Generasi Centennial Dan Pendekatan Pengajarannya
Selasa, 31 Oktober 2017 | 13:10 WIB

Hampir setiap tahun Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Unika Soegijapranata selalu mengadakan Academic Recharging yang diadakan dalam bentuk seminar rutin. Pada tahun 2017, LP3 mengambil topik “Mendampingi, Membimbing, dan Memfasilitasi Generasi Z untuk Berkembang Sesuai dengan Zamannya”. Generasi Z yang menjadi topik dalam bahasan seminar merupakan representasi anak zaman “Now” yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya teknologi yang pesat.

Bersamaan dengan itu, teknologi tersebut juga memberikan dampak besar pula pada tumbuh kembang, perilaku dan kepribadian Generasi Z yang sering disebut juga sebagai Generasi Centennial. Untuk itu, seminar ini ditujukan untuk kalangan dosen Unika Soegijapranata di tengah kewajibannya sebagai seorang pendidik, juga dapat berperan sebagai pendamping mahasiswa agar dapat memanfaatkan kehadiran teknologi dalam pendekatan-pendekatan pengajarannya.

Ready for Z Generation

Seminar Pedagogi dan Andragogi Inspiratif mengambil judul “Ready for Z Generation” yang menghadirkan 2 orang narasumber yaitu Dra. Ratih Ibrahim, MM merupakan seorang psikolog sekaligus Founder Personal Growth dan Prof. Dr. F Ridwan Sanjaya, MS., IEC  yang adalah rektor Unika Soegijapranata sekaligus pakar, penulis, peneliti dan praktisi teknologi informasi.

Seminar yang diadakan pada hari Senin (30/10) di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas  Unika ini, dipenuhi oleh kurang lebih 200 pengajar atau dosen Unika Soegijapranata yang hadir untuk mendalami lebih jauh tentang berbagai cara menjalin hubungan lebih baik dengan Generasi Z yang disampaikan oleh Dra. Ratih Ibrahim. Sedangkan Prof. Ridwan Sanjaya membawakan materi yang bertujuan memperkenalkan dosen mengenai teknologi yang tepat guna memberikan pendampingan pada mahasiswa dalam aktivitasnya yang banyak berkenaan dengan teknologi.

“Ketika kita berbicara tentang generasi saat ini sejatinya menunjukkan ciri-ciri yang hampir sama dengan generasi terdahulu karena tidak ada generasi masa kini yang terputus dari generasi terdahulunya. Dan sebutan bagi generasi masa kini juga berasal dari istilah yang diberikan generasi sebelumnya. Generasi awal dimulai dari X Generation atau Generasi X yaitu generasi yang memunculkan perbedaan yang sangat mencolok dibanding generasi sebelumnya, Baby Boomers. Pada Generasi  Baby Boomers, generasi yang dihasilkan memiliki sifat pekerja keras dikarenakan mereka lahir setelah berkecamuknya Perang Dunia II dan karena semakin mapannya ekonomi, Generasi X lebih banyak memunculkan ide-ide kreatif dan cenderung memiliki ruang untuk menjadi pemberontak. Salah satu produknya pun bisa kita lihat sampai dengan hari ini dengan kemunculan internet,” jelas Ratih.

“Setelah muncul X Generation, muncullah kemudian Generasi Y dan dilanjut dengan Generasi iY (Internet Y) yang mulai masuk dalam Generasi Millenial. Karakteristik yang terbentuk dari generasi ini sejatinya hampir sama dengan Generasi X hanya saja mulai terbentuk generasi yang lebih independen dan lebih asertif. Lebih muda lagi, ada Generasi Z atau bisa disebut dengan Generasi Centennial, yang memiliki karakteristik lebih berhati-hati dibanding Generasi Y dikarenakan mereka telah belajar kesalahan yang dilakukan oleh Generasi Millenial dimana pada era Generasi Millenial krisis ekonomi pernah terjadi. Selain itu, Generasi Centennial juga dilengkapi dengan akses informasi yang Non-stop. Meskipun saat ini, Generasi Centennial memiliki  kebebasan yang lebih luas tetapi hal inilah yang membuat Centennial menjadi lebih berhati-hati dalam menentukan tujuan hidup. Saran dari saya, apabila kita menghadapi generasi ini, tantang mereka sekaligus pimpin mereka agar mereka memiliki tujuan hidup karena anak muda saat ini sangat butuh life purpose. Misalnya, kita sebagai dosen menyarankan mahasiswa untuk melanjutkan karier sebagai dosen juga harus menjelaskan mengapa harus menjadi dosen. Selain itu terhadap Generasi Centennial juga senang diperlakukan sebagai mitra (egaliter), komunikasi yang terbuka, beri umpan balik secara langsung dan perbanyak ruang diskusi,” tutur Ratih kepada peserta seminar.

Co-Creation

Dalam seminar, Prof. Ridwan menyampaikan bahan tentang Co-Creation dalam Pembelajaran Gen Z. Dalam pemberian materinya, Prof. Ridwan menjelaskan bahwa dalam dunia bisnis ada beberapa contoh pelaku Co-Creation yang bisa kita jumpai, antara lain permainan LEGO pernah membuka komunitas online yang mengajak para pecinta permainan LEGO untuk bisa berkontribusi menghasilkan idenya dimana berbagai ide ditampung melalui komunitas ini dan diberikan feedback. Bagi mereka yang tertarik dan idenya diberi nilai positif maka akan didaulat sebagai produk LEGO. Demikian juga dengan produk Co-Creation yang lain seperti dari Starbucks Idea, Parcelcopter Skyport oleh DHL, Perjanjian Inovasi dalam P&G, dan komunitas inovasi yang dikelola oleh  IKEA. Bagi Prof. Ridwan, cara-cara seperti ini cukup laku diantara Generasi Centennial.

“Dari dunia pendidikan, sumber Co-Creation yang dapat digarap bisa berupa ide, karya, ataupun dokumentasi yang dihasilkan oleh dosen ataupun mahasiswa. Salah satu contohnya sudah beberapa kali dipakai oleh dosen di Unika yaitu dengan cara merekam dan menampilkan di platform Youtube dan melakukan dokumentasi yang dapat diakses melalui gadget-nya. Bahkan ada beberapa contoh extreme misalnya saja kaum Centennial yang dipaksa “keluar” dari kampus bahkan dari suatu negara guna membuat visualisasi dari Co- Creation” jelas Prof. Ridwan.

“Unika Soegijapranata juga sudah menyediakan salah satunya, http://ebook.unika.ac.id/  sebagai salah satu bentuk Book Authoring yang memberi kesempatan kepada civitas akademika dalam menghasilkan tulisan-tulisan sesuai minat dan talentanya, yang terdistribusi secara luas sebagai salah satu bentuk  Co-Creation dalam pembelajaran. Sedangkan yang sekarang masih coba kita dorong ada juga Student Centered Learning, supaya para mahasiswa dapat menghasilkan sesuatu yang inovatif, ” pungkasnya. (Cal)

Kategori: ,