Memahami Dan Menguasai Financial Literacy
Jumat, 20 Oktober 2017 | 16:23 WIB

Masih memperingati Bulan Oktober sebagi Bulan Inklusi Keuangan dan Tanggal 18 Oktober sebagai hari Asuransi Nasional, Axa Insurance bekerjasama dengan Unika Soegijapranata mengadakan Seminar  Financial Literacy pada hari Rabu (18/10) bertempat di Ruang Pertemuan Gedung Mikael Lantai 4. Adapun Seminar menghadirkan pembicara Nugroho Permana Budi  sebagai Director of Investment Manager AXA Asset Management Indonesia.

Dalam sambutannya, Benny Waworuntu sebagai Chief Corporate AXA Indonesia menyampaikan bahwa banyak orang mungkin bertanya-tanya apakah kebiasaan berhutang dengan orang lain termasuk kebiasaan yang bagus atau tidak. “Pertanyaan semacam bagus atau tidaknya utang ini termasuk pertanyaan yang cukup menggelitik yang justru banyak orang tidak tahu apakah utang boleh atau tidak. Kemudian apabila bagus, seberapa bagus , seberapa besar utang tersebut dan bagaimana cara pengelolaan utang. Dalam sesi ini, selain bertujuan untuk mempelajari hal tersebut, kami bertujuan untuk memperkenalkan industry keuangan. Jadi dari sesi ini, diharapkan peserta tidak hanya diperkenalkan dengan industry keuangan tapi juga diperkenalkan tentang bagaimana cara mengelola keuangan dan seberapa pentingnya”tutur Benny.

Dalam penyampaian materinya mengenai Financial Literacy, Nugroho menyampaikan bahwa Financial Literacy merupakan kemampuan pemahaman mengenai produk keuangan dan manfaatnya beserta risikonya. “Kita tidak bisa mengatur keuangan kita, apabila kita belum mengetahui mengenai produk keuangan apa saja yang ada, apa manfaatnya dari masing-masing produk beserta risikonya, Jangan sampai kita terjebak di investasi bodong. Secara umum, investasi dapat berupa tabungan ataupun deposito. Adapula investasi saham, namun sayangnya masih banyak orang yang tidak tahu akan produk dari industry keuangan. Saham merupakan produk pasar modal paling popular. Produk pasar modal lainnya adalah Reksadana”jelas Nugroho.

Reksadana

Menurut Nugoroho, Reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi. Wadah yang dimaksud bisa berbentuk Perusahaan Reksadana ataupun Kontrak Investasi Kolektif antara Manajer Investasi dan Bank Custodian. Adapun Portofilio efek merupakan produk dari pasar modal dapat berbentuk saham, pasar uang, ataupun obligasi.

“Tugas Manajer Investasi adalah mengelola berbagai portofolio masuk dari Reksadana, bisa saja portofilio tersebut mencantumkan informasi mengenai tujuan investasi masyarakat pemodal misalnya saja investasi di saham atau obligasi? saham atau obligasi apa? Hal ini berbeda jika langsung berinvestasi di saham karena apabila investasi secara langsung maka masyarakat (investor) harus melakukan analisa pergerakan saham secara detail. Tapi memang perlu disadari, tidak semua orang punya waktu berlebih untuk menganalisa sehingga dibentuklah Perusahaan Reksadana. Dalam Reksadana, kumpulan modal dari investor dikumpulkan kemudian untuk urusan terkait jenis investasi yang diambil apakah saham atau obligasi dan saham apa yang dibeli menjadi tugas Manajer Investasi. Reksadana juga membawa beberapa keuntungan karena dalam jangka panjang hasil dari Reksadana dapat melebihi hasil dari tabungan dan deposito. Selain itu, Reksadana juga dapat melayani investasi dalam skala kecil (biaya sedikit)”tutur Nugroho.

“Berbeda dengan Tugas Manajer Investasi, Bank Custodian bertugas menyimpan uang dan asset Reksadana yang akan diinvestasikan dan setelah menentukan saham yang akan dibeli oleh Manajer Investasi, dilakukan pembayaran yang dilakukan dari pihak Bank Custodian. Bank Custodian kemudian juga check saham apa saja yang dibeli Manajer Investasi  dan pembelian dilakukan di harga berapa. Bank Custodian juga melakukan pengecekan apakah barang saham yang akan dibeli juga tersedia. Selain mengelola dana dari Reksadana, Bank Custodian juga mengelola dana dari investor. Apabila investor hendak melakukan pencairan dana, tugas Bank Custodian juga untuk mencatatnya” jelas Nugroho.

“Di Indonesia terdapat 3 jenis Reksadana antara lain : Reksadana Konvensional (paling popular), Reksadana Terstruktur dan Reksadana Penyertaan Terbatas.  Reksadana Konvensional terdiri dari 3 jenis : Reksadana Saham, dikatakan sebagai Reksadana Saham karena investasi yang ditanamkan minimal 80% di saham dan diinvestasi pada saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI); Reksadana Campuran, untuk membelinya masing-masing investasi produk keuangan (pasar uang, saham, dan obligasi) maksimal 79%; Reksadana Tetap, syarat yang harus dipenuhi  adalah investasi di obligasi sebesar 80%” tegas Nugroho. (Cal)

Kategori: ,