Komitmen dalam Pelayanan Sepenuh Hati
Rabu, 3 Januari 2018 | 8:43 WIB

Berkat 87-2017 Komitmen dalam Pelayanan Sepenuh Hati
Komitmen organisasi (Organisational Commitment) merupakan sikap yang mencerminkan sejauh mana seseorang individu mengenal dan terikat pada organisasi. Seseorang individu yang memiliki komitmen tinggi kemungkinan akan melihat dirinya sebagai anggota sejati organisasi (Hom. P & Griffet, R.1995).

Beberapa tokoh seperti Stephen P. Robbins mengatakan bahwa keterlibatan pekerjaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seseorang individu, sementara komitmen organisasi yang tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. Sebagai salah satu contoh dalam sebuah organisasi yang bergerak dalam pendidikan yang anggotanya memiliki pendidikan baik dasar, menengah dan tinggi, seseorang "Pendidik atau tenaga Kependidikan" merupakan tenaga profesional yang berhadapan langsung dengan para siswa atau mahasiswa, maka dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga profesional harus mampu menjalankan kebijakan-kebijakan dengan tujuan-tujuan tertentu dan mempunyai komitmen yang kuat terhadap institusi atau lembaga tempat bekerja.

Kalau dilihat dari definisi atau pengertian di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa definisi komitmen dapat dipecah menjadi 3 (tiga) komponen: yang pertama Keinginan memelihara keanggotaan dalam organisasi, kedua Keyakinan dan penerimaan terhadap nilai dan tujuan organisasi, dan ketiga Kesediaan bekerja keras sebagai bagian dari organisasi.

Menurut Allen and Mayer (1993) menyatakan bahwa untuk mengetahui karakteristik hubungan karyawan dengan organisasi atau implikasinya yang mempengaruhi apakah karyawan akan tetap bertahan dalam organisasi dapat diidentifikasi menjadi 3 (tiga) komponen terdiri dari pertama Komitmen Afektif (Affective Commitmen ) yaitu perasaan cinta pada organisasi yang memunculkan kemauan untuk tetap tinggal dan membina hubungan sosial serta menghargai nilai hubungan dengan organisasi dikarenakan telah menjadi anggota organisasi. Kedua komitmen Kontinyu (Continuance Commitment) adalah perasaan berat untuk meninggalkan organisasi dikarenakan kebutuhan untuk bertahan dengan ‘ pertimbangan biaya apabila meninggalkan organisasi dan penghargaan yang berkenan dengan partisipasi di dalam organisasi dan ketiga Komitmen Normatif (Normative Commitment) perasaan yang mengharuskan untuk bertahan dalam organisasi dikarenakan kewajiban dan tanggung jawab terhadap organisasi yang didasari atas pertimbangan norma, nilai, dan keyakinan.

Jika dalam pribadi individu tumbuh dan berkembang komitmen, komunikasi, dan cinta kasih maka individu tersebut dalam melakukan tugas dan tanggung jawab akan muncul semangat "CINTA" yang akan melandasi dan menimbulkan semangat pelayanan sepenuh hati. Pelayanan sepenuh hati dapat diartikan sebagai bentuk pelayanan yang dilandasi dengan ketulusan, kejujuran, dan keterbukaan dalam memberikan pelayanan kepada orang lain.

Tidak setiap individu mampu memberikan apa yang disebut dengan pelayanan sepenuh hati. Hal tersebut dapat diwujudkan jika dalam individu ditumbuhkan dan dikembangkan Komitmen antara individu dengan organisasi. Ketika komitmen mendasari setiap individu dalam melayani orang lain dengan kesepenuhan hati maka niscaya budaya organisasi akan terbentuk dengan sendirinya. Visi, misi, dan tujuan organisasi akan semakin mudah dicapai.

Daftar Pustaka
Allen, N.J & Meyer JP, 1993, Organizational Commitment, Journal of Businnes Research.
Hom, P & Griffeth, R, 1995, Employeee turnover, Southwestern

Ditulis oleh :
Ign. Dadut Setiadi Pengajar Progdi Ilmu Komunikasi dan Anggota The Soegijapranta Institute Unika Soegijapranata

Berkat / Nomor 87 / Tahun 2017

Kategori: ,