Unika Soegijapranata Sebagai Miniatur Indonesia
Selasa, 3 Oktober 2017 | 8:03 WIB

Unika Soegijapranata telah menyelenggarakan Kuliah Umum yang bertemakan “Menguji Pancasila dalam Konteks Keberagaman” pada hari Senin (2/10). Kuliah umum yang diikuti oleh seluruh mahasiswa baru Unika angkatan 2017 ini diselenggarakan di gedung Sporthall Unika. Dalam acara tersebut, Unika Soegijapranata menghadirkan dua pembicara utama, yakni Yudhi Latief, Ph.D (Kepala Unit Kerja Presiden – Pembinaan Ideologi Pancasila) dan Prof.Dr.Budi Widianarko, M.Sc. (Rektor Unika Soegijapranata periode 2009-2017).

Budi menyampaikan betapa pentingnya Pancasila sebagai pengikat bangsa Indonesia, khususnya dalam situasi saat ini di mana Pancasila kerap kali menghadapi banyak tantangan dalam hal persatuan dan kebangsaan. Selain itu, Budi juga menyampaikan bagaimana semangat Uskup Mgr. Soegijapranata sebagai sosok panutan bagi seluruh mahasiswa Unika yang selalu menekankan semangat “100% Katolik 100% Indonesia”. Seluruh mahasiswa Unika diharapkan dapat mengembangkan bakat dan talentanya masing-masing yang telah dianugerahkan Tuhan untuk nusa dan bangsa. Hal ini sesuai dengan semangat “Talenta pro patria et humanitate” yang menjadi motto Unika Soegipranata, yang memiliki arti “talenta untuk tanah air dan kemanusiaan”.

Budi juga menekankan bagaimana Unika Soegijapranata sebagai sebuah universitas yang transformatif. “Universitas yang transformatif adalah universitas yang bersifat co-creation, yang bekerja sama dengan berbagai aktor sosial mulai dari pemerintah, industri, hingga masyarakat sipil untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial,” tegas Budi.

Miniatur Indonesia

Yudhi Latief mengapresiasi Unika Soegijapranata sebagai miniatur Indonesia. Hal itu dikarenakan mahasiswa Unika Soegijapranata berasal dari beragam tempat asal dari Sabang hingga Merauke. Yudhi mengibaratkan Indonesia sebagai rumah yang berwarna-warni. “Indonesia memiliki kemajemukan yang menjadi kebanggaan kita bersama. Sebab, di dalam perbedaan itu kita temukan persatuan,” ucapnya.

Yudhi menjelaskan kemajemukan yang dimiliki bangsa Indonesia, mulai dari agama, ras, suku, budaya, bahasa dan bagaimana semua keberagaman itu disatukan dalam sila-sila Pancasila. “Sila pertama mencerminkan bagaimana kita harus saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama yang berbeda. Sila kedua menjelaskan bagaimana kita, walaupun berbeda suku dan warna kulit, tetap bersatu untuk menghargai kemanusiaan. Sila ketiga mengingatkan kita untuk selalu menjunjung tinggi persatuan walaupun berbeda suku dan budaya. Sedangkan, beragamnya partai politik yang ada di Indonesia dapat bersatu untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Hal ini sesuai dengan sila keempat dan kelima Pancasila,” jelas Yudhi.

Ia juga menjelaskan bahwa Pancasila memiliki tiga peran penting bagi bangsa Indonesia, yakni sebagai titik temu perbedaan, titik pijak seluruh peraturan perundang-undangan dan kebijakan, dan titik tujuan orientasi bangsa.

Yudhi juga menambahkan bagaimana pentingnya Civic Intelligent atau kecerdasan menghargai perbedaan. “Sebab,” terangnya, “kecerdasan musikal, kecerdasan akademis, atau kecerdasan lainnya menjadi tidak berarti bila kita tidak bisa menghargai perbedaan yang ada”. Yudhi pun mengajak supaya prestasi yang dimiliki masing-masing pribadi dapat diarahkan untuk membangun harmoni kebangsaan.

Ucapkan Ikrar

Di sela-sela acara, Romo Aloysius Budi Purnomo, ketua Campus Ministry Unika Soegijapranata bersama kelompok musik Pelintas mengajak seluruh civitas academica  Unika untuk menyanyikan sebuah lagu bertemakan “Indahnya Cinta Damai”.

Dalam sesi tanya-jawab, muncul suatu pertanyaan penting yakni bagaimana mewujudkan sikap cinta bangsa. Sikap mencintai bangsa pertama-tama terwujud dalam sikap siap ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Menanggapi hal tersebut, Budi Widianarko menekankan betapa pentingnya sikap mencintai bangsa. “Sebab dua puluh tahun lagi, Indonesia adalah milik kalian,” tegasnya.

Di akhir acara, Yudhi memberikan tanggapan positif atas terselenggaranya Kuliah Umum ini. “Acara seperti Kuliah Umum ini sangat baik bila dapat diadakan terus, sebab acara seperti ini dapat mempertemukan kita untuk melihat indahnya keberagaman dan memahami Pancasila lebih mendalam,” tegasnya.

Di penghujung acara, seluruh mahasiswa dengan serentak mengucapkan ikrar untuk menjiwai Pancasila dalam hidup sehari-hari, menghargai keberagaman, serta menolak intoleransi, komunisme, terorisme, dan radikalisme. (B.Agth)

Kategori: ,