Bedah Karya Dies Natalis Arsitektur Unika: Memahami Pasar Johar Pasca Kebakaran
Jumat, 3 November 2017 | 16:52 WIB

Dalam rangka merayakan Dies Natalis ke-50 tahun, Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata mengadakan Bedah Karya di Gedung Monod Huis yang terletak di Jalan Kepodang, kompleks Kota Lama Semarang. Acara yang bertajuk “Memahami Pasar Johar Pasca Kebakaran” tersebut diadakan pada hari Kamis (2/11) dan terbuka untuk umum. Dalam acara tersebut, Ir. A. Kriswandono M.Si dan Dr. Ir. Krisprantono MA hadir sebagai pembicara.

Krisprantono mengajak para mahasiswa dan tamu yang hadir untuk menilik sejenak sejarah Pasar Johar yang didirikan pada tahun 1936 oleh arsitektur asal Belanda, Thomas Karsten. “Pasar Johar adalah  pasar swalayan terbesar dan termegah pada zamannya. Ia menjadi pasar termodern se-Asia Tenggara pada tahun sekitar 1930-an,” ungkap Krispantoro.

Ketika dibangun pada tahun 1936, Pasar Johar merupakan satu dari enam belas pasar tradisional di Semarang dan sekaligus menjadi pasar swalayan pertama di Kota Semarang. Berbeda dengan pasar-pasar lainnya, Pasar Johar memiliki kekhasan dalam kerapian dan kebersihan tempatnya. Hal ini terlihat di mana bagian dalam Pasar Johar terdapat petak-petak lapak untuk tempat berjualan. Hal ini bertujuan supaya jalan untuk lalu lalang pengunjung tidak terhambat. Selain itu, trotoar di bagian depan Pasar Johar kala itu juga terbilang cukup luas sehingga nyaman sebagai lalu lintas hilir-mudik orang-orang di pasar.

“Pasar Johar merupakan sebuah karya masterpiece dari Thomas Karsten. Sebelum mendesain Pasar Johar, Karsten terlebih dulu belajar dan mengamati pasar-pasar yang sudah ada sebelumnya, seperti Pasar Jatingaleh dan Randusari,” ungkap Kriswandono.

Budaya dan Filosofi Pasar

Dalam mendesain arsitektur bangunan Pasar Johar, Karsten tidak lupa memperhatikan unsur budaya dan manusia yang ada di dalamnya. “Hampir semua pasar mengambil nama tumbuhan yang rimbun, seperti Pasar Randusari atau Pasar Jatingaleh. Ini memiliki filosofi yang mendalam. Karsten mengamati bahwa para pedagang merasa nyaman berjualan di bawah pohon yang rimbun. Maka ia pun mendapatkan ide untuk mendesain bangunan yang memiliki suasana serupa, yang membuat orang-orang merasa nyaman beraktivitas di dalamnya,” tutur Kriswandono.

Salah satu yang menjadi kekhasan arsitektur Pasar Johar adalah adanya pilar-pilar cendawan atau mushroom construction. Thomas Karsten telah mendesain Pasar Johar dengan sangat apik. Karsten memerhatikan saluran pembuangan air atau drainase,penerangan cahaya, hingga aliran melalui ventilasi udara.

Cahaya matahari dapat masuk menembus atap di bagian dalam Pasar Johar. Sehingga, bagian dalam bangunan pun menjadi terang tanpa menggunakan bantuan peralatan listrik. Angin yang semilir pun terasa melalui ventilasi udara yang terdapat pada bangunan pasar. “Penyusunan drainase juga tertata rapi. Talang-talang air dibuat secara horisontal supaya tidak mengganggu pemandangan. Kita tidak akan pernah menemukan satu pun talang yang disusun vertikal,” tambahnya.

Hal lain yang menarik dari arsitektur Pasar Johar ini, menurut Kriwandono, adalah setiap sudut-sudut bangunannya yang diperhatikan secara detail oleh Thomas Karsten. “Karsten benar-benar memerhatikan dengan jeli dan seksama, bahkan hingga bagian yang kecil sekalipun. Keterampilan untuk mengamati hal secara detail inilah yang perlu ditingkatkan lagi oleh para arsitek muda, jangan sampai keterampilan ini pudar,” ungkapnya.

Cagar Budaya

Namun, kebakaran yang terjadi pada tahun 2015 telah menyebabkan sebagian rangka atap melengkung dan struktur beton bangunan Pasar Johar roboh. Maka bangunan Pasar Johar pun perlu direkonstruksi ulang dan dikonservasi. Upaya untuk mengonservasi Pasar Johar tidaklah mudah. Hal ini terkait bangunan Pasar Johar sebagai salah satu bangunan cagar budaya nasional.

“Bangunan yang merupakan cagar budaya nasional harus kembali seperti semua. Sehingga, proses rekonstruksi perlu dilakukan secara hati-hati, tidak boleh gegabah. Prosedur kita lakukan satu per satu, mulai dari recording, dokumentasi, scanning, hingga pengujian bahan material. Jangan sampai kita mengubah nilai-nilai cagar budaya dari arsitektur bangunan ini,” imbuh Kriswandono.

Untuk melakukan konservasi, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah perihal sejarah bangunan, apakah bangunan tersebut pernah dibongkar atau tidak. Perlu dipahami juga material penyusun bangunan seperti beton dan bahan lainnya. Diperlukan pula teknik konservasi yang benar dan tepat tanpa melupakan filosofi dari bangunan itu sendiri. Dan tentunya dibutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak yang berkaitan.

Dalam melakukan konservasi bangunan cagar budaya, ada empat hal penting yang menjadi syarat di mana suatu bangunan dapat digolongkan sebagai bangunan cagar budaya. Empat hal itu adalah tidak boleh mengubah desain bangunan, mengubah material, mengubah cara membuat bangunan, dan mengubah letak bangunan.

“Rekonstruksi dan konservasi Pasar Johar mengalami sedikit perdebatan dalam hal ini. Setelah terjadinya kebakaran, desain Pasar Johar perlu direkonstruksi ulang dengan mengumpulkan data-data dan dokumen yang ada. Bahan material yang baru digunakan untuk membangun pasar Johar kembali. Semuanya berubah, kecuali letak Pasar Johar. Sehingga pertanyaannya, apakah Pasar Johar masih termasuk bangunan cagar budaya?” ungkapnya.

Yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana cara kita merawat pasar Johar. Kondisi Pasar Johar saat ini terlihat kurang rapi, tak  seperti dulu lagi ketika Johar pertama dibangun. Hal ini bisa kita lihat beberapa waktu sebelum Johar terbakar. Jalan untuk lalu lintas orang menjadi semakin sempit bahkan tidak ada karena tertutup oleh pedagang, kabel listrik yang digunakan untuk penerangan juga masih belum tertata dengan baik sehingga memberi kesan tak rapi.

“Itu adalah tanggung jawab kita untuk ikut berperan aktif dengan memberi masukan kepada pemerintah kota tentang apa yang harus dilakukan untuk merawat Pasar Johar. Ini merupakan tanggung jawab kita terhadap masa depan. Kita ingin Pasar Johar terlihat seperti apa ke depannya?” pungkas Kriswandono. (B.Agth)

Kategori: ,