Peran Perguruan Tinggi Dalam Kepemimpinan Sosial
Selasa, 24 Oktober 2017 | 19:09 WIB

Tiga universitas di kota Semarang yaitu Unika Soegijapranata, Universitas Islam Sultan Agung, dan Universitas Diponegoro pada tahun ini mendapat kesempatan sebagai penyelenggara kegiatan Nationwide University Network in Indonesia (NUNI) yang beranggotakan 21 universitas negeri maupun swasta yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Agenda kegiatan yang diselenggarakan mulai tanggal 21 Oktober sampai dengan 23 Oktober 2017 ini, dibagi dalam tiga kegiatan meliputi presidential forum, annual meeting  dan student mobility scheme.

Khusus acara  student mobility scheme yang baru pertama kali dilaksanakan dalam kegiatan NUNI ini, dihadiri oleh 13 universitas seluruh Indonesia yang terdiri dari Universitas Atmajaya Yogyakarta, Universitas Surabaya, Universitas Kristen Maranatha Bandung, Universitas Kristen Satya Wacana, Universitas Bina Nusantara Jakarta, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Universitas Sanata Dharma, Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Andalas Padang, Unika Soegijapranata, Universitas Diponegoro, Universitas Kristen Petra dan Universitas Islam Indonesia.

Puncak acara kegiatan NUNI 2017 ditutup dengan penyelenggaraan seminar yang diadakan di ruang Teater, Gedung Thomas Aquinas, Unika Soegijapranata pada hari Senin (23/10).

Pengembangan Kepemimpinan Sosial

Dalam seminar yang bertema “University as The Backbone of Social Leadership : Development of Coastal Area of Semarang” ini, hadir sebagai pembicara utama yaitu  Prof. Dr. Y. Budi Widianarko, M.Sc dari Unika Soegijapranata dan Very Rev. Herminio Dagohoy, O.P., Ph.D.  dari  Universitas Santo Tomas, Cebu, Filipina.

Dalam penjelasannya, B Danang Setianto, SH., LLM., MIL selaku Wakil Rektor IV bidang Kerjasama dan Pengembangan Unika sekaligus Steering Committee NUNI 2017, mengungkapkan bahwa kegiatan NUNI diarahkan pada  pengembangan kepemimpinan sosial melalui perguruan tinggi, “Biasanya dalam pertemuan seperti ini kami mengundang rektor ataupun wakil rektor dari universitas anggota NUNI untuk membicarakan mengenai cara-cara mengelola sebuah perguruan tinggi. Dalam seminar ini, fokus yang akan dibicarakan mengenai bagaimana memunculkan Social Leadership  atau kepemimpinan dengan tanggung jawab sosial  terutama tanggung jawab sebagai universitas. Untuk itu kami mengundang rektor Universitas Santo Thomas Filipina sebagai pembicara seminar karena Universitas Santo Thomas merupakan universitas tertua di Filipina dan telah berdiri sejak 400 tahun yang lalu”.

Sementara itu Rektor Unika Soegijapranata, Prof. Dr. F Ridwan Sanjaya, MS., IEC dalam sambutannya juga berharap agar kegiatan NUNI bisa melibatkan pihak masyarakat, “Acara ini tidak hanya sekedar acara biasa melainkan sebagai perumusan terobosan-terobosan yang dapat membangun pendidikan tinggi di era Disruptive Innovation. Melatih kepemimpinan mahasiswa agar semakin peka terhadap perubahan dan dapat menyumbangkan talentanya untuk masyarakat adalah salah satu cara untuk melayani dan menghadapi kemajuan zaman. Saya berharap ke depannya, acara seperti ini tidak hanya melibatkan perguruan tinggi dan mahasiswa melainkan juga turut mengundang dari pihak masyarakat” tutur Ridwan.

Dalam materinya, Herminio Dagohoy menyampaikan bahwa saat ini kemampuan mengakses komputer dan kecerdasan sedang digalakkan. Dalam 2 tahun ke depan, seluruh manusia dapat mengakses dengan apa yang disebut megabyte connection. Dan untuk itu, maka peran perguruan tinggi sangat diharapkan untuk ikut memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti halnya : Leadership, Organizational Development and Good Governance; Employability and Social Enterprise Development; Culture Heritage and Sports and Development; Environmental Sustainability and Action.

Harmonisasi  

“Seperti yang dikatakan Dagohoy, bahwa pendidikan tinggi diperlukan tidak hanya untuk menyambut globalisasi saja melainkan untuk mempersiapkan beberapa keadaan. Di dunia Pendidikan Tinggi saat ini, kita sedang menghadapi pengaruh dominan dari ranking dan rating baik di tingkat dunia maupun di Asia dan pengaruh inilah yang saat ini coba ditiru oleh pemerintah Indonesia, hingga dibentuklah SINTA (Science and Technology Index) oleh Pemerintah Indonesia. Dalam menghadapi globalisasi, fondasi yang harus dipegang kuat adalah harmonisasi. Jadi apabila kita ingin membandingkan kualitas beberapa perguruan tinggi, kita membutuhkan standar dan itulah salah satu contoh harmonisasi. Saat ini seluruh perguruan tinggi sedang terjangkit dengan apa yang saya namakan  Olympic Syndrome dimana semuanya ingin menjadi yang terbaik dengan memperbanyak jumlah publikasi karya melalui jurnal ilmiah untuk memperbaiki akreditasi nasional”tutup Budi Widianarko.

Kategori: ,