Djoko Minta Pemkot Lupakan LRT – BRT Dinilai Lebih Efektif Atasi Macet Kota
Rabu, 20 Desember 2017 | 14:23 WIB

 TRB 20_12_2017 Djoko Minta Pemkot Lupakan LRT

“Akan lebih baik dimaksimalkan dulu BRT sampai ke daerah yang belum dilewati BRT dengan menambah koridor“

Peneliti pada Laboratorium Transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tak melanjutkan rencana menerapkan light rapid transit (LRT). Untuk mengatasi kemacetan, Djoko meminta pemkot memaksimalkan bus rapid transit (BRT).

"Itu (LRT) bagus. Tapi, BRT dimaksimalkan saja. Ada feeder untuk menjangkau masyarakat permukiman sebagai penghubung ke shelter BRT. Lalu, saat jam sibuk, feeder juga bisa difungsikan masuk ke dalam kota," katanya, Selasa (19/12/2017).

Menurut Djoko, moda transportasi monorel LRT sebenarnya tidak cocok di wilayah perkotaan. Selain itu anggaran yang dibutuhkan untuk membangun sarananya pun tak sedikit.

Estimasi pembangunan LRT butuh anggaran sekitar Rp 500 miliar per kilometer. Jumlah tersebut belum terrnasuk pegadaan rolling stok, sinyal, listrik, dan sarana telokomunikasinya.

"Seandainya Kota Semarang mau membangun sejauh 30 kilometer, anggaran yang dibutuhkan Rp 15 triliun. Sedangkan APBD Kota Semarang hanya Rp 4 triliun," imbuhnya.

Menggunakan anggaran tersebut, Djoko membandingkan, biaya yang dikeluarkan untuk satu kilometer LRT bisa digunakan membuka 10 konidor baru BRT. Sehingga, ia berharap, pemkot lebih mengutamakan pembangunan jaringan transportasi yang bisa mengcover seluruh area Kota Semarang yaitu BRT. "Akan lebih baik dimaksimal-kan dulu BRT sampai ke daerah yang belum dilewati BRT lewat penambahan koridor," harapnya.

Sebelumnya, Pemkot Semarang mengkaji pengadaan LRT. Kajian ini dilakukan sebagai upaya mengatasi macet.

(►Tribun Jateng, 20 Desember 2015 hal. 15)

Kategori: