Mensyukuri Hari Baru dalam Misa Alam – Kaderisasi CM #5
Senin, 9 Oktober 2017 | 8:35 WIB

Investor Daily 8_10_2017 Mensyukuri Hari Baru dalam Misa Alam

BANDUNGAN– Mengawali hari baru, hari kedua kaderisasi pengurus OMK Campus Ministry, bersama panitia – Sr. Elsa, Vio, Sisil, Ratih, Yoga dan Joyce – kami mengajak peserta untuk mengikuti "Misa Alam", Sabtu (07/10/2017).

Yang dimaksud dengan "Misa Alam" adalah merayakan Ekaristi di alam terbuka di bawah sinar Matahari pagi di antara bunga-bunga dan rerumputan. Ibadat dan Perayaan Ekaristi tidak dilaksanakan di dalam ruangan kapel atau gereja melainkan di alam terbuka.

Kami memilih salah satu lokasi di salah satu sisi halaman Wisma Buona Ventura Kampung Bandungan. Ada lorong jalan anak tangga yang lebar dan di setiap anak tangganya bisa menjadi tempat untuk duduk dengan nyaman. Di kiri dan kanan lorong itu ada bunga-bunga, rerumputan dan pepohonan. Namun kita masih bisa memandang langit biru dan menikmati hangatnya cahaya Matahari.

Kami Misa Alam menghadap ke arah Timur menyambut Matahari yang sudah terbit dan menebarkan kehangatan cahayanya. Dengan khidmat, saya mengajak mereka menyanyikan lagu, "Selamat pagi Bapa, selamat pagi Yesus, selamat pagi Roh Kudus. Terima kasih atas hari baru. Terima kasih. Kumemuji kubersyukur kumuliakan namaMu: Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Terima kasih…" Lagu itu kami nyanyikan tiga kali dengan gembira dan sukacita.

Pada bagian pengantar, saya mengajak semua peserta untuk memejamkan mata, mengatur pernafasan, dan dalam keheningan mendengarkan suara-suara alam. Ada kicau burung, suara belalang, ayam berkokok dan suara tokek silih berganti bersahutan saling mengisi. Ada suara angin mendesau. Di kejauhan terdengar suara sepeda motor, bunyi klakson, dan suara orang sedang mengecek sound system. Semua kita dengarkan dengan gembira dan penuh syukur bahw kita masih boleh mendengar suara-suara itu dengan telinga kita.

Lalu saya mengajak semua peserta masuk ke dalam keheningan lebih khusyuk lagi untuk mendengarkan suara nafas. Terlebih mendengarkan pula suara hati yang muncul. Dalam suara hati itu Tuhan hadir dan berbicara, hingga suara hati yang jernih disebut pula Suara Tuhan!

Dalam kehangatan cahaya Matahari, sambil mendengarkan suaraNya, kita rasakan kehangatan kasih dan kerahiman Tuhan yang menjamah jiwa kita yang lemah, rapuh, ringkih dan berdosa. Maka dengan penuh sesal, kita memohon ampun atas dosa kita agar layak dan pantas merayakan kasihNya dalam rasa syukur pada "Misa Alam" tersebut.

Selanjutnya, semua berjalan normal seturut tata ibadah yang seharusnya hingga akhir. Kuperhatikan, mereka sedimikian ceria menikmati kebersamaan dalam mensyukuri hari baru dalam "Misa Alam" tersebut. Bahkan mereka bernyanyi dan bergembira dengan lagu-lagu yang sudah mereka hafal diiringi alunan keyboard yang dimainkan Joyce. Suana mensyukuri hari baru dalam "Misa Alam" pun kian semarak. Puji Tuhan dan syukur kepada Allah. (bersambung #6)

(►http://id.beritasatu.com)

Kategori: