Bijak Menghadapi Era Disrupsi
Kamis, 25 Januari 2018 | 8:39 WIB

RDRS 24_01_2018 Bijak Menghadapi Era Disrupsi

KETIKA ada kebijakan non cash atau harus pakai kartu elektronik untuk lewat gerbang tol maka terjadi demo atau keresahan masyarakat. Demikian pula muncul penolakan atau keresahan masyarakat terhadap taksi online dan gojek online. Lain halnya ketika memberi makan anak-anak kecil dan susah membuat anak konsentrasi, maka gadget atau HP diberikan ke anak untuk mainan sambil disuap makan. Fenomena dimana ada perubahan mendadak tidak terduga atau disrupsi akan terus terjadi. Bagaimanakah sebaiknya kita menghadapi situasi disrupsi seperti ini?

Disrupsi ini akan selalu terjadi diberbagai bidang. Dibidang SDM akan memunculkan alat otomatis yang membuat sedikit pekerja. Dibidang keuangan muncul ATM dimana-mana dan semakin sedikit cabang dan teller dibutuhkan. Fintech atau financial technology akan berkembang terus. Dibidang marketing sudah diketahui bersama adanya E-Marketing, jual beli lewat online dan sebagainya. Dibidang operation muncul alat-alat otomatis dengan sedikit pekerja. Kapabilitas pekerja juga dituntut menguasai teknologi dan berbagai bahasa secara global.

Perubahan di bidang teknologi saat ini sangat cepat terasa. Product development atau perkembangan produk sebetulnya mengikuti customer value management CVM (manajemen nilai pelanggan).  CVM mengatur nilai yang diminati pelanggan untuk setiap produk yang diluncurkan untuk pasar. Harga murah untuk nilai pelanggan yang terbatas. Harga mahal untuk nilai pelanggan yang premium. Kemampuan Pelanggan mempersepsi nilai produk akan  menyerap perkembangan produk yang ikut menentukan arah perkembangan atau market driven selain market driving atau pengembangan teknologi semata.

Produk konsumtif misalnya smartphone terlihat sekali perubahannya dari waktu ke waktu secara cepat. Sedangkan teknologi yang baru semakin bertambah kecepatannya dari 2G ke 3G bahkan sampai 4G. atau kemampuan memory yang semakin besar tidak hanya 8 GB tetapi menjadi 16 GB bahkan 32 GB, 64 GB dan seterusnya. Demikian juga perkembangan kamera dari yang semakin canggih, dan juga kecepatan RAM-nya dan sebagainya. Persaingan antar merek sangat intens dan sangat cepat yang dipandang disruptif. Setiap spesifikasi produk punya segmen tersendiri. Butuh kejelian pemasar untuk mengenali target segmen seperti ini agar pemasar tetap survive di era disrupsi demikian. Namun gejolak masyarakat tidak seperti kondisi aplikasi teknologi di bisnis yang menyentuh masyarakat. Mengapa? Karena smartphone yang lama masih bisa dipakai namun  dengan kemampuan terbatas. Di lain pihak aplikasi gojek online membuat gojek tradisional merasa kehilangan penumpang, padahal yang terjadi munculnya fenomena segmen pasar baru atau pergeseran pasar.

Melihat perkembangan demikian maka bisa dipahami bahwa terjadi  pasar yang semakin terfragmentasi atau tersegmentasi menjadi kelompok yang spesifik, menjadi ceruk pasar atau market niche. Bahkan market cenderung individualized, setiap konsumen bisa menentukan produk atau jasa yang diharapkan. Produk yang bagus tidak lagi dipandang bagus ketika tidak bisa didapatkan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Konsumen ingin produk yang tepat waktu, tepat jumlah, tepat kualitas dan mudah didapat. Kemudian muncul fenomena go-food, dimana aplikasi teknologi menjadi solusi. Muncullah segmen konsumen yang butuh pengiriman makanan. Demikian juga ada segmen unik yaitu bisnis sewa kasur untuk hotel atau tempat penginapan yang butuh extra bed dimusim liburan dan sebagainya.

Pemasaran atau marketing tidak lagi dipahami 4P hanya dari sisi pemasar yaitu produk (product), harga (price), tempat (place) dan promosi  (promotion). Di lain pihak pemasaran dari sudut pandang konsumen 4C maka produk harus menjadi  solusi masalah atau nilai bagi konsumen (customer value atau solution), biaya (cost), kenyamanan (convenience) dan komunikasi (communication).

Konsep produk saat ini sudah meluas. Bukan hanya barang atau goods yang dibutuhkan konsumen. Dibutuhkan pengenalan produk yang spesifik, atau pembeda dengan nama atau jaminan yang kita kenal sebagai merek atau brand. Merek menjadi jaminan mutu dan kepercayaan konsumen, maka kalau membuat nama merek bukan sekedar membuat nama. Di balik itu semua harus diupayakan proses pembuatan produk yang berkualitas. Menjaga kualitas dengan menarik produk untuk jangka waktu tertentu agar tidak beredar produk yang sudah jelek.

Kepercayaan atau trust harus dijaga dengan mengganti produk yang jelek yang menjadi komplain atau keluhan pelanggan. Jangan sampai kepercayaan konsumen hilang, lebih baik perusahaan rugi mengganti produk baru daripada kehilangan kepercayaan konsumen sepenuhnya. Konsumen yang tidak puas cenderung tidak kembali atau tidak membeli. Maka perlu diatasi segera. Kepercayaan konsumen yang terjaga dengan baik akan membuat ekuitas merek atau brand equity yang kuat. Maka begitu konsumen mencari produk itu bila yang teringat pertama kali nama produk atau merek itu maka merek itu menjadi merek kuat atau strong brand. Hendaknya nama merek produk dalam negeri semakin kuat di pasar local guna menghadapi global brand. Kekuatan merek global adalah pada jaminan kualitas dan menjaga kepercayaan. Local brand bila dikelola dengan baik juga bisa melakukan hal yang sama.

Era disrupsi teknologi akan memunculkan fenomena baru yaitu ada segmen-segmen pasar yang bisa jadi berbeda sama sekali dengan segmen pasar sebelumnya. Kemampuan mengantisipasi dan melayani segmen pasar ini membutuhkan kemampuan penguasaan teknologi yang berkembang pesat saat ini.

Dalam beberapa bulan ke depan ini para dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata akan membahas perkembangan yang ada dan menampilkan aplikasi ilmu masing-masing baik dari sudut pandang ilmu ekonomi, manajemen, akuntansi, maupun perpajakan. Semoga berbagai sudut pandang iilmu masing-masing ini memperkaya pengetahuan kita dan menjadi semakin bijak menghadapi era disrupsi saat ini.  (*/bas)

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Soegijapranata

https://radarsemarang.com

Kategori: