Tunjukkan Prestasi Lewat Karya Inspiratif
Kamis, 30 November 2017 | 13:16 WIB

Awalnya hanya dipandang sebelah mata karena tidak bisa melakukan apa-apa di kampus, namun dia dapat membuktikan keberhasilan karyanya dari cemoohan orang lain. Hal itu lah yang dilakukan oleh Febby Budisantosa, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata yang menyandang status sebagai best videographer Citizen Journalism yang diadakan oleh Pertamina dengan stasiun televisi Indosiar  dan Liputan6.

Mendaptkan pesan dari WA teman, Febby berniat mendaftarkan diri menjadi peserta Citizen Jornalism  yang bertempatkan di gedung Balaikota Semarang dengan mengirimkan CV, pas foto, dan portofolio.  Dari 1080 mahasiswa diambil 100 mahasiswa lagi untuk maju ke tahap interview, termasuk Febby. Setelah dilakukan kegiatan interview, diambil 30 mahasiswa yang lolos dan menjadi anggota dan peserta Citizen Journalism Academy (CJA)  termasuk Febby. “Setelah mendengar kabar tersebut aku masih ngrasa ga percaya bisa lolos, dan perasaan ku masih gak nyangka, tapi aku senang bisa bergabung di industri media ini” kata Febby.

Menjalani proses karantina selama tiga bulan di Semarang dari bulan Agustus- Oktober, para peserta diharapkan memberikan sebuah karya terbaik untuk masyarakat lewat sebuah liputan-liputan yang inspiratif. Lewat bimbingan Coach  yang berasal dari news anchor  handal, seperti Nurul Cinta, Utrich Farzah, Ryan Wiedaryanto,dll. Sebagai seorang videographer, tentunya Febby ikut berperan aktif dalam proses pembuatan liputan ini. Alhasil  satu video dari empat video yang menginspirasi, ditayangkan di Indosiar dan Liputan6. Video yang bercerita tentang sosok inspiratif di kota Semarang ini bercerita tentang seseorang difabel yang berjuang menyambung hidup dengan menjadi tukang tambal ban. Video ini juga mendapatkan apresiasi dari lapisan masyarakat. “Dari hal itu aku bisa membuktikan karyaku kepada orang lain yang ditayangkan di televisi, termasuk kepada orang-orang yang awalnya mencemooh aku, dengan perasaan bangga” tandas Febby.

Setelah mengikuti karantina, Febby dan teman-teman diundang ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan Grand Final selama seminggu. “Selama seminggu kita di ajak ke studio televisi Indosiar dan SCTV, dan melakukan outbound untuk saling mengakrabkan semua peserta. Kan Citizen Journalism Academy diadakan di tiga kota besar, Balikpapan, Jakarta, dan Semarang, maka dari itu sebagai peserta CJA kita harus mengenal satu sama lain”kata pria 21 tahun ini.

Alhasil di malam puncak grand final ini Febby mendapatkan juara untuk the best videographer. Perasaan campur aduk dirasakan olehnya, rasa bahagia dan haru yang baru ia dirasakan sekali ini dalam hidupnya di malam puncak penganugrahan karya terbaik. “Aku yang dulunya bocah biasa-biasa saja, yang di pandang sebelah mata oleh orang-orang, dan pesimis terhadap karya ku… sekarang aku bisa mendaptkan penghargaan yang tak terduga” kata Febby dengan bangga.

Tak luput dari itu, ia pun mendapatkan medali emas sebagai bentuk penghargaan terhadap karyanya tersebut, selain itu ia juga berkesempatan besar untuk berkarir di dunia industri media. ‘’Harapannya sih, supaya CJA ini ada di tahun berikutnya, tidak berhenti di sini saja, karena masih banyak anak-anak muda yang mempunyai karya-karya terbaik” tutup Febby. (Adr)

Kategori: ,