“Berani keluarlah untuk mencoba hal-hal baru, karena di situ kita akan belajar”
Rabu, 1 November 2017 | 15:36 WIB

Narasumber (ki-ka): Muhammad Dicky Adviyandy (Dicky), Adhitya Putra M (Adhit berhalangan hadir), Vinsentius Gilrandy (Randy)

Pada tanggal 20 dan 21 Oktober 2017 kemarin, Universitas Sebelas Maret Surakarta mengadakan sebuah sayembara desain Microhouse pada acara Archevent 2017 dengan tema “Urban Resistance and Reconsiliation”. Acara ini merupakan acara tahunan yang diadakan oleh progdi Arsitektur UNS. Pada perhelatan kali ini, tiga orang mahasiswa Program Studi Arsitektur Unika Soegijapranata memberanikan diri untuk ikut andil di dalamnya. Mereka adalah Randy, Dicky, dan Dhika. Ketiganya merupakan mahasiswa progdi Arsitektur angkatan 2014.Pada kesempatan kali ini kami ingin mewawancarai mereka untuk tahu lebih dalam tentang persiapan, proses berlangsungnya sayembara sampai keberhasilan mereka mengamankan tempat ketiga dari 500 orang peserta yang turut.

Coba ceritakan pengalaman kalian dari awal tahu soal sayembara ini sampai akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan diri!

Kebetulan, keluarnya pengumuman soal sayembara ini kami ketahui tepat satu bulan sebelum KKN. Pengumuman keluar bulan agustus dan kami diberi waktu sampai oktober. Setelah KKN, di waktu yang sudah mepet itu, kami baru diskusi tentang konsep dan masalah-masalah yang sekiranya bisa diangkat. Bahkan, desain rumahnya sendiri baru kami kerjakan pada H-2 sebelum deadline dan langsung kami kirim ke sana. Bisa dibilang, soal persiapan sendiri kami sangat minim.

Lalu, hal apa yang akhirnya membuat kalian akhirnya berani terjun ke dalam sayembara ini?

Sebenernya kita bertiga sudah pernah ikut sayembara seperti ini sebelumnya. Lalu kami dapat info kalau UNS mengadakan kompetisi serupa, akhirnya Randy berinisiatif untuk mengajak kami untuk ikut lagi. Selain itu, di kompetisi sebelumnya kita dapat hasil yang kurang memuaskan, jadi untuk even kali ini kita pengen balas dendam, he..he… Kebetulannya lagi, sayembara kali ini ternyata memiliki tema yang sama dengan yang terakhir kami ikuti, cuma dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Akhirnya, dengan bermodalkan pengalaman dan pelajaran dari kesalahan-kesalahan kompetisi sebelumnya, kami memutuskan untuk ikut sayembara ini. Kami merasa lebih siap.

Bagaimana rasanya membawa pulang peringkat ketiga dari sebuah sayembara yang diikuti oleh 500 peserta?

Sebenarnya kami tidak punya bayangan akan bisa membawa pulang peringkat ketiga. Apalagi kami sendiri baru mendaftarkan diri pada H-1 sebelum pendaftaran ditutup dan mendapat nomor urut ke 555. Saat tahu bahwa kami termasuk dalam 5 karya yang dipilih juri rasanya kami sudah senang sekali, dan kami menganggap peringkat 3 yang kami dapat hanyalah bonus dari usaha yang sudah kami lakukan, meskipun harapannya dapat juara 1, he..he…

Sayembara ini mengangkat tema “Urban Resistance And Reconsiliation” maksudnya apa sih?

Intinya sih, bagaimana caranya kita memberikan solusi untuk membangun rumah di lahan yang sempit dan di tengah-tengah meledaknya jumlah pertumbuhan penduduk.

Lalu desain rumah Microhouse itu desain yang seperti apa?

Microhouse adalah desain rumah yang efisien dengan memanfaatkan lahan yang terbatas, tetapi bisa mengakomodasi kebutuhan pemilik rumah. Contohnya, dalam sayembara kemarin kita diminta untuk membangun rumah di atas lahan 12m persegi dengan penghuni 4 orang.

Jadi, kehadiran Microhouse dalam sayembara itu adalah bentuk solusi dari “Urban Resistance And Reconsiliation” tadi?

Ya, begitu.

Bagaimana sih rangkuman kegiatan yang ada di sayembara itu? Tahapan-tahapan apa yang harus dilalui?

Jadi, sayembara itu berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 20 dan 21 oktober 2017. Pada hari pertama juri melakukan seleksi karya untuk memilih 5 karya terbaik yang kelak akan dipresentasikan di hari kedua. Hari kedua adalah hari untuk presentasi karya, sekaligus pengumuman pemenang.

Setelah tahu bahwa karya kalian masuk dalam 5 karya yang dipilih juri, adakah strategi khusus untuk menghadapi presentasi di hari kedua?

Waktu presentasi di sana kita sempat minder karena melihat presentasi-presentasi sebelumnya. Karena kebetulan kami dapat nomor urut ketiga, jadi ketika melihat peserta yang sudah maju dengan presentasi yang bagus-bagus kami sempat minder dan deg-degan. Selain itu, kita juga was-was dengan pertanyaan juri yang selalu menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan yang mematikan.  Untunglah hari sebelumnya kita sempat ngobrol-ngobrol dulu untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya akan ditanyakan. Dan untungnya lagi, semua pertanyaan yang diajukan benar-benar sesuai dengan apa yang sudah kami antisipasi.

Menurut kalian, apa sih keunggulan dari desain rumah yang kalian buat ini sehingga bisa mendapat peringkat tiga?

Kita punya pendekatan masalah yang lebih dekat dan sulit. Kami punya lahan riil yang dijadikan obyek masalah. Ketika kami mencari lahan yang atau obyek masalah yang bisa diangkat kemarin, kami memilih daerah kemijen, yang notabene adalah daerah yang sering kena rob. Jadi, kami punya pendekatan masalah yang kompleks dan jelas, bahkan juri pun mengakui bahwa permasalahan yang kami angkat memang sulit. Mungkin inilah yang membuat kami bisa membawa peringkat tiga terbaik.

Adakah pesan atau harapan yang ingin disampaikan untuk teman-teman dari Arsitektur Unika Soegijapranata atau untuk staf pengajarnya mungkin?

Berani keluarlah, berani mencoba hal-hal baru, karena dari situ kita akan belajar. Sebenarnya Arsitektur kita itu bisa bersaing kok, cuma seperti kurang ada trigger aja. Nah, dengan hasil ini kami berharap agar teman-teman Arsitek Unika itu bisa lebih bersuara. Padahal progdi Arsitek kita sudah punya nama, jadi sayang aja kalau gak ada pembuktiannya. Selain itu, dengan lebih sering ke luar kita juga bisa dapat relasi baru dari teman-teman arsitek dari universitas lain, bahkan bisa sharing dan ngobrol dengan juri-jurinya juga tentang isu-isu arsitek terkini. Ajang sayembara ini juga bisa dijadikan untuk membuktikan idealisme kita. Karena kadang-kadang, kalau di dalam studio itu, solusi kita yang di luar dari kebiasaan sering berbenturan dengan aturan-aturan dari dosen. Kita sebut itu idealisme. Nah ajang-ajang seperti ini bisa kita jadikan untuk membuktikan bahwa idealisme kita itu ada benarnya.

Terus untuk dosen di program studi Arsitektur, kami berharap agar saat berada di studio kita benar-benar disuruh presentasi secara langsung, seperti menampilkan informasi desain-desain kita, lalu dosen bisa menambahkan beberapa pertanyaan untuk menguji konsep kita itu. Kami percaya kalau model seperti ini bisa melatih mental untuk presentasi dan tampil di depan publik. Eman-eman aja kalau di studio itu kita cuma masuk terus duduk berhadap-hadapan dengan dosen untuk menjelaskan gambar.

Lalu setelah ini kalian mau ngapain? Ada rencana untuk ikut sayembara-sayembara lagi? Atau membagikan pengalaman dengan teman-teman mungkin?

Ya, kalau ada sayembara-sayembara lagi kami sudah semakin siap untuk terjun. Untuk berbagi pengalaman, besok saat acara dies natalis progdi Arsitektur, kami diberi kesempatan untuk presentasi karya kepada teman-teman, sekaligus berbagi cerita dan pengalaman. (AS)

Kategori: ,