Olahraga Masih Jadi Anak Tiri – oleh Ferdinand Hindiarto
Senin, 2 Oktober 2017 | 9:29 WIB

SM 2_10_2017 Olahraga Masih Jadi Anak Tiri – oleh Ferdinand Hindiarto2

"Bisa disimpulkan, pada periode 2013-2018 pembangunan bidang olahraga masih menjadi anak tiri, belum mendapat perhatian memadai."

MENJELANG berakhir masa jabatan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmiko sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng periode 2013-2108, baik jika dievaluasi kinerjanya pada berbagai bidang. Kali ini di bidang pembangunan olahraga. Meskipun tidak menjadi janji-janji kampanyenya, tetap perlu dikaji mengingat olahraga memiliki peran luar biasa dalam pembangunan manusia, namun acapkali tidak mendapat perhatian. UU No 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) Pasal 12 sampai 15 berisi kewajiban pemerintah daerah, yaitu mengatur, membina, mengembangkan, melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan olahraga di daerah dalam tiga ranah, yaitu olahraga pendidikan, rekreasi, dan prestasi.

Indikator dalam ranah prestasi dapat menjadi salah satu tolok ukur dalam mengevaluasi kinerja Ganjar-Heru. Beberapa prestasi bisa dijadikan dasar evaluasi, antara lain di ajang olahraga tingkat nasional. Pada PON XIX di Jabar 2016, Jateng berada di peringkat IV dengan 32 medali emas. Perolehan medali emas itu sangat jauh dibandingkan dengan DKI Jakarta di peringkat III dengan 132 emas.

Hasil itu diperoleh melalui dinamika persiapan yang sangat heboh, khususnya terkait dengan kelambatan pencairan anggaran, sehingga jelas sangat memengaruhi persiapan para atlet. Dalam Popnas 2017, Jateng sebagai tuan rumah berada di peringkat III di bawah Jabar dan DKI Jakarta. Dalam hal sarana dan prasarana olahraga, sebagaimana diamanatkan Pasal 67 UU SKN menjadi kewajiban pemerintah daerah menyediakan, jelas sekali Jateng sangat tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Jateng, misalnya, hanya memiliki satu stadion bertaraf internasional, yaitu Manahan Solo.

Demikian pula fasilitas olahraga untuk olahraga rekreasi, sangat minim. Hampir tidak ada pembangunan sarana dan prasarana olahraga pada periode ini. Pasal 69 UU SKN mengamanatkan pemerintah daerah wajib mengalokasikan dana untuk penyelenggaraan olahraga. Ideal sekali jika anggaran olahraga mendapat porsi lebih. Namun, fakta saat PON XIX menggambarkan ada karutmarut soal itu.

Gubernur waktu itu menyatakan karena anggaran tidak dikelola secara transparan, kita semua setuju dan sepakat tidak boleh ada korupsi. Hal itu pun sesuai dengan Pasal 71 UU SKN bahwa anggaran olahraga harus dikelola secara transparan. Faktanya, memang ada beberapa oknum pengurus olahraga yang korupsi, contohnya kasus KONI Kota Semarang. Namun, bukan berarti kasus itu lalu mengurangi political will dalam mengalokasikan anggaran olahraga.

Solusinya, membenahi manajemen organisasi cabang-cabang olahraga. Pemerintah memiliki hak dan kewajiban untuk itu, sebagaimana tercantum pada Pasal 35 UU SKN. Beberapa dekade lalu, Jateng adalah salah satu pusat atlet dengan prestasi nasional bahkan internasional. Siapa tidak mengenal Salatiga dengan atletik dan Yon Daryono-nya. Klaten lumbung atlet tenis meja dan panahan, Kudus bulutangkis. Kemanakah semua cerita itu? Artinya, gubernur dan wakilnya belum secara optimal mendorong para bupati dan wali kota menggerakkan pembangunan di bidang olahraga. Mungkin olahraga bukan bidang ”seksi” untuk digarap.

Mungkin para kepala daerah lupa bahwa membangun kualitas manusia salah satu cara efektif adalah dengan membangun olahraga. Tidak hanya raga yang terbangun, tetapi juga jiwanya. Melalui ranah olahraga pendidikan yang didesain secara efektif, peserta didik tidak hanya bergerak fisiknya, namun juga karakternya. Sikap dan perilaku fairplay, menghormati dan mematuhi aturan, mengapresiasi kemenangan, dan mengevaluasi kekalahan adalah hal-hal yang sangat mudah dibangun melalui praktik hidup dalam aktivitas olahraga. Jika menilik realitas pada saat ini, banyak sekolah tidak memiliki sarana dan prasarana olahraga memadai. Mata pelajaran olahraga hanya menjadi pelengkap.

Pada ranah olahraga rekreasi, pembangunan kualitas manusia dapat dilakukan secara efektif. Dengan berolahraga, masyarakat dapat menjaga kebugaran fisiknya, mengurangi tingkat stres, dan berinteraksi dengan sesama. Dalam sport psychology, olahraga menjadi salah satu metode terapi bagi masyarakat yang ”sakit”. Beberapa hal positif yang akan dihasilkan antara lain: olahraga sangat efektif sebagai media ”pelepasan” atas berbagai tekanan hidup. Di ranah olahraga prestasi, ada manfaat-manfaat yang akan diperoleh baik bagi atlet, masyarakat, maupun pemerintah daerah. Bagi atlet, prestasi adalah bukti aktualisasi diri atas segala potensi, kerja keras, dan usaha.

Bagi masyarakat, prestasi olahraga Jateng memunculkan rasa bangga yang menjadi modal besar bagi pemerintah untuk mengajak masyarakat turut berperan aktif menjaga, terlibat, dan membantu pembangunan yang lain. Bisa disimpulkan, pada periode 2013-2018 pembangunan bidang olahraga masih menjadi anak tiri, belum mendapat perhatian memadai. Siapa pun yang akan memimpin Jateng periode 2018-2023, kita sangat berharap bidang itu mendapatkan porsi yang seharusnya.

— Ferdinand Hindiarto, psikolog kontingen PON XIX Jateng

(►Suara Merdeka 2 Oktober 2017, http://www.suaramerdeka.com)

Kategori: , ,