Menguji Kesaktian Pancasila dalam Konteks Keberagaman
Selasa, 3 Oktober 2017 | 9:13 WIB

Berita satu 3_10_2017 Menguji Kesaktian Pancasila dalam Konteks Keberagaman

Kuliah umum (kulum) dengan tema "Menguji Kesaktian Pancasila dalam Konteks Keberagaman" yang diselenggarakan The Soegijapranata Institute (TSI) bersinergi dengan Tim Mata Kuliah Universitas (MKU) Unika Soegijapranata berlangsung sukses.

Buktinya, hampir dua ribu mahasiswa dan dosen serta sejumlah tamu berminat mengikuti Kulum tentang Pancasila yang dilangsungkan di Sport Hall Unika Soegijapranata Semarang, Senin (2/10) tersebut.

“Kulum tentang Pancasila diperkaya oleh dua narasumber yakni Prof Dr Y Budi Widianarko MSc dan Yudi Latif MA PhD,” kata Romo Aloys Budi Purnomo Pr, Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata, moderator kulum yang disemarakkan oleh Tim Musik PELINTAS Jogya-Semarang Yunan Helmi, Rizka Ayu dan saya sendiri dengan lagu-lagu bertema Pancasila dan Kerukunan.

Saya Indonesia, saya Pancasila
Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya MSIEC, Rektor Unika Seogijapranata 2017-2021 menyambut positif kulum ini. Dalam sambutannya, Guru Besar di Bidang Sistem Informasi ini mengajak semua yang hadir meneriakkan yel-yel, "Saya Unika, saya Indonesia, saya Pancasila!"

"Penting bagi kita mengamalkan Pancasila dalam kehidupan kita bersama dalam keberagaman. Kita bersyukur bahwa semua pada akhirnya saling mengklaim sebagai saya Pancasila. Syukur pada Allah. Kita bersama melawan segala kekuatan yang hendak mengkhianati Pancasila. Kita lawan intoleransi dan radikalisme dengan kasih yang merawat dan menghargai keberagaman," kata Rektor.

Pada kesempatan itu, Rektor juga mengumumkan bahwa Unika Seogijapranata resmi menggunakan buku Pendidikan Pancasila yang ditulis oleh Albertus Istiarto & Martinus Suharsono. Dengan demikian buku tersebut juga menjadi acuan pengajaran Pancasila sebagai Mata Kuliah Universitas di Unika Soegijapranata Semarang.

Spirit Keberagaman
Mengawali kulum, sebagai moderator, Romo Budi mengajak semua yang hadir untuk sejenak menyaksikan video klip lagu "Damai dalam Cinta". Video klip ini menampilkan tokoh-tokoh lintasagama dari Yogyakarta yang menyapa dan menyanyikan lagu yang dibuat oleh Yunan Helmi.

Dalam lagu tersebut diwartakan pentingnya menghargai keberagaman. Keberagaman adalah kehendak Tuhan. Bahkan daun yang jatuh pun kehendak-Nya, apalagi keberagaman baik budaya, suku bangsa maupun agama.

Sesudah itu, Romo Budi mengundang dua narasumber untuk menyampaikan materi yang mereka persiapkan.

Mgr. Albertus Soegijapranata dan Pancasila
Narasumber pertama, Prof Dr Y Budi Widianarko MSc menghadirkan pemikiran-pemikiran dan tindakan Mgr Albertus Soegijapranata yang mencermimkan sikap Pancasilais. Sebagai Gembala Umat dan Pemimpin Soegijapranata sangat mengaplikasikan Pancasila dalam perjuangan kemerdekaan.

“Persahabatannya dengan Bung Karno dan Hatta istimewa. Sampai-sampai ketika Bung Karno-Hatta memindahkan pusat pemerintahannya ke Yogya, Mgr Soegijapranata pun memindahkan pusat pelayanannya ke Yogyakarta. Itu merupakan sebentuk belarasa sosial-politik antara Mgr. Soegija dengan Bung Karno,” paparnya.

Prof Budi juga mengajak para peserta kulum untuk mencontoh semangat Soegijapranata. Beberapa spirit Soegijapranata yang menarik misalnya: 100% Katolik, 100% Patriotik; Kembangkan talentamu untuk bangsa dan umat manusia; dan kebebasan dalam keraguan, kesatuan dalam hal-hal yang perlu, cinta kasih dalam segala hal (in dubiis libertas, in necessariis unitas, in omnibus caritas).

“Dengan semangat Soegijapranata kita terus mengalami transformasi inspiratif serta memberi inspirasi yang transformatif,” kata Prof Budi berharap.

Makna Pancasila dalam Keberagaman
Selanjutnya, Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif menyampaikan materinya.

"Panas? Panas hanya bisa diselesaikan dengan hening, fokus; bukan dengan gaduh dan keluh kesah!", kata Yudi Latif menyapa secara kontekstual sesuai suasana di.Sport Hall Unika yang panas.

Selanjutnya, Yudi Latif mengajak semua menyerukan salam, "Salam Pancasila, Salam Merdeka!" Salam.itu diucapkan dengan mengangkat telapak tangan kanan dengan posisi tegak pada Salam Pancasila dan tangan mengepal pada Salam Merdeka.

Yudi Latif juga menerangkan sejarah kemerdekaan perjuangan Bung Karno. Ia terangkan pula makna merah putih yang menjadi warna bendera kita, mulai dari yang bersifat alamiah, natural, manusiawi dan kultural.

Sebagai Kepala UKP-PIP, Yudi Latif menegaskan bahwa kerjasama dalam keberagaman membawa kemenangan Indonesia. “Contoh para pebulu tangkis kita. Meski berbeda suku dan agama, kerjasama mereka membawa kemenangan. Hal yang sama juga dalam kehidupan bersama,” ucapnya.

Menurut Yudi Latif, Unika Soegijapranata adalah miniatur Indonesia. Inilah warna keberagaman. Negeri Indonesia diwarnai keberagaman agama. Dijawab dengan sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. "Semua agama di negeri ini menyeru kepada Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri," jelasnya.

Indonesia, tandas Yudi, juga ditandai dengan keberagaman ras dan suku. Lalu siapa yang disebut orang pribumi? Perbedaan ras dan suku bersumber dari satu asal-usul. Menurut Yudi Latif, asal-usul pertama adalah Afrika. Baru kemudian dari Asia, khususnya Mongolod. Ada tiga: Asiatik Mongoloid (kulit kuning), Malayan Mongoloid (sawo matang), dan Amerikan Mongoloid (kemerah-merahan). Warna kulit berubah karena faktor cuaca, kelembaban, penetrasi perkawiman antarras. Semua itu ada di negeri ini. Dari sinilah sila kedua bisa ditempatkan untuk mewujudkan kemanusiaan yang beradab.

Dari segala keberagaman itu muncul kekayaan yang mempersatukan. Ada bermacam-macam soto. Jenisnya macam-macam tapi semua disebut soto. Contoh lain batik. Ada bermacam-macam jenis tapi semua disebut batik. Di Papua orang makan sagu. Di Jawa Sego. Di Aceh sage. Di Sunda disebut sange. Inilah dasar sila ketiga persatuan Indonesia yang paling alamiah.

Begitulah, seterusnya sila keempat: politik dan keragaman sosial sila kelima. Keberagaman itu laksana pecahan-pecahan yang menjadi utuh oleh Pancasila. Dengan Pancasila yang berbeda agama secara inklusif menjadi proses meng-Indonesia.

Yudi Latif mengakhiri kulumnya dengan menegaskan bahwa Pancasila adalah titik temu, titik pijak dan titik tuju mencapai kesejahteraan Indonesia. “Itulah sebabnya Pancasila penting dalam keberagaman. Prestasi pribadi harus menjadi jalan untuk kesejahteraan. Perlu kecerdasan kewarganegaraan Indonesia. Cinta negeri membuat kita rela menjaga tanah air. Orang yang korupsi pasti tak mencintai negeri ini," demikian Yudi Latif

Pancasila adalah Kita
Untuk menyegarkan suasana kulum, Romo Budi berkolaborasi dengan Tim PELINTAS (Yunan Helmi dan Rizka Ayu) mengajak hadirin menyanyikan lagu karya Yunan Helmi "Pancasila adalah Kita."

“Syair lagunya bagus: Pancasila adalah kita. Pancasila rumah Indonesia. Rumah bhinneka asal kekayaan. Indonesia milik kita. Pancasila adalah kita. Pancasila jiwa Indonesia. Kebanggaan sebagai satu bangsa. Kita jaga selamanya, bersama,” katanya.

Dengan iringan saksofon Romo Budi, para peserta kulum bernyanyi bersama meresapkan Pancasila adalah kita. Sesudah itu, kulum dilanjutkan dengan tanya jawab, dan penutup. Atas permintaan Kang Yudi – begitu Kepala UKP-PIP tersebut dipanggil – Romo Budi mengajak semua peserta kulum berdiri dan kembali menyerukan "Salam Pancasila, Salam Merdeka!" Kulum yang pada awalnya dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya itu ditutup dengan menyanyikan Hymne dan Mars Unika Soegijapranata.

(►http://www.beritasatu.com)

Kategori: