Hening Ingin Tingkatkan Kepedulian Anak-anak
Sabtu, 16 Desember 2017 | 8:46 WIB

TRB 14_12_2017 Hening Ingin Tingkatkan Kepedulian Anak-anak

Masih ingat nasib tragis gajah 37 tahun bernama Yani, yang mati karena sakit dan kelaparan di Kebun Binatang Bandung, Jabar pada pertengahan Mei 2016 silam? Hal itupun mengundang keprihatinan Hening Artdias (22) yang dituangkan dalam sebuah game.
Hal itu menginspirasi Hening membuat tugas akhir di akhir masa perkuliahannya pada Program Studi Game Teknologi Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Unika Soegijapranata Semarang.

Dari peristiwa itu, alumni Unika Soegijapranata Semarang angkatan 2013 itupun menciptakan game edukasi anak-anaktentang satwa langka yang ada di Indonesia.

Tujuan utama dari game itu antara lain untuk meningkatkan kepedulian anak-anak terhadap lingkungan, tak terkecuali terhadap satwa langka.

“Miris melihat masih banyak yang kurang peduli terhadap keberlangsungan hidup satwa langka, yang notabene karena ulah manusia. Kemudian saya coba rancang membuat game animal itu. Saya mulai membuat pada Desember 2016 dan selesai Juli 2017,” kata guru desain grafis di SMA Kolese Loyola Semarang itu.

Secara umum, awal pembuatan game itu ditujukan untuk bahan tugas akhir perkuliahan. Tetapi kemudian produk itu dikembangkan lagi hingga dapat digunakan siapapun, termasuk anak-anak sebagai game edukasi.

“Game itu saya namai Rare Animal. Saya kemas menggunakan augmented reality agar dapat dijadikan media pembelajaran interaktif. Untuk memainkannya, si pengguna terlebih dahulu harus unduh (download) marker dan aplikasinya di Google Playstore,” kata Hening, saat ditemui Tribun Jateng, Rabu (13/12).

Setelah terunduh, menurut dia, enam lembar marker diprint warna. Setelah itu aktifkan aplikasinya di ponsel.

Cara penggunaannya simpel, cukup scan gambar serta tulisan pada setiap lembar level marker yang telah diprint itu, kemudian akan muncul gambar satwa dalam bentuk tiga dimensi.

Warga Ungaran Kabupaten Semarang itu menuturkan, pada level pertama, si pengguna diedukasikan agar mereka tidak seharusnya mengurung, apalagi memanfaatkan organ tubuh satwa langka. Pada level itu, ada Badak Jawa dan Badak Sumatera.

“Di level kedua, menggambarkan kasus kebakaran hutan kelapa sawit di Kalimantan. Kejadian itu secara tidak langsung berdampak pada punahnya orang utan. Di situ, pemain diminta untuk memadamkan api. Di level berikutnya, pemain diminta mencarikan makanan agar Gajah Sumatera tidak kelaparan,” ucapnya.

Di level keempat, Hening menuturkan, pemain diajak tidak membuang sampah sembarangan di laut dan perairan. Hal itu karena dapat mengancam keberlangsungan habitat yang ada di laut, termasuk Penyu Hijau.

“Selanjutnya di level lima, pemain diedukasi tentang wawasan tempat tinggal satwa di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua. Nah, bagi yang bisa menyelesaikan game itu, kami beri hadiah berupa coloring animal 3D Jeeb,” paparnya.

Mengembangkan

Meski game itu telah selesai sebagai bahan tugas akhir di masa perkuliahannya, Hening berkeinginan untuk terus mengembangkannya hingga seluruh anak-anak dapat secara mudah memainkannya sebagai game edukasi.

“Saya masih butuh saran, masukan dari siapapun yang pernah mencobanya. Itu untuk proses pengembangan selanjutnya. Memang untuk sementara ini hanya perangkat ponsel tertentu yang bisa menggunakan, khususnya yang memiliki RAM 3 gigabyte (GB),” jelasnya.

Menurut dia, tujuan utama dan akhir dari penciptaan game tersebut yakni mereka para penggunanya tak sekadar bisa memainkan, tetapi juga menjadi media edukasi dan permainan di saat menggunakannya.

“Dalam menciptakan game itu ada banyak proses, mulai dari penelitian, pengumpulan bahan, mendesain, programming, hinggga uji coba secara langsung kepada beberapa siswa di tingkat SD. Setelah itu saya revisi. Begitu dinyatakan cukup sempurna, barulah saya upload di Google Playstore,” terangnya.

Hening menyatakan, sasaran game Rare Animal itu adalah anak-anak usia antara 8-12 tahun. Lama waktu untuk memainkan game itu mulai dari level 1 hingga level 5 antara 5-10 menit.

“Untuk spesifikasi ponsel yang sementara waktu bisa mencobanya adalah ponsel yang memiliki RAM 3 GB, kamera sekitar 12 mega pixel, dan diharapkan setidaknya lebar layar adalah 6 inch. Tujuannya agar lebih cepat merespon ketika gambar discan dari aplikasi yang sudah terunduh,” urainya.

(►http://jateng.tribunnews.com)

Kategori: