Sisi Lain Diponegoro dalam Perspektif Cokronegoro
Jumat, 27 Oktober 2017 | 10:00 WIB

SM 27_10_2017 Sisi Lain Diponegoro

PERANG Jawa pada 1825-1830 silam, tak lepas sosok Pangeran Diponegoro. Dalam sejarah Indonesia, perang ini menghancurkan tatanan lama Jawa sekaligus melahirkan sebuah pemerintah kolonial baru, Hindia Belanda pada 1818-1942.

Untuk kali pertama, dalam sastra Jawa modem muncul sebuah otobiografi (Babad Diponegoro 1832) yang ditulis pangeran asal Yogyakarta itu saat pengasingan di Manado.

Isu legitimisasi kekuasaan muncul dan menjadi padebatan. Apakah sang pangeran mumi memperjuangkan kebenaran atau karena pamrih atas kekuasaan yang ingin diraih sang pangeran kala itu.

Sejarawan berkebangsaan Inggris yang lahir di Myanmar, Peter Carey melalui bukunya “Sisi Lain Diponegoro, Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa (2017), menghadirkan sisi lain dari Diponegoro berdasarkan sudut pandang Raden Adipati Cokronegoro I.

Lulusan Trinity College, Universitas Oxford tersebut menggambarkan pandangan-pandangan "musuh" Diponegoro berdasarkan Babad Kedung Kebo (1843) atau dikenal juga dengan Buku Kedung Kebo yang ditulis Cokronegoro.

‘Buku saya ini bermuara pada salah satu babad yang tidak setuju pada Diponegoro (Babad Kedung Kebo-Red). Sangat menarik bagi sejarawan dan ini memberikan suatu pandangan yang berbeda," kata Peter saat diskusi buku mililmya yang diselenggarakan Program Magister Lingkungan dan Perkotaan, Unika Soegijapranata di kampus tersebut, Kamis (26/10).

Dalam babad yang ditulis Cokronegoro dijelaskan, Diponegoro dianggap melaksanakan perang pada waktu yang tidak tepat dan atas dasar pamrih. Pandangan kritis ini bisa dilihat dari contoh wayang yang dipakai sasmita berupa wangsit dan "penampakan" yang diterima Diponegoro sebelum perang.

Pandangan Cokronegoro dalam babad yang ditulisnya, mengusir Belanda kala itu belum waktunya. Daripada menentang mereka, lebih baik menerima dan bekerja sama sebagai sekutu politik untuk membangun negara Hindia Belanda.

Peter mengatakan, buku ini mengajak sejarawan untuk mengerti sejarah Jawa pada awal abad ke-19 sberaneka ragam.

Babad Cokronegoro seolah memperingatkan, bahwa tidak ada satu versi sejarah yang benar.

Di sisi lain, sebagian kalangan mempertanyakan legalitas atau keakuratan suatu babad. Cerita pada babad dianggap ada desakan atau intervensi seorang penguasa.

Menanggapi hal tersebut, Peter memiliki pandangan sendiri. Dia menilai babad bukanlah khayalan dan bukan sebuah dongeng. Masyarakat Jawa mempunyai warisan sejarah yang kaya dan harus dijunjung. Istilah babad diterjemahkannya seperti buku harian pada era dahulu yang sangat subur.

(►Suaramerdeka hal 28)

Kategori: