Rajut Kebersatuan Dan Kebersamaan Dalam Peringatan Sumpah Pemuda
Rabu, 1 November 2017 | 16:10 WIB

Dalam rangka memperingati 89 tahun ikrar Sumpah Pemuda, Unika Soegijpranata menyelenggarakan talkshow berjudul “Kebangsaan Di Dadaku, Kami Satu Indonesia” pada hari Senin (30/10) yang lalu bertempat di Ruang Theater Gedung Thomas Aquinas lantai 3. Talkshow yang dihadiri oleh sekitar kurang lebih 200 peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan tamu undangan dari universitas lain ini menghadirkan 3 pembicara ahli yakni ; Romo Aloysius Budi Purnomo Pr selaku Kepala Campus Ministry Unika dan Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (HAAK-KAS), Gus Tedi Kholudin, PhD selaku staff pengajar dari UIN Walisongo Semarang dan Dea Rizkita Putri Indonesia Perdamaian Indonesia 2017.

Acara Talkshow yang dimoderatori oleh Sdr. Wahyu Aryono Nugroho ini banyak mengupas cara bagaimana mempertahankan serta memupuk persatuan dan kesatuan NKRI dari 2 pembicara utama yakni Romo Aloysius Budi Purnoomo Pr dan Dea Rizkita. Mereka memberikan pemahaman tentang contoh salah satu cara mempertahankan serta memupuk persatuan dan kesatuan sesuai dengan cara mereka masing masing atau sesuai bidang yang mereka geluti selama ini.

Bijak Ber-Media Sosial.

Dea Rizkita yang merupakan Putri Perdamaian Indonesia 2017 memaparkan bahwa zaman setelah merdeka seperti saat ini masih ada peperangan di kalangan kaum muda. Ia menguraikan perang yang dimaksud bukanlah peperangan fisik seperti zaman sebelum kemerdekaan, melainkan saat ini kaum muda berperang argumen di media sosial yang berujung bisa merusak persatuan dan kesatuan NKRI.

“Zaman sekarang kita sudah jauh dari peperangan yang bersifat tumpah darah tetapi anak muda zaman sekarang lebih banyak berperang argumen dan berdebat di media sosial yang akhirnya menimbulkan perang di dunia maya. Mungkin itu adalah salah satu bagian kecil tapi hal tersebut bisa menimbulkan akibat yang fatal, salah satunya merusak persatuan” ungkap Dea yang juga merupakan mahasiswi aktif S2 Magister Profesi Psikologi Unika.

Melihat adanya perang di media sosial tersebut, lebih lanjut Dea membagikan cara bijak ber-media sosial kepada para peserta talkshow demi keutuhan persatuan dan kesatuan NKRI. Ia menjelaskan menyaring suatu informasi merupakan salah satu cara penting karena saat ini banyak sekali berita bohong atau HOAX.

“Tentunya kita sangat terbantu dengan kemajuan teknologi saat ini, kita mencari segalanya menjadi mudah. Kita harus bisa menguasai teknologi bukan kita yang dikuasai, karena kalau kita yang dikuasai malah kita akan terarah ke hal-hal negatif. Ketika kita sudah bisa menguasai teknologi, kita harus tidak mudah tersulut dengan perdebatan di media sosial, lalu kita juga harus tidak mudah percaya begitu saja dengan pemberitaan di media sosial karena sekarang ini kan HOAX banyak. Kita harus bisa berhati-hati dan menyaring informasi yang datang dengan mencari kebenarannya dari sumber lain” tambah Dea.

Menurutnya mencari kebenaran informasi dari sumber lain sangat penting bagi kaum muda karena mengingat anak muda merupakan motor penggerak kemajuan bangsa Indonesia.

Budaya Kebersamaan Dengan Kawan Interreligius.

Romo Aloysius Budi Purnomo Pr juga memaparkan salah satu contoh cara menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Romo Budi menjelaskan bahwa menjalin silaturahmi kepada kawan pemuka agama lain juga merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan serta menjaga toleransi beragama. Beliau pun menjelaskan hal tersebut bukan dengan teori namun praktek nyata yang sudah beliau lakukan semenjak beliau menjadi Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (HAAK-KAS) semenjak 1 Mei 2008 yang lalu.

Dalam paparannya Romo Budi menampilkan beberapa fotonya ketika ia berkunjung ke kawan pemuka agama lain, seperti antara lain : silaturahmi dengan Kyai Mahfudz Ridwan (Pemilik Pondok Pesantren di Tuntang) setiap hari raya Idul Fitri, bersilaturahmi dengan KH. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus yang merupakan pengasuh pondok pesantren di Rembang, bersilaturahmi dengan Ahmad Syafi’i Ma’arif yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Romo Budi berharap dengan adanya hubungan yang baik antar pemuka agama ini secara tidak langsung bisa mengajak para peserta talkshow untuk bisa menjaga toleransi beragama sesama umat manusia dan menjaga pesatuan dan persatuan.

“Foto ini menunjukkan bagaimana seorang Pastor Katolik saja bisa menjalin dan menjaga hubungan yang baik dengan Kyai, seharusnya umat beragama lebih bisa menjaga keharmonisan hidup beragama, mari kita jaga dan pupuk toleransi beragama” tegas Romo Budi.

Selain berkunjung ke pemuka agama lain, Romo Budi juga meperlihatkan acara kebangsaan lain yang juga bisa untuk semakin mempererat persatuan dan kesatuan, antara lain : Mengundang KH Nuril Arifin atau yang akrab disapa Gus Nuril untuk menari tarian Sufi di gereja Katedral Semarang pada 12/11/2015 yang lalu, Srawung Anak Muda Lintas Iman di Balai Kota Semarang pada 5/3/2017 yang lalu, Apel Kebangsaan dalam rangka Sumpah Pemuda 2017 di lapangan Kecamatan Muntilan pada 28/10/2017 yang lalu.

Apa yang disampaikan oleh Romo Budi ternyata juga senada dengan Gus Tedi. Gus Tedi mengungkapkan bahwa di tempat ia mengajar ada beberapa mahasiswa beragama Katolik, namun ia tidak membeda-bedakan. Ia tetap merangkul mahasiswa katolik tersebut dan mengajak mahasiswa katolik tersebut untuk berkumpul, bersosialisasi dan bergaul dengan kawan kawan mahasiswa Islam.

Talkshow Merupakan Sarana Untuk Melestarikan Sumpah Pemuda.

Prof. Dr. F Ridwan Sanjaya, MS., IEC selau Rektor Unika dalam sambutannya mengungkapkan bahwa talkshow ini merupakan wadah untuk para mahasiswa agar semakin bergandengan tangan melestarikan persatuan dan sumpah pemuda yang telah diikrarkan oleh para pemuda sejak tahun 1928 silam. Menurut Ridwan hal ini menjadi penting karena saat ini Indonesia memiliki tantangan terbesar yakni adanya oknum yang hendak merusak ideologi demi mendapatkan kehidupan yang layak.

“Anda para mahasiswa setelah merdeka tidak bisa tinggal diam karena ada tantangan bagaimana melestarikan semangat ikrar Sumpah Pemuda 89 tahun yang lalu karena jaman sekarang ada usaha usaha untuk saling  mengaadu domba bukan hanya untuk kepentingan ideologi semata tetapi yang kita temui saat ini justru kepentingan ekonomi . Ada oknum yang demi mendapatkan pendapatan yang besar  dan demi  kehidupan yg layak malah mereka menghancurkan negeri kita, menghancurkan persatuan orang-orang yang sudah sejak lama. Ini merupakan tantangan terbesar kita” ungkap Ridwan.

Alfa Immanuel, Mahasiswa Fakultas Psikologi Unika angkatan 2017 sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Prof Ridwan. Ia menjelaskan bahwa memang ada oknum yang berusaha merusak persatuan dengan munculnya radikalisme

“Saya sangat mengapresiasi seminar ini karena guna menjawab tantangan-tantangan saat ini seperti radikalisme. Seminar ini sangat diperlukan dan perlu disebarluaskan agar semua orang tahu bahwa Indonesia itu tidak hanya negara agama tetapi negara bagi semua orang yang tinggal di Indonesia, tidak hanya untuk golongan tertentu” pungkas Alfa.

Talkshow ini diakhiri dengan dengan penampilan dari Gratia Choir yang menyanyikan lagu berjudul Bendera, lalu juga dengan peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan deklarasi kebangsaan. (Holy)

Kategori: ,