Rektor Sambut Petani Pati dengan Cinta Sesuai Ensiklik Laudato Si
Selasa, 12 Desember 2017 | 14:23 WIB

Beritasatu 11_12_2017 Rektor Sambut Petani Pati dengan Cinta Sesuai Ensiklik Laudato Si

Rombongan para petani pejuang kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan dari Pati datang ke Unika Soegijapranata Semarang untuk curhat atau mengadu atas perasaan, pengalaman dan perjuangan mereka, khususnya dalam hal sikap tegas menolak pabrik semen di Kawasan Pegunungan Kendeng, Senin (11/12/2017).

Rombongan yang sebagian besar beranggotakan para ibu itu didampingi oleh Gunritno dan diterima oleh Rektor Unika Soegijapranata, Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya MSIEC. Prof Ridwan didampingi oleh Benny Danang Setianto SH LLM MIL sebagai Wakil Rektor IV, dan Romo Aloys Budi Purnomo Pr, Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata.

Kepada para petani pejuang keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup ini, kata Romo Budi, Prof Ridwan menegaskan keberpihakan pada perjuangan mereka demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

“Prof Ridwan juga menyebut bahwa kehadiran para petani di Unika Soegijapranata membuat kita semua sadar dan ingat akan pesan Paus Fransiskus dalam Ensikliknya yang berjudul Laudato Si’ (LS) yang diterbitkan pada tanggal 24 Mei 2015,” kata Romo Budi.

Mendengar Prof Ridwan mengutip Laudato Si’ dari Paus Fransiskus, Romo Budi pun jadi ingat bagian-bagian pokok ketika Paus Fransiskus menegaskan bahwa penghancuran lingkungan manusia merupakan perkara sangat berat, bukan hanya karena Allah telah mempercayakan dunia kepada manusia, tetapi karena hidup manusia itu sendiri merupakan hadiah yang harus dilindungi dari berbagai bentuk degradasi.

Paus Fransiskus, lanjut Romo Budi, juga menyerukan bahwa setiap upaya untuk melindungi dan memperbaiki dunia manusia memerlukan perubahan besar dalam gaya hidup, dalam pola produksi dan konsumsi, begitu juga dalam sistem maupun struktur pemerintahan yang sudah baku, yang sekarang ini menguasai masyarakat (LS 6).

“Tantangan yang mendesak untuk melindungi rumah kita bersama mencakup upaya menyatukan seluruh keluarga manusia guna mencari bentuk pembangunan berkelanjutan dan integral, karena kita tahu bahwa perubahan itu dimungkinkan. Sang Pencipta tidak meninggalkan kita; ia tidak pernah meninggalkan rencana kasih-Nya atau menyesal telah menciptakan kita,” kata Romo Budi.

Paus Fransiskus, lanjut Romo Budi, mengingatkan bahwa umat manusia masih memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam membangun rumah bersama. “Paus Fransiskus menyebut, bumi kita adalah rumah kita bersama yang harus kita jaga, jangan sampai dihancurkan oleh ketamakan dan keserahan segelintir manusia yang dikuasai oleh egoisme kapitalis dan arogansi kekuasaan,” katanya.

Itulah sebabnya, Paus Fransiskus menulis dengan tulus, "Di sini saya ingin mengakui, memberi dorongan, dan berterima kasih kepada semua orang yang dalam pelbagai bidang aktivitas manusia yang sangat beraneka ragam, berjuang untuk menjamin perlindungan rumah yang kita bagi. Apresiasi khusus perlu diberikan kepada mereka yang tanpa lelah berusaha mengatasi efek tragis degradasi lingkungan bagi kehidupan orang-orang termiskin di dunia. Orang-orang muda menuntut perubahan. Mereka bertanya-tanya bagaimana orang bisa mengklaim membangun masa depan yang lebih baik tanpa memikirkan krisis lingkungan dan penderitaan mereka yang dikucilkan." (LS 13)

Lebih lanjut Paus Fransiskus menulis, "Saya mengundang dengan mendesak agar diadakan dialog baru tentang bagaimana kita membentuk masa depan planet kita. Kita memerlukan percakapan yang melibatkan semua orang, karena tantangan lingkungan yang kita alami, dan akar manusianya, menyangkut dan menjadi keprihatinan kita semua. Gerakan ekologi di seluruh dunia telah membuat kemajuan besar dan berhasil membentuk berbagai organisasi yang berkomitmen meningkatkan kesadaran terhadap tantangan-tantangan ini." (LS 14)

Oleh karena itu,kata Romo Budi,kehadiran para petani dari Pati ke Unika Soegijapranata pun ditempatkan dalam konteks pesan Paus Fransiskus tersebut.

“Sangat bagus ketika Prof Ridwan juga menegaskan sikapnya untuk taat kepada Paus Fransiskus yang sudah menyerukan agar kita menjaga bumi ini sebagai rumah kita bersama. Tentu, hal ini tidaklah mudah, ujarnya.

Karena itu, Paus Fransiskus pun mengakui bawha banyak upaya untuk mencari solusi konkret atas krisis lingkungan mengalami kegagalan, tidak hanya karena perlawanan dari mereka yang kuat, tetapi juga karena kurangnya minat dari yang lain. Paus Fransiskus menulis, "Sikap menghalangi, bahkan dari orang-orang beriman, dapat berbentuk penyangkalan masalah sampai dengan ketidakpedulian, pasrah secara acuh tak acuh, atau kepercayaan buta terhadap solusi teknis. Kita
membutuhkan solidaritas baru dan universal." (LS 14).

Bahkan, masih kata Romo Budi, terdapat satu ungkapan dari Paus Fransiskus yang sejujurnya sama dengan motto Unika Soegijapranata agar manusia mengembangkan bakat dan talentanya untuk kepentingan bangsa dan umat manusia.
Paus Fransiskus mengatakan, "bakat dan komitmen setiap orang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh manusia yang menyalahgunakan ciptaan Allah …. Kita semua dapat bekerja sama sebagai instrumen Allah untuk melindungi keutuhan ciptaan, masing-masing sesuai dengan budaya, pengalaman, prakarsa, dan bakatnya sendiri." (LS 14).

Menanggapi kehadiran para petani itu, Prof Ridwan mengatakan, "Jangan khawatir. Bersama semua pihak, kita akan mendukung perjuangan bapak-ibu semua. Apalagi, Paus Fransiskus juga mendorong kita semua untuk melindungi bumi sebagai rumah kita bersama."

Pada kesempatan itu, Benny seperti diungkapkan Romo Budi, juga menegaskan bahwa upaya-upaya untuk membantu perjuangan demi menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup tidak pernah boleh berhenti.
Benny juga menawarkan, kemungkinan pada Hari Bumi tahun depan, diadakan aksi dalam rangka mencintai bumi dan kreativitas para petani agar para mahasiswa dan siapa saja bisa mendengar seruan perjuangan para petani sekaligus terlibat aktif dalam mendukung gerakan mereka.

Sementara itu, selain mengutip pernyataan Paus Fransiskus, Romo Budi juga mengajak rombongan untuk menyanyikan tembang mereka yang isinya sama persis dengan keprihatinan Paus Fransiskus, "Ibu Bumi wis maringi, Ibu Bumi dilarani, Ibu Bumi kang ngadili…" (Bumi Pertiwi sudah memberi, Bumi Pertiwi disakiti, Bumi Pertiwi yang akan membalasnya…) Pertemuan itu diakhiri dengan menyanyikan tembang langgam "Ibu Pertiwi" oleh para petani.

Dialog yang intinya berupa curhat dan mengadu di dunia sivitas akademika Unika Soegijapranata itu diharapkan menjadi seruan yang didengarkan pula oleh pihak-pihak terkait, baik penguasa maupun pengusaha, agar menghentikan sikap serakah merusak bumi demi keuntungan sesaat yang justru akan membuat masa depan masyarakat sekarat!

“Melalui refleksi ini, saya meneruskan seruan mereka, semoga mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait, penguasa dan pengusaha, agar menghentikan niatnya membangun pabrik semen di lahan yang saat ini diolah oleh para petani untuk menyediakan bahan pangan bagi kesejahteraan masyarakat kita,” kata Romo Budi.

“Atas nama para petani, saya yang selama ini turut berjuang bersama mereka, menghaturkan terima kasih kepada Unika Soegijapranata Semarang, yang berkenan menerima mereka dan mendukung perjuangan mereka demi menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup. Kiranya, perjuangan mereka tidak berlawanan dengan visi dan motto Unika Soegijapranata agar kita mengembangkan talenta dan bakat kita demi bangsa dan kemanusiaan yang sejahtera dan bermartabat. Semua dipertemukan dalam bingkai menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup,” pungkas Romo Budi.

(►http://www.beritasatu.com)

Kategori: