Pola Konsumsi Bergeser dari Barang ke Rekreasi
Jumat, 15 Desember 2017 | 8:33 WIB

SM 14_12_2017 Pola Konsumsi Bergeeser dari Barang ke Rekreasi

Pola konsumsi masyarakat bergeser dari barang ke rekreasi (leisure). Kini, orang lebih senang rekreasi daripada membeli barang. Pergeseran itu antara lain didorong oleh perubahan gaya hidup karena kemajuan teknologi informasi.

Sekarang, orang sangat mudah mengakses informasi dan tarif murah transportasi. Pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan, berfoto selfie, menceritakan pengalaman, dan mengunggah di media sosial menjadi gaya hidup yang mengasyikkan. Daya beli tidak menurun, karena data menunjukkan kredit konsumtif meningkat, deposito bertambah, kredit macet menurun. Orang cenderung memilih rekreasi dan menunda belanja barang dengan menabung di bank.

Hal itu terungkap pada Seminar ”Outlook Ekonomi Kota Semarang Tahun 2018 menuju Semarang Hebat”, Selasa lalu Narasumber dosen Unika Soegijapranata Angelina Ika Rahutami, Wakil Direktur Bank Indonesia Jateng A Reina Sari H, Kabid Perencanaan Perekonomian Bappeda Kota Semarang Pitoyo Tri Susanta, dan dipandu Kepala Pusat Studi Tata Kelola Perusahaan dan Pengembangan Bisnis Untag Semarang Adi Ekopriyono.

Barometer Jateng

Ketiga pembicara sepakat Kota Semarang barometer perekonomian Jateng. Pertumbuhan PDRB kota ini selama delapan tahun terakhir berada di atas pertumbuhan PDRB Jateng.

”Inflasi terkendali, lebih kecil dibandingkan dengan kota-kota besar lain di Jateng. Kinerja investasi juga terus meningkat, sehingga layak Pemkot mendapat penghargaan sebagai kota terbaik investasi,” ujar Ika Rahutami.

Reina Sari mengungkapkan perekonomian Kota Semarang memiliki andil terbesar (13,45%) terhadap perekonomian Jateng. Rata-rata pertumbuhan (2011-2016) 6,10%, ditopang oleh industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan. Pitoyo menjelaskan indikator Semarang Hebat antara lain, pada 2021 laju pertumbuhan ekonomi 6,5% (dari 2015 sebesar 5,8%) dan nilai investasi Rp 21,9 triliun (dari Rp 9,57 triliun). Persentase kawasan banjir dan rob 3,40% (dari 5,34%) dan angka kemiskinan 4,53% (dari 4,97%).

Tingkat pengangguran terbuka 4,57% (dari 5,77%) serta indeks reformasi birokrasi 72 (dari 56,10). Adi Ekopriyono menggrisbawahi, kunci sukses mencapai Semarang Hebat adalah hilangnya ego sektoral antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sehingga kegiatan pembangunan dilaksanakan secara terintegrasi.

(►http://www.suaramerdeka.com, Suaramerdeka 14 Desember 2017 hal. 6)

Kategori: ,