F. RIDWAN SANJAYA : Mengelola Ide, Menerapkan Teknologi
Minggu, 1 Oktober 2017 | 15:02 WIB

Bisnis Indonesia 1_10_2017 Mengelola Ide, Menerapkan Teknologi

Sistematis. Demikian kesan singkat saat bertemu dengan F. Ridwan Sanjaya, rektor baru Universitas Katolik atau Unika Soegijapranata, Semarang. Tepat di usianya yang ke-40 pada 17 Juli 2017, Guru Besar Bidang Sistem Informasi itu resmi menahkodai sivitas akademika dengan mengusung konsep pemanfaatan teknologi.

Kemutakhiran teknologi menjadi semangatnya untuk membangun lingkungan akademik yang lebih ringkas tetapi tetap optimal. “Saya seringkali menulis, teknologi bukan soal kecanggihan, tetapi bagaimana bisa menyelesaikan permasalahan. Kalau bisa memahami kebutuhan orang sekitar, teknologi menjadi jawaban bukan persoalan,” tuturnya.

Napas itu pula yang dia bawa untuk membentuk sistem informasi terarah dalam lingkungan kampus ke dunia luar. Penulis 108 buku ini menilai perkembangan zaman dengan berbagai fasilitas beraplikasi perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia, sehingga tidak gegar teknologi.

Hal itu bisa diterapkan di kampus dengan menyelaraskan diri ke arah globalisasi, yang tidak lepas dari ilmu pengetahuan terapan. “Kalau tidak disikapi, nanti akan ada gap yang cukup besar antara pendidik, pengelola universitas, dengan mereka yang ada di lingkungan ini. Maka, program Unika ke depan ada terminologinya, unikaconnect,” ujar penikmat keeksotisan wayang orang ini.

Artinya, kata dia, tidak serta-merta konsepnya tentang teknologi, tetapi filosofinya, bahwa sudah seharusnya universitas memiliki tugas menghubungkan talenta baik dosen, mahasiswa, bahkan tenaga pendukung untuk terhubung dengan kesempatan dan hal-hal baik yang ada di masyarakat.

“Bagaimana melakukan customisasi, memperlakukan individu dengan bakat dan kemampuan yang berbeda dan itu bisa dijembatani, terkoneksi dengan peluang kerja di luar. Artinya, usaha perguruan tinggi ini belum cukup, dan ada cara yang jika dihubungkan dengan teknologi akan semakin baik.”

Lulusan Summa Cum Laude PhD di Computer Information System, Assumption University Bangkok tersebut menyadari bahwa generasi kampus saat ini sudah berubah, rata-rata generasi Y yang sejak lahir sudah mengenal teknologi dan bahkan disebut penduduk digital, kaum milenial.

Atas hal itu, Ridwan mengarahkan pengembangkan beberapa platform, di antaranya yang memungkinkan mahasiswa mencatat aktivitas hardskill dan softskill yang diverifikasi fakultas, sehingga membentuk rekam jejak. Harapannya langkah itu menjadi salah satu penilaian calon pekerja ke perusahaan dan industri.

Platform tersebut terhubung dengan jejaring yang sudah ada Soegijapranata Student Carier Center yang mencakup hingga 500 perusahaan yang berkesempatan mendapatkan informasi detail mahasiswa calon pelamar dengan melihat data secara komprehensif.

Platform lain disebut dashboard; memungkinkan peserta didik mengetahui kondisi kesehatan akademis, uang perkuliahan, grafik nilai, target, lama studi, dan beberapa aktivitas kemahasiswaan yang akan terbaca berupa grafis otomatis dalam aplikasi setiap akun.

Masih berkaitan juga, kampus dalam arahannya mengembangkan aplikasi sederhana untuk orang tua yang terhubung ke universitas, sehingga bisa melihat kesehatan akademis anak, pembayaran uang kuliah, laporan kegiatan, dan real time report. “Itu semua kalau tidak ada teknologi ya susah,” ujarnya.

INOVASI

Menurut dia, dalam situasi di mana pun persaingan akan terjadi, sehingga perlu disruptive innovation yang membuat sadar atas kondisi saat ini, “yang saya lakukan bersama Unika, dengan tambahan beberapa platform itu justru sedang disruptive, ‘mengganggu dirinya’ untuk bertahan [dalam persaingan].”

Baginya, karya dan inovasi perlu terus dikembangkan secara terarah menyesuaikan dengan potensi. Sementara itu, berinovasi, baginya, membuka peluang untuk menghasilkan hal baru dari apa yang sudah dimiliki, kemudian diarahkan bermanfaat bagi sebuah sistem maupun pihak lain.

Kini dia dan jajarannya sedang mempersiapkan kampus berstandard internasional Soegijapranata University College, dengan kurikulum, orientasi magang, kuliah kerja lapangan, skripsi, dan beberapa program kampus yang mengarah kepada globalisasi.

Mengemban amanah memimpin kampus, diejawantahkannya dengan tetap mempertahankan ciri khas, kuat dalam arah dan berusaha memenuhi standard visi-misi perguruan tinggi sesuai dengan kebijakan. “Bagaimana menjadikan diri ngeli ning ora keli, ikut arus tetapi tidak hanyut.”

Rektor termuda di Jawa Tengah ini ingin tetap menjiwai dunianya, mengajar, dan sepantasnya menjadi contoh yang baik. “Di dalam perkuliahan, saya tidak bisa menghindari memotivasi dan menginspirasi. Dosen hanya cerita buku saya rasa kurang, semestinya bisa menginspirasi mahasiswa dan membuat tergerak melakukan sesuatu,” ujar pemilik julukan ‘dosen sejuta intermezzo’ itu.

Di tengah kesibukannya yang semakin rapat, penyuka gim strategi ini tetap berusaha memberikan waktu untuk keluarga, istri dan kedua anaknya. Baginya, mengoptimalkan waktu luang untuk keluarga adalah tantangan di masa penuh karya saat ini.

“Gim strategi paling menghabiskan waktu, jadi sekarang tidak berani ambil gim yang berat dan terpaksa harus kontrol diri,” kelakarnya.

(►Bisnis Indonesia 1 Oktober 2017, http://m.bisnis.com)

Kategori: ,