Hidup Dalam Keugaharian
Selasa, 2 Januari 2018 | 14:06 WIB

Tribun 23_12_2017 Dadut

Sebelum merayakan Natal, umat Katolik mempersiapkan lahir dan batin selama 4 Minggu dengan ibadat yang dinamakan “Ibadat Adven”. Masa adven merupakan masa penantian, sehingga dalam penantian ini kita diharapkan menyiapkan anggota keluarga kita baik secara batin hingga lahir untuk bersyukur dan bertobat seperti tertulis dalam injil Lukas 21:28 “Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatmu sudah dekat”. Dalam masa adven ini kita semua diajak semakin bertobat dan mengutamakan pendidikan hati nurani untuk membangun kesadaran agar hidup kita semakin cerdas dan berselaras sebagai warga negara dan bangsa untuk mewujudkan manusia yang adil dan memiliki peradaban kasih dengan membangun sikap jujur, disiplin, mandiri, kritis dan peduli. Untuk mencapai cita-cita tersebut kita semua diajak untuk terlibat melalui berbagai cara mulai dari yang paling sederhana di dalam keluarga kita masing-masing untuk perlu menjauhkan diri dari sikap-sikap negatif tentang orang lain atau kelompok lain dan tindakan diskriminatif serta egosentris. Sebaliknya sebagai umat manusia yang di limpahi akal budi yang sehat kita perlu meningkatkan diri dalam usaha-usaha mewujudkan persaudaraan sejati, kerjasama antar agama untuk kepentingan masyarakat serta gerakan lain yang membawa kesejahteraan dan keadilan bagi banyak orang misal : Gerakan Aksi Puasa Pembangunan, karya-karya sosial untuk orang miskin, tanggap darurat bencana dll.

Kesejahteraan hati

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja – Geraja Indonesia (PGI) telah menetapkan bersama tema natal tahun 2017 : “Damai sejahtera Kristus benar benar memerintah dalam hati kita”(Kolose 3:15). Dalam tema ini para pimpinan gereja mengajak seluruh umat manusia Indonesia untuk semakin inklusif (terbuka) dan mewujudkan komitmen sebagai manusia Indonesia yakni menjadi pembawa damai dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kelahiran Yesus ke dunia sebagai janji Allah kepada manusia untuk menunjukkan betapa kasih Tuhan menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Tema natal tahun ini sangatlah tepat dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Dalam kehidupan bersama sebagai bangsa Indonesia, saat ini kita banyak mengalami berbagai situasi yang mengubah wajah Indonesia sebagai bangsa yang selalu mengedepankan keluhuran budi dan kesejahteraan hati, akhir-akhir ini berubah menjadi bangsa yang semakin melupakan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna ternyata sekarang menjadi ciptaan Tuhan yang berkuasa dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepuasan diri. Saat ini sebagai bangsa Indonesia kita sedang cemas. Persatuan Indonesia seperti yang tertulis dalam Sila ke 3 Pancasila sedang terancam perpecahan, karena ada pihak pihak yang secara tersamar dan terang terangan ingin menghancurkan dan mengganti Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Cita cita bangsa Indonesia yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 untuk menciptakan persatuan, keadilan sosial dan perdamaian kesejahteraan hati haruslah lebih diperjuangkan terus secara bersama sama oleh bangsa Indonesia dari berbagai suku, agama dan etnis yang hidup di bumi Indonesia tercinta.

Hidup Bersama dalam Keugaharian

Kalau kita renungkan dan amati mulai dari Sidang Agung Gereja Katolik (SAGKI), Masa Adven dan tema Natal tahun 2015 yang lalu “Keluarga” mendapatkan perhatian yang sangat besar. Hal ini bukanlah sebuah kebetulan tetapi Gereja Indonesia merasakan pentingnya dimunculkan tentang kehidupan bersama dalam keluarga, karena kehidupan bangsa dan negara itu awalnya terpusat dari situasi dan kondisi keluarga masing-masing. Bangsa Indonesia mempunyai budaya yang luhur dan dijunjung tinggi saat ini yaitu gotong royong yang sampai sekarang masih terus dilestarikan dalam kehidupan bersama dalam masyarakat. Karena kehidupan yang dijalani oleh umat manusia dewasa ini bersifat misioner artinya bahwa kehidupan ini ditujukan untuk berbuat baik dan bermakna bagi sesama manusia. Untuk mengusahakan hidup yang misioner maka dalam masing-masing keluarga harus mengusahakan dengan perencanaan hidup yang lebih baik, tanggungjawab sosial yang tinggi, kematangan hidup, keterbukaan dan kerjasama dengan siapapun juga secara terbuka.

Bangsa Indonesia kedepan akan menjadi semakin baik jika keluarga-keluarga telah mempersiapkan para generasi muda dibekali dengan pendidikan-pendidikan yang menyentuh hati nurani. Dalam kehidupan sehari-hari keluarga perlu dibangun dan dihidupkan sikap “Ugahari” atau kesederhanaan, secukupnya, sakmadya memiliki konotasi moral sebagai sebuah sikap hidup.

Sikap hidup itu adalah sebuah pilihan pribadi yang merdeka-otonomi-mandiri, maka ugahari merupakan sebuah sikap yang dipilih bukan karena keterpaksaan. Sikap ugahari juga mengandung unsur asketis atau mati raga (Theodorus Sudimin dan Yoh. Gunawan, 2015). Uskup pertama KAS Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ dalam ceramah pembukaan “ Pertemuan Panitya Sosial Para Wali Gereja Indonesia” di Yogyakarta 11-16 Agustus 1957 mengatakan bahwa….dengan hidup jang sederhana, bersahadja dan beruga-hari, dengan bekerja jang keras, golongan katolik patutlah merupakan golongan jang ekonomist dapat berdiri sendiri, mampu memenuhi keperluan hidup perseorangan dan bersama tiada dengan sokongan dari mana dan dari siapapun djuga, tak tertekan oleh perasaan hutang piutang”.

Jika masing-masing keluarga yang hidup di bumi Indonesia ini benar-benar mendalami dan memperjuangkan kehidupan bersama dalam keluarga dengan keugaharian, niscaya dalam keluarga-keluarga akan menghasilkan anak-anak yang kelak menjadi pewaris bangsa ini akan mempunyai keutamaan hidup dan sikap hidup dengan kesederhanan, kemandirian dan kemerdekaan sebagai salah satu sikap moral yang mempunyai fungsi menjadi perisai hidup dalam menghadapi kenikmatan dan kesenangan yang bersifat duniawi seperti materialistik dan hedonis serta korupsi.

Semoga keluarga-keluarga di bumi Indonesia ini semakin mampu menghidupkan kebersamaan dalam keugaharian atau kesederhanaan untuk menghadapi perkembangan jaman yang telah dikuasai oleh gaya hidup kemewahan dan bercorak materialistik. Selamat Natal.

 

Ign. Dadut Setiadi
Pengajar Prodi Ilmu Komunikasi dan
Anggota The Soegijapranata Institute
Unika Soegijapranata Semarang

(►Tribun Jateng 23 Desember 2017)

Kategori: ,