Tiga Alumni Luncurkan Game Sejenis Pokemon Go
Senin, 18 Desember 2017 | 10:10 WIB

Pada periode awal 2000an, saya ingat dengan sebuah majalah anak-anak yang terbit mingguan, namanya Bobo, majalah populer anak-anak Indonesia yang diterbitkan oleh Kelompok Kompas Gramedia. Satu hal yang paling saya ingat dari majalah itu adalah slogan singkatnya yang berbunyi “Teman bermain sambil belajar”. Pada waktu itu majalah itu benar-benar berfungsi sebagai sarana hiburan sekaligus edukasi yang dibungkus dengan bahasa yang santai dan menyesuaikan umur dari pembacanya.

Saat ini, sarana pembelajaran sudah jauh lebih berkembang dibandingkan dengan zaman ketika saya kecil dulu. Kalau dulu, belajar selalu diidentikkan dengan hal-hal yang berbau serius seperti buku-buku dan tempat-tempat les privat. Seiring kemajuan teknologi komunikasi, kegiatan belajar bisa dilakukan di manapun dan  melalui media apapun, bahkan lewat permainan yang ada di ponsel pintar kita.

Hal inilah yang melatarbelakangi Andre, Hening, dan Papam, tiga alumni dari program S1 Game Technology Unika Soegijapranata untuk menciptakan game-game edukatif dengan teknologi terkini pada saat tugas akhir. Selain berfungsi sebagai hiburan, mereka berhasil membuat sebuah game yang memiliki nilai lebih, yaitu menghasilkan game dengan jenis AR (Augmented Reality). Game berjenis AR menggabungkan benda maya 2D atau 3D untuk kemudian diproyeksikan dalam ruang nyata. Contoh game berjenis AR yang sangat akrab dengan kita ialah Pokemon Go.

Andre Kurniawan, dengan semangatnya yang tinggi untuk memperkenalkan kearifan lokal dari kota Semarang, berhasil menciptakan sebuah game berjenis AR (Augmented Reality) yang ia beri nama Find Me: Lawang Sewu. Lewat wawancara singkat, ia menjelaskan bahwa Lawang Sewu adalah salah satu peninggalan sejarah yang memiliki daya tarik tinggi dan patut dipromosikan. Lewat Game yang ia buat, ia bertujuan menarik sebanyak mungkin pengunjung untuk datang ke Lawang Sewu dan belajar segala macam sejarah yang ada di dalamnya. Selanjutnya, Andre juga menuturkan bahwa game ini menariknya hanya bisa dimainkan di lokasi Lawang Sewu.

Sedikit berbeda dengan Andre, Hening memfokuskan game yang ia buat ini sebagai media untuk mengangkat macam-macam fauna lokal di Indonesia yang keberadaannya mulai terancam. Hening merasa bahwa kepedulian masyarakat terhadap aneka satwa di Indonesia masih sangat minim. Ia teringat kasus kematian seekor gajah yang kelaparan di sebuah kebun binatang di Bandung pada tahun 2016. Lewat game ini, ia berupaya untuk membangkitkan kembali rasa kepedulian masyarakat tentang keberadaan keberagaman aneka satwa yang ada di Indonesia. Game yang ia buat ini juga berjenis AR. Ketika ponsel diarahkan ke buku cerita yang ia bikin, game 3D akan muncul di atasnya. Menurut riset yang ia baca dari tim Neurobiologi di University of California, game dengan grafis 3D mampu meningkatkan daya ingat karena informasi spasial yang ia punya.

Lain lagi halnya dengan Papam, mahasiswa yang bernama lengkap Baskara Arya Pranata ini fokus untuk mengangkat kembali lagu-lagu daerah dari Indonesia. Lewat game berbasis AR yang ia beri nama Tembang ini, ia beranggapan bahwa game juga mampu mengangkat kembali lagu-lagu daerah yang mulai agak dilupakan. Cara kerja game ini adalah dengan mengarahkaan ponsel ke peta Indonesia yang telah disediakan. Setiap wilayah akan menampilkan lagu daerah dan kuis yang terkait. Pada akhir wawancara, ia memberi sedikit bocoran tentang 2 game yang sedang ia kerjakan saat ini. “Dalam waktu dekat ini, Raxeon (nama start-up yang ia kembangkan dan menjadi tempat ia bernaung kini) sedang membuat 2 game, yaitu game lanjutan Joker (Jomblo Keren) dan game bertema masakan Indonesia yang akan di Luncurkan akhir tahun ini”. Patut ditunggu tentunya.

Semakin hari, perkembangan game semakin menunjukkan sifat positifnya. Banyak orang masih beranggapan bahwa game sering membawa dampak adiktif dan membuang waktu, tapi dengan karya yang berhasil dibuat oleh tiga alumni ini, kita bisa berharap game yang nereka hasilkan mampu menunjukkan dampak positifnya untuk membantu kita memperkaya diri dengan pengetahuan baru yang ia tawarkan. Dan yang lebih penting, kita harus mengubah persepsi kita dan memandang game sebagai “Teman bermain dan belajar”. (ASK)

Kategori: ,