10 Mahasiswa Filipina Belajar di Trasty Batik Semarang
Senin, 23 Oktober 2017 | 8:41 WIB
Kylie The‎rese (20) ‎mahasiswi San Carlos University Filipina, belajar membuat batik bergambar karakter Piglet di Trasty Batik, Jalan Atmodirono Semarang, Jumat (20/10/2017).

Kylie The‎rese (20) ‎mahasiswi San Carlos University Filipina, belajar membuat batik bergambar karakter Piglet di Trasty Batik, Jalan Atmodirono Semarang, Jumat (20/10/2017).

Sedikitnya 10 mahasiswa dari San Carlos University Filipina, belajar membuat kerajinan di Trasty Batik, Jalan Atmodirono Semarang, Jumat (20/10/2017).

Menariknya, mahasiswa jurusan Entrepreneur Fakultas Bisnis yang mengikuti program pertukaran pelajar di Unika Soegijapranata tersebut ju‎ga telah merintis dan mengembangkan usahanya.

Satu di antaranya, ‎Kylie The‎rese (20) yang telah memproduksi beragam tas yang diberikan merek Raffabac.

“Saya sudah mulai membuat usaha namanya Raffabac, itu memproduksi tas selempang, punggung, dan tas laptop,” jelas dia, Jumat (20/10/2017).

Saat ini, Kylie hanya memanfaatkan media sosial untuk bisa memasarkan produk dan menjaring konsumennya.

“Saya pakai instagram untuk memasarkan produk,” ujar dia.

Di usia yang masih muda, Kylie ingin belajar mengenal beragam usaha yang ada di Indonesia.

‎Dia menjajal untuk membuat batik, dengan motif bergambar karakter piglet. Piglet merupakan karakter babi yang ada di kartun Winnie The Pooh.

“Saya membuat piglet. Pertama kalinya sulit, tapi saya senang dan suka sekali bisa membuat batik,” ujar dia.

Pemilik Trasty Batik, Natalia Sari Pujiastuti menyambut baik mahasiswa dari Filipina.

“Di sini mahasiswa belajar merajut dan membuat batik, dan saya melihat mereka antusias,” jelas dia, disela-sela acara.

Mahasiswa dari Jurusan Entrepreneur Fakultas Bisnis tersebut, diharapkan bisa belajar mengenai socialpreneur.

Pelaku UKM, kata dia, punya kewajiban memberdayakan masyarakat melalui usaha yang dikembangkan tersebut.

“Misalnya kita bekerjasama dengan ibu-ibu rumah tangga yang hasil kerajinannya kita bayar, itulah yang disebut socialpreneur,” ujar dia.

‎Salah satu mahasiswa, Mathew Laurence mengatakan, sangat senang telah beberapa hari di Indonesia dan belajar mengenai banyak hal.

Dia juga belajar mengenai socialpreneur, yakni memberdayakan masyarakat dalam kegiatan usaha.

“‎‎Saya suka dan bisa belajar menjadi entrepreneur, yang tujuannya tidak hanya uang. Tetapi tujuannya adalah orang lain,” jelas dia.

(►http://jateng.tribunnews.com)

Kategori: