Peran Jurnalistik Terhadap Kuliner Semarang
Selasa, 14 November 2017 | 15:06 WIB

Program Studi Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Teknologi Pertanian, dan Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata mengadakan Seminar Culinary Journalism yang diadakan pada Sabtu (11/11) bertempat di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas.

Seminar juga dihadiri beberapa perwakilan SMA di Kota Semarang seperti SMA Kolese Loyola, SMA Krista Mitra, SMK Kristen Terang Bangsa dan SMA Kebon Dalem serta beberapa perwakilan perguruan tinggi lain seperti Universitas Stikubank Semarang, Universitas Diponegoro Semarang, dan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Seminar Culinary Journalism turut mengundang 3 pembicara : Firdaus Adinegoro  (Founder Komunitas Kuliner Semarang); Apsari Retno (Video Jurnalis NET.TV); Dwi Royanto (Jurnalis viva.co.id) dan dimoderatori oleh Vincentia Ananda Arum Permatasari SIKom. MIKom.

Menurut Dwi Royanto yang biasa menangani jurnalistik makanan menganggap saat ini kuliner di kota Semarang tengah disorot dan hal ini tentunya tidak lepas dari peran pemerintah daerah. Sementara itu sebelum kuliner di beberapa daerah Indonesia booming saat ini, Kota Bandung menjadi pusat kreativitas kuliner dan hal itupun diamini oleh beberapa media online maupun televisi. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, banyak kuliner khas di kota lain yang turut menonjol. “Berbicara mengenai perkembangan kuliner beberapa daerah di Indonesia, tren pemberitaan mengenai kuliner di Semarang lebih banyak dibandingkan dengan daerah lain karena selain keberagaman kuliner yang ada di Kota Semarang, sejarah kuliner di Kota Semarang cukup menarik untuk diulas. Hal tersebut karena keberagaman yang berasal dari percampuran banyak budaya yang lebih terasa kental. Misalnya saja makanan asli Semarang ‘Wedang Ronde’ yang ternyata punya latar belakang sejarah sebagai sesaji bagi orang meninggal di Negara China. Terlepas dari sejarah kuliner di Semarang, saat ini pengusaha kuliner di Semarang juga tidak kalah inovatif jika dibandingkan Kota Bandung misalnya saja yang terbaru ada Lunpia Bengkoang, ada pula Lunpia Mbledos bagi warga yang menyukai rasa pedas”tegas Dwi Royanto.

“Menurut salah satu hasil survey, minat baca masyarakat paling tinggi saat ini terletak pada bidang destinasi wisata, kuliner dan hiburan (gosip) dan saat ini banyak orang yang memanfaatkan media sosial sebagai media advertorial (iklan) dengan menampilkan tulisan maupun gambarnya yang menarik. Saat ini, jika orang berkunjung ke suatu tempat wisata, hal yang tidak lupa adalah foto, upload dengan caption yang menarik. Hal ini menandakan semua orang bisa menjadi jurnalis karena kita semua menulis tentang fakta. Berbeda dengan teknik menulis berita, menulis keterangan tentang suatu makanan biasanya menarik dan variatif, dalam teknik jurnalistik hal ini dinamakan Teknik Feature” jelas Dwi Royanto.

5 hingga 10 detik pertama

Apsari Retno sebagai jurnalis televisi juga menyampaikan pandangannya tentang peliputan kuliner Semarang. “Berbicara kuliner di media cetak dan online tentunya berbeda jika kita sajikan di media televisi. Di media cetak, mereka masih menggunakan cara menulis. Bagi kita yang bekerja sebagai jurnalis televisi, kita berusaha menceritakan dan mewakili pemirsa di rumah untuk merasakan lezatnya berbagai makanan. Saya pernah membuat liputan mengenai kuliner asli Semarang yang belum diketahui orang terbukti beberapa orang yang saya temui tidak mengerti saat saya bertanya tentang Nasi Glewo dan bagi saya itu menarik karena melalui liputan, saya dapat menyajikan sejarah dari kuliner khas Kota Semarang ini. Menyajikan liputan tentang makanan menuntut seorang reporter televisi bersikap partisipatif misalnya saja langsung terjun ke lapangan dengan mewawancarai penjual makanan tersebut. Tidak hanya reporternya saja yang harus partisipatif, semua produk berita wajib hukumnya untuk dimulai dengan gambar paling menarik. Di dunia pertelevisian misalnya, agar produk berita dapat menarik banyak orang maka gambar yang paling menarik wajib untuk diletakkan di 5 hingga 10 detik pertama. Untuk bidang kuliner, kita dapat menyajikan dengan gambar yang membuat air liur menetes seperti orang yang membakar sate,” jelas Apsari Retno.

Pengaruh Media Sosial

Bagi Firdaus Adinegoro, saat ini media sosial menjadi raja, hal ini terbukti dari penelitian yang dilakukan Majalah Forbes yang menghasilkan fakta bahwa pengambilan keputusan oleh Generasi Millenial sebanyak 47% dipengaruhi oleh media sosial. Juga ada penelitian yang membuktikan bahwa 15 menit per hari dilakukan untuk mencari makanan di media sosial bagi orang Inggris.

“Menjadi seorang Food Influencer, harus memperhatikan banyak aspek salah satunya demografi (usia penonton) dan media sosial yang digunakan. Misalnya berbeda antara facebook dan instragram, instagram lebih bersifat celebrity boomers. Menyajikan es krim yang memiliki motif bunga juga lebih menarik bagi anak-anak dibandingkan es krim warna-warni karena demografi penonton yang dituju jelas” tutup Firdaus Adinegoro.(Cal)

Kategori: ,