Natal adalah Perayaan Kehidupan
Jumat, 29 Desember 2017 | 7:49 WIB

Opini ditulis oleh Y Gunawan/Rohaniwan, sedang studi Teologi Spiritual (Formatio) di Universitas Gregoriana, Roma-Italia

Setiap tahun umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Natal. Hari Raya Natal menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Di sana orang Kristiani merayakan kehidupan. Kehidupan akan lahirnya Sang Bayi dalam kesederhanaan dan keterbatasan manusiawi. Bukan di istana raja, tetapi di kandang domba.

Sang Bayi dinubuatkan menjadi pembawa damai bagi umat manusia. Sang Bayi diwartakan para nabi dari abad ke abad. Sang Bayi lahir dalam kandang berbentuk gua, dibaringkan dalam palungan. Dan di sana ada kasih sayang Pasutri Maria dan Yosef. Ada para gembala yang datang untuk ‘jagong bayi Yesus’.

Sebelumnya, mereka mendapat warta dari malaikat di padang gembala, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

Secara turun-temurun ada kisah menarik dalam tradisi Natal. Ketika Yesus lahir, malaikat mengadakan seleksi siapakah di antara binatang-binatang yang sebaiknya menemani Yesus yang terbaring di palungan. Yang pertama mengajukan diri adalah harimau. Ia berkata, ”Sayalah yang paling pantas menjaga Yesus. Siapa pun yang berani mendekat akan saya terkam dan saya cabik-cabik dengan kuku dan taring saya. Yesus akan aman.” Malaikat menjawab, ”Yesus adalah Raja Damai. Kekerasan tidak sesuai dengan maksud kedatangan-Nya.”

Selanjutnya majulah si kancil dan berkata, ”Benar, kekerasan bukan cara beradab. Untuk menjaga supaya Ia aman, saya mempunyai jurus canggih, akan melakukan lobi-lobi dalam pertemuan-pertemuan rahasia; kalau perlu saya akan merekayasa supaya semua urusan lancar.” Malaikat menjawab, ”Yesus adalah Raja Keadilan dan Kebenaran. Rekayasa dan sikap licik hanya akan menyakitkan hati-Nya.”

Berikutnya majulah seekor burung merak dengan menunjukkan segala keindahannya. Ia berujar, ”Sayalah yang paling tepat ada di dekat Yesus. Saya akan menyiapkan penyambutan yang mewah meriah.” Malaikat menjawab, ”Yesus adalah Raja yang sederhana dan rendah hati. Kemewahan dan gebyar-gebyar yang berlebihan jauh dari semangat hidup-Nya yang selalu dekat dengan orang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir.”

Selanjutnya majulah berbagai binatang lain menawarkan diri, seperti serigala, bulus, dsb. Semuanya tidak lolos seleksi. Sementara itu, malaikat melihat seekor keledai dan lembu yang diam tak menawarkan diri. Malaikat bertanya kepada mereka, ”Mengapa kalian tidak angkat bicara dan mengajukan diri menjadi pendamping Yesus?” Keledai berkata, ”Siapakah saya ini. Paling-paling saya hanya dapat membantu membawa beban.” Lembu menyahut, ”Apalagi saya, paling-paling saya hanya dapat mengusir lalat dengan ekor saya.”

Kedua binatang itu justru lolos seleksi. Itulah sebabnya di gua-gua Natal, dekat palungan, sampai sekarang kedua binatang itu hadir bersama domba. Kisah tersebut mau menegaskan bahwa Natal adalah perayaan kehidupan yang diwarnai kedamaian dan kasih persaudaraan.

Mahalnya Cinta

Di dunia modern ini masyarakat dilanda arus besar betapa mahalnya cinta, betapa langkanya cinta. Betapa banyak orang yang menderita, mengalami kesepian, rasa miskin dan merasa tak berharga, tak berarti. Mengapa? Karena orang tidak mengalami rasa dicintai dan mencintai. Inilah kemiskinan atau penderitaan yang paling parah dibandingkan kemiskinan material, tegas Bunda Teresa dari Kalkuta (1910-1997).

Pada dasarnya semua orang merindukan dan mempunyai kebutuhan dasar, yaitu cinta. Tak sedikit kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, sehingga hidupnya terasa hampa, kosong, dan tidak berarti. Secara psikologis, setiap orang menginginkan rasa damai, aman dan nyaman. Bagaimana ia merasa at home dalam beraktifitas sehari-hari, tanpa ada ancaman, teror, dan intimidasi.

Henri J.M. Nouwen (1932-1996), rohaniwan dan teolog modern, mengungkapkan bahwa tidak ada kata yang lebih baik yang dapat mengungkapkan penderitaan orang zaman ini kecuali ‘tidak mempunyai rumah’.

Perayaan Natal tahun ini menyadarkan kita untuk mengembangkan budaya kehidupan yang didasari cinta. Orang marah biasanya berteriak-teriak dengan suara keras. Bahkan piring, senjata tajam, dan rudal pun bisa melayang. Mengapa? Karena hati kedua belah pihak saling berjauhan. Berbeda ketika orang saling mengasihi. Bahkan tanpa suara pun mereka bisa berkomunikasi, karena hati keduanya begitu dekat.

Konflik, baik di ranah personal, keluarga maupun antar negara, bisa berlarut-larut terjadi karena tidak ada cinta di sana. Egoisme-lah yang meraja. Sikap mau menang sendiri-lah yang dikedepankan. Orang tak segan menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya. Bahkan tega mengorbankan saudaranya sendiri.

Perayaan kelahiran Yesus menawarkan sebuah atmosfer yang bersahabat, penuh kasih dan damai. Akhir-akhir ini negara Indonesia sedang resah karena ancaman radikalisme agama. Agama dan politik dicampur aduk. Bahkan orang tega menghalalkan segala cara demi kepentingan kekuasaan. Masyarakat menjadi terbelah.

Bencana alam banjir dan tanah longsor beberapa waktu yang lalu ternyata memberi peluang bagi kita untuk membangun dan mewujudkan kebersamaan, kendati ada perbedaan agama. Bencana alam itu memaksa agama-agama untuk kembali pada hakikatnya: bahwa agama itu ada, bukan demi agama sendiri, tetapi demi kemanusiaan seluruh semesta. Masing-masing agama memang mempunyai tujuan sendiri-sendiri, tetapi masing-masing agama tidak bisa berdiri sendiri. Mereka terkait satu sama lain, karena itu mereka terkait pada kesemestaan.

Berperilaku Beradab

Untuk mengusahakan kesemestaan yang nyaman bagi manusia, Sindhunata menggambarkan bahwa bencana alam membuka apa yang seharusnya dilakukan agama-agama: bukan menggembar-gemborkan dan mengklaim kebenaran ajarannya, tetapi mewujudkan kemanusiaan yang menyatukan (Sindhunata, 2010). Oleh karena itu, bencana memberi pelajaran yang amat berharga tentang memayu hayuning buwana atau pembangunan semesta, yakni: kita akan diselamatkan bersama-sama, atau kita tidak akan diselamatkan sama sekali!

Natal menjadi bermakna jika kita bisa berperilaku beradab dan menjadi saudara yang penuh kasih bagi sesama, alam semesta, dan seluruh ciptaan. Santo Fransiskus Assisi (1182-1226), pelindung binatang dan lingkungan hidup, mengembalikan makna natal akan kesejatian relasi manusia dengan Sang Khalik dan seluruh ciptaan-Nya. Natal akan bermakna jika orang membuka hati akan kehadiran Sang Damai itu dalam ‘palungan’ hati manusia.

Setiap kali kita tersenyum bersahabat kepada setiap orang dan berbaik hati kepadanya, kita merayakan Natal. Setiap kali kita memberikan pengharapan kepada seseorang yang putus asa, kita merayakan Natal. Betapa indahnya dunia ini jika orang menghayati diri sebagai saudara atau saudari satu sama lain.

(►http://jateng.tribunnews.com, Tribun 26 Desember 217)

Kategori: , ,