Tidak Perlu Lembur Sampai Pagi
Rabu, 6 Desember 2017 | 8:02 WIB

Dayvelin Samantha atau yang kerap disapa Dayvelin menjadi wisudawati terbaik dari Fakultas Teknologi Pertanian Program Studi Teknologi Pangan pada wisuda periode III tahun 2017 Unika Soegijapranata. Wanita kelahiran Surabaya, 22 Mei 1995 ini melakukan penelitian dalam skripsinya yang berjudul “Karakteristik Fisikokimia, Sensori, dan Kandungan Kalori dalam Roti Bebas Gluten yang Disubstitusi dengan Tepung Beras”.  Wanita yang mengambil program di bidang Nutrisi dan Teknologi Kuliner ini mengaku bahwa dirinya tidak menyangka bisa menjadi wisudawan terbaik Unika untuk program Teknologi Pangan. “Yang pasti senang sekali karena bisa membanggakan orang tua dengan prestasi kita,” ungkapnya.

Selama kuliah, Dayvelin banyak mengisi kegiatannya dengan menjadi asisten mahasiswa untuk praktikum. Ia juga menjadi panitia Sie konsumsi dalam event Food Festival yang digelar di Balaikota tahun 2015.

Dayvelin mempunyai strategi tersendiri dalam mengatur waktunya selama kuliah untuk belajar, mengerjakan tugas, dan kegiatan lainnya. “Sebenarnya sudah terbiasa sejak SMA untuk mengatur waktu antara sekolah dan kegiatan pelayanan di luar. Jadi waktu kuliah juga sudah bisa membagi waktu antara belajar dan kesibukan lainnya. Waktu kuliah, biasanya ada praktikum sampai malam lalu besok paginya ada kelas dan sore ada kuis untuk praktikum. Jadi habis pulang malam praktikum, biasanya langsung belajar untuk bahan kuis besoknya. Sampai pernah kalau pergi makan malam juga bawa buku praktikum. Untuk deadline laporan juga ada waktu 1 minggu setelah praktikum selesai, tapi saya membagi waktu dengan mencicil laporan sebelum praktikum selesai, walaupun cuma format dan metode praktikum. Jadi beberapa hari sebelum deadline sudah selesai semua dan tidak perlu lembur-lembur sampai pagi. Jadi sisa hari-hari itu bisa digunakan untuk kesibukan pelayanan di luar,” terangnya.

Dalam skripsinya, ia meneliti mengenai roti bebas gluten yang disubstitusi dengan tepung beras. Kemudian diteliti dari segi fisik yang meliputi tekstur, pori-pori, volume pengembangan, dan warna. Selain itu, juga dilakukan uji proksimat dan total kalori. Ia mengaku mengalami beberapa kesulitan dan tantangan dalam melakukan penelitian untuk skripsinya. Namun hal itu tak lantas menurunkan semangatnya. “Tepung yang dipakai untuk bahan penelitian adalah tepung impor dan tidak dijual bebas di supermarket, harganya juga mahal. Jadi waktu itu bisa beli langsung 5 kg di supplier salah satu hotel di Semarang tempat saya magang untuk topik skripsi. Kalau tepungnya sampai kurang, saya juga bingung harus beli di mana selain di tempat itu. Jadi, harus diatur dengan baik bagaimana caranya supaya tepung itu cukup sampai akhir penelitian. Selain itu, juga ada uji-uji yang harus diulang-ulang karena hasilnya acak. Data yang diolah juga ada yang jelek, jadi mau tidak mau harus buat produk lagi dan diteliti lagi. Yang pasti supaya tetap maju harus saling support antar teman, khususnya yang melakukan penelitian bareng kita. Dan yang pasti semuanya itu dibawa dalam doa supaya semuanya bisa cepat selesai,” ungkapnya.

Ia berharap supaya ke depannya Unika tetap menjadi universitas terbaik, dapat menjadi berkat bagi banyak orang, dan bisa menghasilkan mahasiswa-mahasiswa berkualitas yang siap untuk bekerja. Ia juga berpesan untuk adik kelas supaya tetap melakukan bagian yang tebaik, “Tetap lakukan bagian kalian yang terbaik seperti untuk Tuhan dan jangan banyak mengeluh karena semua yang kalian kerjakan selama masa kuliah tidak ada yang sia-sia, dan semuanya akan indah pada waktunya,” pungkasnya. (B.Agth)

Kategori: ,