Unika Soegijapranata Gelar penelitian dan Diskusi Terkait Masa Depan Wayang Orang
Rabu, 20 Desember 2017 | 14:02 WIB

TRB 20_12_2017 Unika Soegijapranata Gelar Penelitian_0001

■ Ngesti Pandowo Harus Jadi Laboratorium Budaya

Kabid Pengembangan SDM dan Parekraf Disporapar Jawa Tengah Trenggono, mengatakan, Ngesti Pandawa telah menjadi destinasi di Kota Semarang. Itu sebabnya, wayang orang tersebut seharusnya tak hanya sebagai pertunjukan tetapi juga laboratorium budaya. Hal ini diungkapkan Trenggono dalam diskusi panel bertajuk Masa Depan Wayang Orang di Indonesia di Gedung Mikael Lantai 4 Kampus Unika Soegijapranata, Jalan Pawiyatan Luhur IV Nomor 1, Kota Semarang, Selasa (19/12).

"Ngesti Pandowo itu sudah menjadi branding dan destinasi di Kota Semarang. Harusnya, tak hanya menyajikan tontonan tetapi juga menjadi laboratorium budaya yang hidup dan menjadi tuntunan serta tatanan," kata Trenggono.

Dalam diskusi ini juga hadir Rektor Unika Soegijapranata Ridwan Sanjaya, Kabid Pengembangan SDM dan Parekraf Disporapar Jawa Tengah Trenggono, serta Pengelola Ngesti Pandowo Dhanang Respati Puguh.

Trenggono menambahkan, sebagai destinasi, ada 3A sebagai unsur pendukung, yakni atraksi, aksesbilitas dan amenitasnya. Dan Ngesti Pandawa dinilai lemah di sisi amenitas.

"Amenitasnya perlu ditata lagi agar wisatawan atau penonton kerasan. Kami yakin, bisa dilakukan asal semua pihak mau bersama-sama bertindak," katanya.

Sementara, Direktur Fasilitasi Infrastruktur TIK Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Muhammad Neil El Himam, mengatakan, mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang bisa ambil bagian dalam mengembangkan Ngesti Pandowo. Satu di taranya, membuat game berbasis telepon seluler (ponsel).

"Game tersebut bisa mengedukasi masyarakat. Jadi, ada nilai-nilai positif di dalamnya Itu, juga menjadi bagian dari pemanfaatan teknologi informasi yang berperan sangat signifikan di zaman ini. Serta masuk di dalam suatu ekosistem digital," tutur Neil.

Menurut Neil, pertunjukan wayang orang masuk dalam sub sektor ekonorni kreatif. Dia pun mengapresiasi langkah Unika Soegijapranata yang setahun terakhir meneliti seni-budaya wayang orang Ngesti Pandowo.

“Kami sepakat dengan hasil penelitian yang telah dilaksanakan tim peneliti Unika Soegijapranata tersebut. Agar semua usaha dapat berkembang, tak terkecuali di seni-budaya, siapapun tak bisa menghindari masa dimana semuanya masuk ke era digital," tuturnya.

Lewat digitalisasi itu, kegiatan terkait pertunjukan Ngesti Pandowo bisa diinventarisasi. Misalnya, penjualan tiket, segmen penonton yang datang, juga kota asal penonton. Pihaknya siap membantu menyediakan fasilitas untuk mewujudkan.

Ketua Tim Peneliti sekaligus Rektor Unika Soegijapranata Semarang Ridwan Sanjaya mengungkapkan, penelitian yang dilakukannya terkait keberadaan Ngesti Pandowo yang seolah tak bisa berkembang.

Solusi yang ditawarkan timnya, melalui pemanfaatan teknologi informasi. Dari situ, semakin terbuka akses orang di luar Kota Semarang terhadap seni pertunjukan itu.

"Temuan dari penelitian kami generasi muda sebenarnya masih tertarik menonton wayang orang. Besarannya mencapai sekitar 50 persen dari total responden yang kami teliti. Meskipun 37 persen diantaranya kurang begitu paham terhadap cerita yang dipertonton" terang Ridwan.

(►Tribun Jateng , 20 Desember 2017, hal. 15)

Kategori: