Para Petani Pati Mengadu ke Unika Soegijapranata Semarang
Selasa, 12 Desember 2017 | 15:41 WIB

Jendela Nasional 11_12_2017 Para Petani Pati Mengadu ke Unika

Rombongan para petani pejuang kelestarian lingkungan hidup dan keutuhan ciptaan dari Pati mendatangi Unika Soegijapranata Semarang Senin (11/12).

Kedatangan rombongan petani ini untuk menyampaikan curhat atau mengadu atas perasaan, pengalaman dan perjuangan mereka, khususnya terkait sikap tegas tolak pabrik semen di Kawasan Pegunungan Kendeng.

Rombongan yang sebagian besar beranggotakan para ibu itu didampingi oleh Gunritno dan diterima oleh Rektor Unika Soegijapranata, Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya, MSIEC. Prof Ridwan didampingi oleh Benny Danang Setianto, SH., LL.M., MIL sebagai Wakil Rektor IV dan Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata, Romo Aloysius Budi Purnomo Pr.

“Jangan khawatir. Bersama semua pihak, kita akan mendukung perjuangan bapak-ibu semua. Apalagi, Paus Fransiskus juga mendorong kita semua untuk melindungi bumi sebagai rumah kita bersama,” ujar Prof Ridwan di Semarang, Senin (11/12).

Kepada para petani pejuang keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup ini, Prof Ridwan menegaskan keberpihakan pada perjuangan mereka demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

“Kehadiran para petani di Unika Soegijapranata membuat kita semua sadar dan ingat akan pesan Paus Fransiskus dalam Ensikliknya yang berjudul Laudato Si’ (LS) yang diterbitkan pada tanggal 24 Mei 2015,”ujarnya.

Pada kesempatan itu, Benny juga menegaskan upaya untuk membantu perjuangan demi menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup tidak pernah boleh berhenti.

“Pada Hari Bumi tahun depan, diadakan aksi dalam rangka mencintai bumi dan kreativitas para petani agar para mahasiswa dan siapa saja bisa mendengar seruan perjuangan para petani sekaligus terlibat aktif dalam mendukung gerakan mereka,” ungkapnya.

Sementara itu, Romo Budi mengatakan sikap tahta Suci terhadap lingkungan sangat jelas. “Bahwa penghancuran lingkungan manusia merupakan perkara sangat berat, bukan hanya karena Allah telah mempercayakan dunia kepada manusia, tetapi karena hidup manusia itu sendiri merupakan hadiah yang harus dilindungi dari berbagai bentuk degradasi,” terang Romo Budi.

Paus Fransiskus juga menyerukan bahwa setiap upaya untuk melindungi dan memperbaiki dunia memerlukan perubahan besar dalam gaya hidup, dalam pola produksi dan konsumsi, begitu juga dalam sistem maupun struktur pemerintahan yang sudah baku, yang sekarang ini menguasai masyarakat.

Tantangan yang mendesak untuk melindungi rumah bersama mencakup upaya menyatukan seluruh keluarga manusia guna mencari bentuk pembangunan berkelanjutan dan integral karena perubahan itu dimungkinkan.

“Sang Pencipta tidak meninggalkan kita; ia tidak pernah meninggalkan rencana kasih-Nya atau menyesal telah menciptakan kita,” imbuhnya.

Selanjutnya, Paus Fransiskus mengingatkan umat manusia masih memiliki kemampuan untuk bekerja sama dalam membangun rumah bersama.

Paus Fransiskus menyebut, bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga.

“Jangan sampai dihancurkan oleh ketamakan dan keserahan segelintir manusia yang dikuasai oleh egoisme kapitalis dan arogansi kekuasaan,” tegasnya.

Itulah sebabnya, Paus Fransiskus menulis dengan tulus, “Di sini saya ingin mengakui, memberi dorongan, dan berterima kasih kepada semua orang yang dalam pelbagai bidang aktivitas manusia yang sangat beraneka ragam, berjuang untuk menjamin perlindungan rumah yang kita bagi. Apresiasi khusus perlu diberikan kepada mereka yang tanpa lelah berusaha mengatasi efek tragis degradasi lingkungan bagi kehidupan orang-orang termiskin di dunia. Orang-orang muda menuntut perubahan. Mereka bertanya-tanya bagaimana orang bisa mengklaim membangun masa depan yang lebih baik tanpa memikirkan krisis lingkungan dan penderitaan mereka yang dikucilkan.”

Lebih lanjut Paus Fransiskus menulis, “Saya mengundang dengan mendesak agar diadakan dialog baru tentang bagaimana kita membentuk masa depan planet kita. Kita memerlukan percakapan yang melibatkan semua orang, karena tantangan lingkungan yang kita alami, dan akar manusianya, menyangkut dan menjadi keprihatinan kita semua. Gerakan ekologi di seluruh dunia telah membuat kemajuan besar dan berhasil membentuk berbagai organisasi yang berkomitmen meningkatkan kesadaran terhadap tantangan-tantangan ini.”

Oleh karena itu, kehadiran para petani dari Pati ke Unika Soegijapranata pun saya tempat dalam konteks pesan Paus Fransiskus tersebut.

Prof Ridwan juga menegaskan sikapnya untuk taat kepada Paus Fransiskus yang sudah menyerukan agar umat manusia menjaga bumi ini sebagai rumah kita bersama. “Tentu, hal ini tidaklah mudah,” urainya.

Karena itu, Paus Fransiskus pun mengakui bawha banyak upaya untuk mencari solusi konkret atas krisis lingkungan mengalami kegagalan, tidak hanya karena perlawanan dari mereka yang kuat, tetapi juga karena kurangnya minat dari yang lain.

Paus Fransiskus menulis, “Sikap menghalangi, bahkan dari orang-orang beriman, dapat berbentuk penyangkalan masalah sampai dengan ketidakpedulian, pasrah secara acuh tak acuh, atau kepercayaan buta terhadap solusi teknis. Kita membutuhkan solidaritas baru dan universal.” .

Bahkan, terdapat satu ungkapan dari Paus Fransiskus yang sejujurnya sama dengan motto Unika Soegijapranata agar mengembangkan bakat dan talenta untuk kepentingan bangsa dan umat manusia.

Paus Fransiskus mengatakan, “bakat dan komitmen setiap orang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh manusia yang menyalahgunakan ciptaan Allah …. Kita semua dapat bekerja sama sebagai instrumen Allah untuk melindungi keutuhan ciptaan, masing-masing sesuai dengan budaya, pengalaman, prakarsa, dan bakatnya sendiri.”.

Sementara itu, selain mengutip pernyataan Paus Fransiskus, saya sendiri juga mengajak rombongan untuk menyanyikan tembang mereka yang isinya sama persis dengan keprihatinan Paus Fransiskus, “Ibu Bumi wis maringi, Ibu Bumi dilarani, Ibu Bumi kang ngadili…” (Bumi Pertiwi sudah memberi, Bumi Pertiwi disakiti, Bumi Pertiwi yang akan membalasnya…) Pertemuan itu diakhiri dengan menyanyikan tembang langgam “Ibu Pertiwi” oleh para petani.

Dialog yang intinya berupa curhat dan mengadu di dunia sivitas akademika Unika Soegijapranata itu diharapkan menjadi seruan yang didengarkan pula oleh pihak-pihak terkait, baik penguasa maupun pengusaha, agar menghentikan sikap serakah merusak bumi demi keuntungan sesaat yang justru akan membuat masa depan masyarakat sekarat! Melalui refleksi ini, saya meneruskan seruan mereka, semoga mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait, penguasa dan pengusaha, agar menghentikan niatnya membangun pabrik semen di lahan yang saat ini diolah oleh para petani untuk menyediakan bahan pangan bagi kesejahteraan masyarakat.

(►http://www.jendelanasional.com)

Kategori: