Penugasan ke Pastoran Unika, Romo Budi Kembali Berjalan Kaki
Rabu, 29 November 2017 | 18:51 WIB
SM 29_11_2017 Penugasan ke Pastoran Unika, Romo Budi Kembali Berjalan Kaki

BETENG WILLEM II: Romo Aloys Budi Purn omo Pr bersama rombongan melewati depan Beteng Willem II Jalan Diponegoro Ungaran, Selasa (28/11) sore. Meski hujan, prosesi pindah tugas dan rumah dinas ke Unika Soegijapranata Semarang tetap dilanjutkan bersama rombongan lintas agama.

Romo Aloys Budi Purnomo Pr, kembali nglakoni jalan kaki dari Gereja Kristus Raja Ungaran menuju Unika Soegijapranata Semarang, Selasa (28/11) sore. Tepat dua tahun 23 hari, dirinya mengemban tugas sebagai Vicaris Paroki atau membantu Pastor Paroki Kristus Raja Ungaran, Romo J Sudarmadi melayani umat. Per 16 Juni 2017, pria kelahiran Wonogiri, 14 Februari 1968 itu pun mendapat penugasan dari Keuskupan Agung Semarang menjadi pastor kepala campus ministry atau reksa pastoral kampus di Unika Soegijapranata Semarang. “Saya tidak tahu persis yang ikut jalan kaki berapa orang, tetapi yang jelas ada pendeta, tokoh lintas agama, dulur-dulur sanggar, seniman, serta umat yang akan ikut mengiringi,” kata Romo Budi.

Sebagaimana diketahui, perjalanan serupa pernah dilakoni Romo Budi ketika pindah tugas dari Gereja Kebon Dalem Semarang menuju Gereja Kristus Raja, Ungaran 3 November 2015 silam. Kala itu, ia memberi istilah perjalanan dari gereja pinggir kali atau girli ke gereja pinggir jalan atau girla. “Sekarang, istilahnya dari lereng gunung menuju pinggiran kota,” ucapnya.

Di tempat penugasan baru, romo yang lincah memainkan mini sexofon dan dekat dengan dunia seni itu nantinya hendak berkolaborasi dengan rektor, dosen, dan mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang dalam meneruskan semangat Soegijapranata. Dalam bahasa latin, spirit itu tertulis talenta pro patria et humanitate. Artinya, mengembangkan semua bakat dan kemampuan untuk kepentingan bangsa dan kemanusiaan. “Dalam konteks itulah reksa pastoral kampus dikembangkan,” tandasnya.

Selain bertugas di Unika Soegijapranata Semarang, dirinya juga masih mengemban tugas sebagai Ketua Komisi Hubungan Antar Umat Beragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. Maka ke depannya, ia berjanji hendak membuat sinergi melibatkan semua pihak termasuk pihak kampus. “Salah satu cita-cita kerinduan saya, adalah menandai semangat itu dengan kesederhanaan. Bertepatan pukul 10.00 WIB dan 12.00 WIB nantinya di Unika Soegijapranata Semarang akan dibunyikan lonceng,” paparnya.

Pukul 10.00 WIB lonceng dibunyikan mengacu detik-detik proklamasi, dengan begitu seluruh civitas akademika diharapkan tetap semangat dalam berkarya dan belajar. Sementara lonceng pukul 12.00 WIB, mengacu waktu renungan. Termasuk menandai waktu ibadah bagi warga umat Islam. “Unika Soegijapranata Semarang saat ini mahasiswanya sudah banyak yang Islam, dan mereka berasal dari seluruh nusantara. Semangat sinergi itu harus diwujudkan melalui budaya dan gerakan nasionalis,” jelas Romo Budi.

Meski pun sudah tidak berdomisili di Bumi Serasi, romo yang melahirkan dua karya sastra Ada Bintang di Gulita Malam, novel sosio-spiritual (YPN Yogyakarta 2007) dan Rinduku Lahir menjadi Penyair, kumpulan puisi (Inspirasi 2015), itu menyatakan tetap memperhatikan sekaligus hendak menghadiri kegiatan yang berbau budaya dan berhubungan kemanusiaan. “Saya akan berusaha hadir bila ada kegiatan di daerah, tidak hanya di Ungaran dan Jawa Tengah saja. Intinya, kerukunan umat harus dibalut dengan memperhatikan budaya serta keberagaman,” pungkasnya.

(►http://www.suaramerdeka.com)

Kategori: