranata, DP Budi Sesetyo MSi menuturkan, bangunan itu bisa menjadi ruang bagi pejalan kaki. Biasanya mereka harus menyeberang menerobos arus lalu lintas saat ingin ke lapangan itu. Padahal, itu berisiko bagi pejalan kaki itu sendiri, dan pengguna jalan lainnya.

Selain itu, juga bisa berpotensi menyebabkan kemacetan. ’’Dengan adanya bangunan di bawah Lapangan Simpanglima yang terkoneksi dengan tempat lain, bisa mengakomodasi para pejalan kaki. Namun demikian, perlu adanya pendekatan psiko-ekologis dalam pembangunannya. Dengan begitu, masyarakat akan lebih tertarik,’’ujarnya.

Bandara

Dia mencontohkan, area bandara, dan stasiun. Di sana, orang tidak bisa merokok sembarangan. Orang-orang yang bisa masuk juga tertentu, misal punya tiket. Pedagang asongan tidak lagi masuk. Ada petugas yang berjaga dan mengatur.

Hal itu membuat orang-orang nyaman untuk berjalan kaki. Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono menuturkan, saat ini Semarang terus berkembang pesat dan menjadi daya tarik investor. Upaya pengembangan kota ini, termasuk rencana pembangunan gedung lima lantai di bawah Lapangan Simpanglima perlu diapresiasi. ’’Ide pembangunan gedung di bawah Lapangan Simpanglima sangat menarik. Namun, belum saya rasa belum masuk prioritas. Masih ada lahan kosong di sekitar Simpanglima yang bisa dimanfaatkan, untuk tempat parkir. Dengan begitu, parkir tidak menggunakan bahu jalan,’’ujarnya.

image

►Suaramerdeka 6 Januari 2018, http://www.suaramerdeka.com

Kategori: