Djoko Setijowarno Minta Pemkot Maksimalkan BRT Dulu daripada Bangun LRT
Rabu, 20 Desember 2017 | 8:57 WIB

TRB 19_12_2017 Djoko Setijowarno Minta Pemkot Maksimalkan BRT Dulu daripada Bangun LRT

Peneliti pada Laboratorium Transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarnomenyebutkan Light Rapid Transit (LRT) memang bisa mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di Kota Semarang.

Namun, Djoko lebih menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang saat ini lebih memaksimalkan Bus Rapid Transit (BRT) yang bisa menjangkau kawasan perumahan dan pemukiman penduduk.

"Itu (LRT) bagus. Tapi BRT dimaksimalkan dulu saja. Ada feeder untuk menjangkau masyarakat permukiman sebagai penghubung ke shelter BRT. Lalu saat jam sibuk feeder juga bisa difungsikan masuk ke dalam kota," katanya, Selasa (19/12/2017).

Terkait LRT, Djoko menilai moda transportasi monorel LRT sebenarnya tidak cocok untuk wilayah perkotaan. Di samping itu, anggaran yang dibutuhkan juga cukup besar sehingga kemampuan finansial Pemkot Semarang tidak mencukupi untuk membackup seluruh anggaran.

"Kalau pun tetap jalan, sangat kecil kemungkinan LRT akan terwujud di Kota Semarang dalam waktu dekat ini. Kecuali ada kekuatan politik yang besar terhadap Kota Semarang," ujarnya.

Ia mencontohkan, Kota Bandung dan Surabaya sudah mempunyai perencanaan yang matang tentang pembangunan LRT sejak lima tahun yang lalu. Namun hingga kini juga belum teralisasi.

Terkait biaya pembangunan moda transportasi berbasis rel tersebut, Djoko menerangkan, bahwa estimasi pembangunan LRT memakan anggaran kurang lebih Rp 500 miliar per kilometer. Jumlah tersebut belum termasuk pegadaan rolling stok, sinyal, listrik, dan sarana telokomunikasinya.

"Jadi seandainya Kota Semarang mau membangun sejauh 30 kilometer, berarti sudah memakan anggaran Rp 15 triliun. Sedangkan APBD Kota Semarang sekitar Rp 4 triliun," imbuhnya.

Dengan anggaran tersebut, Djoko membandingkan, biaya yang dikeluarkan untuk satu kilometer LRT bisa untuk membuka 10 koridor baru BRT. Sehingga, ia berharap Pemkot lebih mengutamakan pembangunan jaringan transportasi yang bisa mengcover seluruh area Kota Semarang yaitu BRT.

"Akan lebih baik dimaksimalkan dulu BRT sampai ke daerah yang belum dilewati BRT dengan menambah koridor," harapnya.

(►http://jateng.tribunnews.com)

Kategori: