Unika Soegijapranata Semarang Hadirkan Stakeholder Bahas Wayang Orang
Selasa, 19 Desember 2017 | 17:40 WIB

Bertempat di Gedung Mikael Lantai 4 Kampus Unika Soegijapranata Jalan Pawiyatan Luhur IV Nomor 1 Bendan Dhuwur Kecamatan Banyumanik Kota Semarang, Rektor Unika Soegijapranata Ridwan Sanjaya mengundang beberapa tokoh (stakeholder), Selasa (19/12/2017) siang.

Dia mengundang beberapa stakeholder dan beberapa pembicara untuk mendiskusikan tentang masa depan wayang orang, khususnya Ngesti Pandawa yang dinilainya telah menjadi ikon budaya di Kota Semarang dan sangat pantas untuk tetap dipertahankan atau dilestarikan.

Beberapa yang dijadikan pembicara utama dalam diskusi panel itu adalah Pengelola Ngesti Pandawa sekaligus Dosen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip) Semarang Dr Dhanang Respati Puguh.

Lalu, Direktur Fasilitasi Infrastruktur TIK Bekraf Muhammad Neil El Himam dan Kabid Pengembangan SDM dan Parekraf Dinas Pemuda, Olah Raga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah Trenggono. Adapun undangan ada beberapa perwakilan dari akademisi, pegiat pariwisata, hingga asosiasi travel kepariwisataan Jawa Tengah.

“Secara umum, kami undang mereka dan ajak berdiskusi untuk mengajak semua pihak bersama-sama mencari solusi agar seni-budaya tetap terjaga, bertahan, terjaga, dan bahkan berkembang. Satu di antaranya yang kami tawarkan adalah melalui pemanfaatan teknologi,” tutur Ridwan Sanjaya.

Kepada Tribunjateng.com, Selasa (19/12/2017), dia mengutarakan, ada salah persepsi ketika pertunjukan wayang orang Ngesti Pandawa semakin sepi penonton karena semakin banyak generasi muda yang meninggalkan atau tidak suka.

“Itu terbantahkan dari hasil penelitian yang kami lakukan. Penyebab utamanya karena semakin tidak dikenal terutama oleh anak muda. Tidak dikenal karena pula kurang terakses informasinya oleh mereka. Padahal, 50 persen dari total responden, mereka tertarik terhadap pertunjukan wayang orang itu,” tandasnya.

Secara mudahnya, lanjut Ridwan, total responden ada sekitar 100 anak muda di Kota Semarang. Dan pendapat dari para generasi centennial, meskipun pemahaman mereka terhadap cerita yang dipertontonkan dalam wayang orang hanya sekitar 37 persen. Tetapi mereka tertarik untuk menyaksikannya.

“Kendala yang dihadapi mereka, 93 persen adalah akses informasi atas pertunjukan yang hendak ditonton. Karenanya, sebesar itu pula, mereka sangat butuh pihak pengelola, tak terkecuali Ngesti Pandawa untuk dapat memanfaatkan teknologi, setidaknya informasi melalui sosial media,” terangnya.
Ridwan menggarisbawahi, dari hal itu pihaknya mencoba mengajak diskusi seluruh stakeholder untuk bersama-sama melestarikan wayang orang Ngesti Pandawa di Kota Semarang. Pihaknya menyadari untuk melakukannya tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, akademisi, maupun pengurusnya.

“Dibutuhkan kerja sama secara kompak dan berkelanjutan antara pengelola, pemerintah, pebisnis, akademisi, travel agen, hingga pegiat atau praktisi seni-budaya. Itu pula yang kami harapkan dari diskusi tersebut. Semoga ada gambaran nyata langkah apa saja yang perlu dilakukan agar Ngesti Pandawa tidak terkesan mati suri, bisa berkembang esoknya,” tandas Ridwan.

(http://jateng.tribunnews.com)

Kategori: