Kisah Mahasiswa Unika Yang KKN di Mentawai
Kamis, 18 Januari 2018 | 13:04 WIB

Dua mahasiswa dari Unika Soegijapranata baru saja kembali usai mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diadakan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) Mentawai. Kegiatan KKN diadakan oleh APTIK dalam rangka membantu memulihkan kondisi warga Mentawai pasca tragedi Tsunami yang menimpa warga pada 7 tahun silam.

Kegiatan diadakan oleh APTIK pada 10 Desember 2017 hingga 10 Januari 2018. Adapun dari Unika diwakili oleh Liliana Rahmadewi dari Progdi Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian dan Lukas Budi Setiawan dari Progdi Teknik Elektro Fakultas Teknik. Saat berada di lokasi, Liliana dan Lukas melaksanakan KKN di 2 lokasi yang berbeda, Liliana ditempatkan di Desa Sarausau sedangkan Lukas ditempatkan di Desa Tiop Besar. Kegiatan KKN diikuti oleh 27 mahasiswa dari 6 universitas antara lain : Unika Atma Jaya Jakarta, Universitas Parahyangan Bandung, Universitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Unika Soegijapranata Semarang dan Unika Widya Mandala Surabaya.

Satu Pasar dan Satu Bank

Berdasarkan penuturan Liliana dan Lukas, saat hari pertama berangkat, seluruh delegasi tidak langsung ditempatkan di lokasi Kepulauan Mentawai, melainkan menginap di Keuskupan Padang terlebih dahulu selama 2 hari  Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju Paroki Mentawai menggunakan Kapal Feri ‘Mentawai Fast’ di hari Selasa pagi karena jadwal keberangkatan ‘Mentawai Fast’ hanya ada di hari Selasa dan Kamis. Saat tiba di Kepulauan Mentawai, kapal merapat di Muara Siberut, sebuah dermaga kecil yang terletak di Pulau Siberut. Uniknya, di pusat kota Pulau Siberut hanya terdapat satu pasar yaitu Pasar Muara Siberut dan satu bank yaitu Bank Nagari untuk akses keuangan.

Larangan Mandi Diatas Jam 7 Malam

Keesokan harinya, para peserta KKN APTIK langsung diterjunkan ke lokasi KKN dan dihantar menggunakan Pong-Pong (perahu sampan) menyusuri Teluk Kature yang dikelilingi oleh Hutan Bakau dan Hutan Sagu. Saat tiba, para peserta disambut cukup meriah di Desa Tiop. Rata-rata dari tiap desa terdiri dari beberapa dusun misalnya saja Desa Tiop terdiri dari 3 dusun.

“Kalau di Dusun Sarausau, memang rata-rata penduduknya adalah pendatang dari Pulau Simangkat yang terkena tsunami. Berbeda dengan Dusun Tiop Besar, Di Dusun Sarausau, pengaruh modern sudah masuk sedangkan di Dusun Tiop Besar masih cukup kental adat budayanya. Mayoritas penduduk Dusun Sarausau merupakan keturunan campuran Batak dan Minang, dan uniknya ada adat yang mungkin bisa kita tiru dari mereka, salah satu contohnya  saat saya belum pulang hingga jam 9 malam, keluarga induk rela menunggu saya pulang untuk makan bersama setiap harinya.  Di Dusun Sarausau juga menerapkan larangan untuk mandi di atas jam 7 malam karena menurut kepercayaan setempat, masih banyak roh-roh yang bergentayangan yang bisa saja mengintip saat mandi” jelas Liliana

Menurut Liliana, kondisi tempat mandi di Dusun Sarausau cukup memprihatinkan karena lokasi bak mandi dan closet yang terpisah. Selain itu, kamar mandi tidak memiliki pintu karena pintu hanya terbuat dari terpal serta kondisi atap kamar mandi yang semi-outdoor. Sehingga, apabila ingin mandi, setidaknya para penduduk setempat minimal mengenakan celana agar tidak diintip oleh roh.

Kenakan Pakaian terbalik Saat Berkabung

“Di Dusun yang saya tempati, Dusun Tiop Besar, masalah pendidikan paling besar yang kami hadapi adalah kekurangan tenaga pengajar. Di Dusun Tiop Besar, kami memiliki sekolah di tingkat TK (Taman Kanak-Kanak) Yayasan Bhineka Tunggal Ika hingga SD (Sekolah Dasar) Negeri 9 Kature. Di Tingkat TK hanya terdapat 3 guru yang mengajar, sedangkan di tingkat SD hanya terdapat 4 guru yang mengajar. 4 Orang yang mengajar di tingkat SD sudah termasuk seorang guru yang menjabat Kepala Sekolah dan mereka juga mengajar dari kelas 1 hingga kelas 6. Selain itu, usia keterlambatan masuk sekolah juga masih tinggi misalnya saja di tingkat TK masih terdapat siswa yang berumur 7 tahun” tegas Lukas.

“Di Dusun Tiop Besar, budaya yang dipegang masyarakat setempat masih sangat kental misalnya saja yang pertama, setelah memotong Babi untuk keperluan konsumsi, seorang suami ataupun laki-laki tidak diperbolehkan menyentuh ataupun berhubungan seksual dengan sang istri ataupun perempuan selama 3 hari. Hal yang sama dilakukan juga setelah memotong ayam, hanya saja dibedakan oleh waktunya. Kedua, saat ada saudara yang meninggal, seluruh anggota keluarga, wajib mengenakan pakaian terbalik sebagai pemberitahuan berkabung pada masyarakat. Ketiga, seorang mempelai yang telah menikah tidak boleh mengunjungi rumah orangtuanya, sebelum dapat mengadakan pesta” tambah Lukas.

Baik Lukas maupun Liliana, keduanya sepakat salah satu nilai yang dapat dicontoh dari Penduduk Dusun Tiop maupun Sarausau adalah kebiasaan berbagi dan saling menghargai. Masyarakat saling menyapa saat berpapasan di jalan dan saat ada orang atau ada saudara yang kekurangan, masyarakat dan saudara banyak menyumbangkan hartanya untuk membantu meringankan beban mereka.  (Cal)

Kategori: ,

3 Responses to “Kisah Mahasiswa Unika Yang KKN di Mentawai”

  1. Stefanus says:

    Kisah yang menarik

  2. Sanpedro says:

    Beraniin banget

  3. Bertilia says:

    Wah, pengalaman yang sangat berharga ya 👍