Kagum Bangunan Gereja Eropa
Senin, 4 Desember 2017 | 8:43 WIB

Mempunyai hobi jalan-jalan di luar kota, membuat  Nixcon Simanungkalit yang akrab disapa Nico, menjadi paham betul naik kereta apa yang paling murah, jam berapa keberangkatan paling murah, relasi stasiun mana yang lebih baik,dll. Sehingga pengalaman tiga bulan pertamanya tinggal di Semarang, membuat teman-teman seangkatannya heran karena mereka tidak menahu soal kota Semarang, sedangkan Nico tahu. Selain itu ia juga gemar membaca buku novel, sejarah dan biografi. Maka tak heran ia didaulat menjadi wisudawan terbaik Program Magister Arsitektur  Unika Soegijapranata dengan IPK 3,79.

Karena Lahir dan besar di kota Tarutung, ini pertama kalinya Nico merantau keluar dari Sumatera Utara untuk kuliah di Semarang. Itulah sebabnya kesempatan ini dia pakai mengelilingi dan menjelajahi pulau Jawa yang terkenal dengan kesuburannya.

Awalnya Nico menganggap kuliah di Unika Soegijapranata semacam sebuah insiden karena tidak tahu harus Kuliah Pascasarjana Arsitektur dimana. Jadi ia hanya mengandalkan mesin google untuk mencari informasi Universitas yang menerima calon mahasiswa pascasarjana arsitektur yang bukan berasal dari sarjana teknik, setelah itu ia menemukan  dua universitas yakni, Universitas Brawijaya – Malang, dan UNIKA Soegijapranata – Semarang yang menerima calon mahasiswa pasca sarjana arsitektur dari latar belakang S1 yang berbeda. “Terus terang, saya tadinya lebih tertarik untuk mendaftar ke Universitas Brawijaya, dan permohonan beasiswa saya tidak kunjung disetujui, maka pendaftaran di Brawijaya telah ditutup pertengahan bulan Juni 2015 waktu itu. Sementara di Unika pendaftaran masih bisa sampai Agustus. Maka dengan berusaha semangat dan penuh ekspektasi, mendaftarlah saya ke Unika via telepon dan email” tandas Nico.

Berlatar belakang seorang pendeta dengan pendidikan Sarjana Theologia. Membuat Nico kagum menyaksikan arsitektur gereja-gereja Eropa, dan arsitektur gereja-gereja yang lain, dan berharap Nico dapat melayani di Gereja(HKBP) yang memiliki arsitektur gereja yang khas dan istimewa. “Kebetulan di tempat saya (Sumatera Utara) gedung gereja HKBP  beberapa masih merupakan gedung gereja peninggalan Pendeta Missionaris yang dibangun dengan langgam arsitektur Eropa. Sehingga kalau  berada di dalam gedung gereja itu rasanya nyaman, dan akan berbeda kesannya kalau berada di dalam gedung gereja yang dibangun belakangan oleh orang batak sendiri” kata Pria kelahiran 6 November 1988.

Oleh karena itu Nico menuliskan Tesis dengan judul “TIPOLOGI BENTUK, RUANG, DAN TATANAN ARSITEKTUR GEREJA HKBP TAHUN 1861 S.D. 1940 DI SUMATERA UTARA”. Yang berisikan tentang penelitian terhadap enam gereja HKBP yang diperkirakan dibangun dalam kurun waktu tahun 1861 s.d. 1940 di Sumatera Utara. Kurun waktu tersebut adalah waktu dimana pendeta missionaris dari Eropa masih aktif bekerja di gereja HKBP di Sumatera Utara. Keenam gereja yang menjadi objek penelitian ini ia pilih secara acak karena dapat mewakili titik-titik sejarah perkembangan gereja HKBP. Keenam gereja ini juga memiliki langgam arsitektur yang khas, yaitu langgam arsitektur gereja di Eropa. Kalau diperhatikan secara sepintas, tidak ada yang unik dan menarik dari Arsitektur gereja-gereja tersebut. Namun setelah ia teliti lebih jauh, terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan, baik dari sejarah dibangunnya gereja tersebut, bentuk, ruang, dan tatanan arsitekturnya.

Selama mengerjakan tesis Nico menganggap tidak ada kendala yang cukup berarti, bimbingan dengan dosen dan penelitian cukup lancar. Namun ada kendala yang membuat ia sedih saat penelitian yaitu arsip mengenai sejarah perkembangan gereja HKBP yang ia teliti itu tidak disimpan dengan baik, alhasil Nico terpaksa harus membongkar sendiri arsip-arsip tua yang disimpan di gudang dan tidak pernah dibersihkan. Namun ada yang menyenangkan dalam penelitian tersebut adalah ketika informasi baru akhirnya ia ketahui, sehingga mendapat pengalaman mengunjungi beberapa tempat yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi.

“Dalam proses mengerjakan tesis pasti lah ada prinsip agar tepat sesuai waktu yang direncanakan yaitu mempelajari tesis yang sudah ada, lalu mengusahakan komunikasi tetap terjalin dan selalu meminta arahan dari dosen pembimbing, lalu mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan hari ini, menuliskan apa pun yang sedang terbersit dalam pikiran, entah itu berkaitan secara langsung dengan tesis atau penelitian atau tidak berkaitan sama sekali” katanya.

Nico berharap ke depan UNIKA semakin lebih terdepan dan menjadi salah satu dari Universitas terbaik di Indonesia . “Namun buku-buku koleksi Perpustakaan sebaiknya di up grade ya karena saya perhatikan banyak buku di perpustakaan yang tidak pernah dipinjam atau dibaca mahasiswa, Perpustakaan boleh kok membuat semacam persyaratan kelulusan agar menyumbangkan minimal satu judul buku yang berkaitan dengan tesis atau skripsi yang bersangkutan. Dengan demikian koleksi buku di Perpustakaan dengan sendirinya ter up grade,” tutup Nico. (Adr)

Kategori: ,